Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Musik: Jan BASAJ, Marah dan Gelisah Seperti Biasanya

Dok. Pribadi Jan BASAJ "Tiada datang masa akhir bagi takdir kaumku yang akan tersingkir Tiada datang masa terang benderang jingglang aku ingin menang Era cilaka dengan konstruksi hari biasanya Inikah harmoni?  Perayaan hari besar proletar dengan anthem berjudul "LAPAR" Aku ingin bercinta agar tetap sadar, tapi bagaimana bisa berdekatan saja dilanggar, tapi kabar kampanye terlaksana secara akbar, BARBAR!  Inikah harmoni?" - HARMONI oleh Jan BASAJ      Pasca pulang kerja dibayar lelah dan kesepian, sempat juga kita dengar satu-dua unggahan nada. Satu "Harmoni", dua "Tiada Suaka di Kota". Ya, penciptanya satu nama dari kota kecil bau sampah, yang tercatat dalam sejarah orang marah dan gelisah, tak lain dan tak bukan, Jan Basaj.      Bagaimana tidak? Sejak masa kita gemar memutar-mutar gelas sloki tengah petang, cerita pengalaman masturbasi, mengepal tangan dan menyanyi, ngobrol politik hingga mendewasa kini jadi penjilat, sesungguhnya kita juga tela...

Pulang: Catatan Kecil Tentang Jember

     Kepulangan yang bermaksud mengulang usia muda -memang kehidupan begitu-begitu saja-, tumbuh di kota tua yang tidak pernah berhasil sempurna berpura-pura. Siang mendung. Burung-burung terbang berputar-putar di langit Sultan Agung, Johar Plaza, Pasar Tanjung. Wajah-wajah keriput dan jendela-jendela berdebu tampak lebih murung. Mengingat semalam makan ketan dan minum susu kemanisan di bawah jembatan kemudian membicarakan rencana-rencana yang sebenarnya mereka tahu bakal tak kesampaian.      Rasanya baru kemarin telanjang dan merasa dingin. Digambar pelukis wajah di depan sekolah. Tiga ribu rupiah dapat semangkuk mie ayam, poster film erotis gonta-ganti. Masuk angin, turun tak ingin. Toko ikan neon dan alat pancing masih tetap buka sementara air hujan bulan depan harus mengguyur daun-daun palsu, limbah masker, dan gelas plastik kopi. Menghunjam megatron, spanduk kampanye -ajakan mencuci tangan dengan senyum memuakkan-, dan baliho asuransi. Berapa nomor tel...

Sebelum Sempat Menggambar Sendiri Kota Dan Langit Tengah Malamnya

aku datang dan membaui aroma tubuhmu kau belum lama pergi mengantongi kecewa dalam saku benar kataku malam itu adalah malam tanpa keresahan meski sesekali deru kendaraan merobek sunyi dan memaksa telinganya bersembunyi di bawah kursi kayu tapi, sialan! pagar seng, dari situ ke sana mengkilap, mengkilap memantulkan berkali-kali duka kami segera lupa warna putih, hijau, debu di pintu-pintu lama malam sebelum-sebelumnya aku ingat cangkir mawar apiknya sudah mendingin sementara kau biarkan aku menciumi bibirmu yang beraroma obat kemudian turun ke leher dan pundakmu yang menghangat penjaga warung bilang, bangunan serta kenangan di balik pagar seng itu akan segera ambruk digantikan gerai-gerai dan area makan terbuka *** Warung Kopi di Jalan Trunojoyo Jember, 12 September 2020 20 April 2019 20 April 2019

Buku: Luka Kematian - Marguerite Duras

     "Kau sadar di sinilah hal itu, di dalam dirinya, luka kematian itu tengah timbul, bahwa lekuk tubuh yang terbentang di hadapanmu inilah yang menegaskan luka kematian itu".      Kemudian selesai dalam semalam membaca satu buku, pendek saja tapi benar-benar melambatkan waktu. Luka Kematian (judul asli: The Malady of Death) oleh Marguerite Duras. Kau, tokoh laki-laki,  mengisi beberapa malam bersama ia, tokoh perempuan. Duras menjarakkan diri dari mereka, menjadi aku, orang kedua di luar cerita. Sepertinya tidak ada pagi apalagi siang, hanya menjelang. Tidak berpindah ruang, tidak kehadiran tokoh figuran. Nyaris hampa tanpa suara, kecuali debur ombak laut hitam. Adegan-adegan erotis membalut tragedi "ketidakmampuan mencintai" yang dijelmakan penulis sebagai kematian.      Kau adalah kesepian, keterasingan, rasa bersalah hingga menangis terus-terusan; kematian. Sedang ia -yang beberapa kali menjadi benda secara bahasa, atau ketidakberda...

Catatan: Ibu dan Perempuan-Perempuan Lainnya

     Kabar dari ibu sungguh merusak pagi. Pekerjaan bapak adalah dokter gigi, dan sudah dua bulan jarang datang ke poli karena pandemi. Aktivitasnya hanya menangani keadaan-keadaan darurat, seperti halnya subuh tadi ia tergopoh-gopoh berangkat untuk menjalankan operasi. "Rumah sakit menghubungi. Salah seorang mahasiswi yang diampu bapak masuk UGD. Ia dihajar pacarnya sampai patah tulang rahang. Barangkali remuk".      Aku menggigil seketika. Mikrofon ponsel kujejali sumpah serapah, pada satu kesempatan marah-marah sebab mengetahui sekali lagi praktik kekerasan dalam sebuah hubungan. "Kira-kira terjadi masalah apa, sampai laki-lakinya kesetanan menghajar begitu?", tanya ibu. Tidak! Tidak tentang permasalahan yang sedang mereka berdua alami, tidak pula tentang ikut campur setan dalam kejadian ini! Sungguh identitas gender membuat bangsat itu merasa berhak mendominasi, punya kontrol atas pasangannya, berujung kekerasan pada akhirnya. Sungguh rapuh dan memalu...

Petang dan Kesempatan Untuk Menanyakan Kabar

     Kami mengamati pemandangan baru di perempatan-perempatan besar belakangan ini. Menjelang petang, muda-mudi hadir di sela-sela antrian kendaraan yang menanti lampu lalu lintas berubah warna. Mereka berjualan balon 'modern' dengan kelap-kelip LED di dalamnya. Mirip seperti yang tersedia di restoran cepat saji, hanya kelihatan sedikit lebih bagus dan tahan lama. Dari pembangunan, tren makanan dan pakaian, sampai mainan-mainan, kok ya ada-ada saja perkembangannya. Barangkali pembelinya tetap anak-anak, tapi kami ikut senyum-senyum gara-gara 'kebahagiaan' tampil mengganggu di tengah rupa-rupa para penjilat kelelahan dan hiruk pikuk kota metropolitan yang membosankan. Hiburan visual yang menjadi ironis tidak lama ketika kami mengingat satu film tentang keluarga imigran yang harus bertahan tinggal di negara pengungsian. Bapak mereka dulunya tentara perang saudara, kini malam-malam menjajakan mainan plastik dengan lampu kelap-kelip, dari kafe ke kafe. Ia pakai bando kel...

Buku: Matinya Seorang Penulis Besar - Mario Vargas Llosa

Matinya Seorang Penulis Besar, oleh Mario Vargas Llosa. Disaring dan diterjemahkan  @sastra.alibi . Esai-esai apik, tepat guna sebagai akses menyelami lebih dalam gagasan-karya sastra Amerika Latin yang sudah banyak beredar di toko buku sejak 2005-an (juga kerja Pak Ronny). Wacana yang kita tahu banyak bertemakan perjuangan, bernafaskan perlawanan-pemberontakan terhadap ketidakadilan-kediktatoran. Kalau benar gaya bercerita Vargas Llosa liris dan emosional, itu kuat mendukung tema yang dipaparkan secara detail dan kritis. 'Menjenguk Karl Marx', dalam sepi ia marah-meratap atas perubahan drastis wajah Dean Street, yang dulunya pernah tinggal seorang Marx dalam kondisi kemiskinan ekstrem -juga menjadi momen lahir karya-karyanya- kini menjelma ruang kemewahan yang dituju para borjuis London untuk berfoya-foya. 'Epitaf Untuk Sebuah Perpustakaan', teks keprihatinan mendalam terhadap sikap lembaga negara yang gagal memelihara iklim intelektual-kerja literasi. Horor p...

Rumah Tua

Aku tidak pernah tahu rumah tua itu berpenghuni atau tidak. Hanya saja, dua setengah tahun melewati jalan yang sama, tiap kali berangkat-pulang kerja, membuatku jadi perhatian terhadap satu hal. Tidak usah kau beritahu, aku mengerti bahwa itu waktu yang terlalu lama untuk bisa perhatian terhadap satu hal. Di depan halaman rumah, tepat di pinggir jalan raya, tersusun bertumpuk-tumpuk batu jenis apa saja. Batu bata, batu sungai, sampai pecahan genteng gerabah. Tumpukan itu rapi, keliling menutup tepi seolah-olah jadi pagar. Jalan raya tidak begitu lebar, seringkali padat dan macet kala pagi menuju siang, penuh rupa-rupa pekerja yang begitu membosankan. Kalau mobil sudah diam berderet-deret, banyak motor yang keluar bahu jalan mengupayakan untuk terus melaju. Kalau aku berangkat siang, kerap kutemui tumpukan batu-batu itu sudah roboh kocar-kacir. Diserempet pengendara, barangkali. Esok harinya aku berangkat pagi, batu-batu sudah tersusun rapi kembali. Begitu seterusnya. Artinya, ...

Pukul Satu

Perasaan yang sungguh aneh luar biasa, mendapati aku sendiri yang terbangun pukul satu dan bunyi jam itu. Nyatanya permainan cepat-lambat kejam sekali. Di pukul satu lalu-lalu yang tidak benar-benar jauh, gesekan batu korek api dan suara seseorang menutup sepi. Seseorang yang tidak pernah istirahat dengan kenangan atau barangkali rencananya. Seseorang yang tidak berhenti bebarengan menghibur bayangnya dalam cermin sambil mencoba memaafkan diri sendiri. Jegrek! Jegrek! Frame-frame berurutan memutar cepat, banyak hal terjadi hingga aku bayangmu, asing dengan pukul satu yang nyata sekarang ini. Tapi apa masalahnya? Abstrak yang tidur di tubuhmu rasanya membuat segalanya jadi baru. Baru yang baik dan menyenangkan, semoga benar begitu. Perjalanan berulang kesana kemari dan pembelajaran yang lucu, kembalinya orang-orang yang pantas kau percaya, obrolan tentang buku dan hal-hal lain yang juga baru. Hey, Camus barangkali tersenyum melihatmu merentangkan tangan padaku. Kau bangun pagi, ma...

Pentas

Pentas belum selesai. Aku benar-benar kelelahan. Ia berdiri sejak awal di samping kanan panggung, lekas aku hampiri lalu menangis padanya. "Mereka hadir disini, hidup dalam penderitaannya sendiri-sendiri. Aku tak sanggup menyelesaikannya. Sia-sia jerit dan kebisingan di atas panggung keterasingan ini jika bisa dipastikan berakhir disalahpahami, atau lebih lagi tanpa anggapan, tanpa anggapan". Ia diam saja. Matanya berkaca-kaca, cantik sekali. Masuk adegan terakhir setelah hampir dua jam lamanya. Make-up tebal, rambut palsu, dan kostum ketat ini benar-benar bikin gerah. Kru baru saja menyapu bonggol jagung dan arang-arang yang berserakan, menancapkan papan nama pemilik lahan di pojokan, dan menggelar tikar di atas balok bernisan serupa kuburan. Ia balik ke tirai dan mengacungkan jempol padaku. Lampu nyala, aku masuk, tokoh laki-laki masuk. "Nensi", panggilnya sambil menari-nari, mengulur waktu, membuka satu persatu kancing baju. Aku rebahan lalu ia naik ke bad...

Wabah

Beberapa waktu sudah wabah menyerang. Orang-orang kota besar membicarakan ketakutan akan rasa lapar dan banyak hal lagi. Sore tadi aku dengar mereka berkasak-kusuk usai nonton berita, barangkali perihal nestapa membayangkan tubuh-tubuh yang mati gara-gara wabah harus dikebumikan sedemikian rupa. Tidak dimandikan, tidak didoakan, tidak sempat pula dipandangi rupanya oleh keluarga dan orang-orang tersayang untuk terakhir kali. Di dalam truk bertumpuk-tumpuk, di dalam kubur bertumpuk-tumpuk. Seperti sampah, kata mereka. Dini hari di ruang tunggu stasiun, aku butuh satu-dua hisapan rokok saja. Berhenti kuteruskan sebelum merangsang rangka lemah ini minta rebah dan ambruk. Aku terpikir ibu lagi. Aku belum mengirim pesan permintaan maaf padanya atas perlakuan burukku beberapa hari lalu. Aku terpikir mereka lagi. Jika tubuh-tubuh mati memanglah sampah dan tak ada perlunya menambahkan kata 'seperti', untuk apa suatu saat nanti aku-mereka harus mendapat perlakuan-perlakuan bak obj...

Catatan: Hari Perempuan Internasional

Di dalam kamar yang paling lama saya tinggali, masih saja kuat bernaung fasisme jawa dan agama. Patriarki, dominasi laki-laki menjelma berbagai bentuk penindasan hingga perempuan-perempuannya barangkali terus menderita di sisa hidup. Lebih menyakitkan lagi karena tiap harinya saya harus melihat senyum yang pura-pura. Di dalam kamar yang lain, saya temui orang-orang banyak bicara perihal kesenian, pemikiran, ide-gagasan, hingga perlawanan. Kepul asap memenuhi ruangan, gelak tawa yang memuakkan, ternyata mereka gengsi dan bungkam kalau ada bahasan-bahasan sederhana menyangkut perempuan, kesetaraan, dan ruang aman. Di dalam kamar yang rumit berlembar-lembar, seorang istri menodongkan pistol pada pihak-pihak asuransi kesehatan, dalam kondisi si suami sakit keras dan mereka mempermainkan. Di lembar lain, seorang pelacur memberikan cara pandang baru perkara kehormatan dan kebebasan. Di dalam kamar yang intim, saya kenal perempuan-perempuan hebat dengan kisah-kisah yang hebat. Mere...

Satu Paragraf Minimal Empat Kalimat

Kau pasti bosan dengar cerita semacam ini. *** "Boleh aku minta belikan gitar? Tiap akhir pekan siang di sekolah, aku belajar." Juno kecil ketiduran sewaktu menunggu, kemudian dibangunkan kecewa. F310 punya Yamaha. Besar sekali. Tidak seperti gitar yang teman-temannya tenteng buyaran sekolah untuk mengamen setelahnya. Berminggu-minggu ia tak lagi bergairah menghadapi sabtu. Tangannya lambat meniti fret satu per satu, menunduk tak berharap jadi perhatian sang guru. Ibu bertanya melulu, "Kenapa kamu tidak pernah mau membawa bersama tasnya? Itu gitar bagus dan mahal". Pengulangan yang tidak pernah Juno jawab. Ia menggemeretakkan gigi mengingat seruan kakak-kakak kelas di seberang lapangan, "Lebih besar gitarnya ketimbang orangnya!". Juno kecil membenci gitarnya, ia sandarkan selagi menapaki usia. Cat rumah ganti-ganti warna. Orang-orangnya jarang bicara. Dari satu dua buku, Juno bisa banyak hafal lagu-lagu cinta, tapi tak tahu harus memainkanny...

Seorang Tua dan Kucing Kecil Warna Hitam

Seorang tua menulis di buku catatannya. "Berkendara menyisir malam Aku melihat kucing kecil warna hitam duduk hampir di tengah jalan duduk, bukan meraung-raung mencari ibunya, hilang arah, atau berharap keselamatan Sebentar saja bergidik membayangkan yang macam-macam Beberapa detik kasihan dan ingin meminggirkan, tapi kemudian itu kulewatkan beberapa detik lagi setelahnya Bersama kegelisahan aku lanjutkan Berkendara menyisir malam Satu, barangkali kucing kecil warna hitam itu memang ingin bunuh diri. Dua, apakah memang baiknya kucing kecil warna hitam itu segera terlindas, mati, penyet, dan masuk surga meninggalkan dunia yang menyedihkan ini? Terserah kau pilih kata apa. Menyedihkan? Membosankan? Tidak adil dan sarat penindasan? Tiga, bagaimana kelanjutannya jika aku meminggirkannya. Ia tidak jadi mati segera, meringkuk siang malam di daun-daun basah, berhadapan dengan perlakuan anak-anak Adam muasal penderitaan, malah mati perlahan karena dalam perutnya membusu...

Catatan Kemarin Tentang Musik

Satu, Dinihari hingga ke dinihari lagi, fajar lusa hingga malam kemarin, mungkin sudah seratus kali kuputar ulang Porz Goret - Yann Tiersen. Di kantor, di kedai, di rumah habis mandi. "Waktu dengar ini, kamu membayangkan apa?" Tentang perasaan kalah, jawab seorang teman. Dua, Ada satu masa, aku sering marah pada ibu. Kalau sudah begitu seakan jadi kebiasaan, mengkurep di atas kasur, aku putar Marduk (band black metal Swedia) via gadget volume penuh, kemudian gadgetnya kutaruh menempel di telingaku. Cari perhatian. Biar kelihatan marah. Entah kenapa secuil memori itu (aku dan metal) yang mengapung di permukaan, sewaktu kawan-kawan lama memulai merencanakan lagi bengok-bengok/meringkik-ringkik/bermetal-ria, via grup whatsapp sebelum bulan-bulan depan jadi pertemuan. Tiga, Ditutup dengan Nyanyian Akar Rumput. Mataku bengkak keluar bioskop. Ada adegan Sayem (Ibu Wiji Thukul) membangunkan Fajar Merah di kursi ruang tamu. Ia dekatkan wajahnya ke Fajar, mulanya bercanda, la...

Buku: Kuda Poni Merah - John Steinbeck

Hail Steinbeck. Pencerita dengan detail luar biasa. "Sebuah karya...kaya dengan rincian-rincian yang mengungkap seluk beluk kehidupan peternakan yang tentram sekaligus penuh kepekaan dalam mengulas pergolakan batin seorang bocah yang tengah mengarungi masa pendewasaan diri". Ber-setting koboi-koboian California, kita akan lekat-lebur bersama Jody, sang bocah peran utama. Merinci kembali bagaimana menjadi manusia yang baik seperti anak-anak. Berhari-hari murung di rumah dan sekolah karena kuda pemberian ayahnya sakit. Merasa kesepian usai satu malam rumahnya diinapi seorang tua yang tak dikenalnya. Lucu juga melihat bocah rajin itu mengemban tanggung jawab merawat kuda hamil. Kecemasannya menggemaskan dan mengharukan. Sampai pada upayanya mendengar cerita kakek menandakan ia begitu dewasa. Kisah tentang kasih sayang yang murni, tentang emosi, tentang dunia orang dewasa yang sibuk berkata-kata dan bertengkar, tentang mendengar dan memahami, terbagi menjadi 4 bagian yang semu...