Langsung ke konten utama

Pulang: Catatan Kecil Tentang Jember


    Kepulangan yang bermaksud mengulang usia muda -memang kehidupan begitu-begitu saja-, tumbuh di kota tua yang tidak pernah berhasil sempurna berpura-pura. Siang mendung. Burung-burung terbang berputar-putar di langit Sultan Agung, Johar Plaza, Pasar Tanjung. Wajah-wajah keriput dan jendela-jendela berdebu tampak lebih murung. Mengingat semalam makan ketan dan minum susu kemanisan di bawah jembatan kemudian membicarakan rencana-rencana yang sebenarnya mereka tahu bakal tak kesampaian.

    Rasanya baru kemarin telanjang dan merasa dingin. Digambar pelukis wajah di depan sekolah. Tiga ribu rupiah dapat semangkuk mie ayam, poster film erotis gonta-ganti. Masuk angin, turun tak ingin. Toko ikan neon dan alat pancing masih tetap buka sementara air hujan bulan depan harus mengguyur daun-daun palsu, limbah masker, dan gelas plastik kopi. Menghunjam megatron, spanduk kampanye -ajakan mencuci tangan dengan senyum memuakkan-, dan baliho asuransi. Berapa nomor telepon delivery restoran cepat saji?

    Melody dan Metal. Dua toko musik rilisan fisik yang masih saja berpandangan mata dan saling bicara, tentang pintu harmonika tua di sebelah-sebelahnya yang sudah tutup lama, juga tentang pintu-pintu tua lain yang menunggu sampai gilirannya tiba. Orang-orang itu tetap baik dan bertahan, setelah lima tahun lalu Cak Nuran menulis catatan*. Di rak kaset -Cukup! Tak perlu mendramatisir dengan tambahan ornamen sarang laba-laba-, ada 2 kaset Kid A, album pening Radiohead. Aku beli keduanya. 

"I'm not here, I'm not here,
This isn't happening
I'm not here, I'm not here",
Gumam Thom Yorke dalam How to Disappear Completely, menutup hari. 

Surabaya, 24 September 2020

*http://nuranwibisono.net/2015/02/dua-toko-kaset-terakhir-di-kota-jember/







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kota Besar

liburan kenaikan kelas lima sama seperti sebelum-sebelumnya setahun sekali naik mobil jalan-jalan ke rumah Pakde Nono di kota besar perjalanan yang melelahkan dan bikin masuk angin karena empat jam lebih jendelanya terbuka lalu pandangku teralihkan dengan megahnya baliho-baliho raksasa yang tidak pernah ada di kotaku bergambar 2 orang kaya pakai baju rapi sedang berjabat tangan ditambah tulisan bahasa inggris berbelit-belit yang tidak kumengerti artinya baliho lain bergambar mobil sedan mengkilap yang tidak pernah kulihat langsung kutebak harganya mahal sekali baliho lainnya lagi, ada yang bergambar makanan enak dengan piring besar ada yang bergambar rumah mewah dan keluarganya sedang bergandengan ada yang bertulisan angka-angka yang rumit dan nama-nama bank ada yang bergambar film-film barat yang perempuannya pakai baju seksi ada yang bergambar mahasiswa-mahasiswa ganteng dan cantik sedang belajar dan aku tidak bosan memandanginya kutebak juga, nantinya mahasiswa pa...

Catatan: Ibu dan Perempuan-Perempuan Lainnya

     Kabar dari ibu sungguh merusak pagi. Pekerjaan bapak adalah dokter gigi, dan sudah dua bulan jarang datang ke poli karena pandemi. Aktivitasnya hanya menangani keadaan-keadaan darurat, seperti halnya subuh tadi ia tergopoh-gopoh berangkat untuk menjalankan operasi. "Rumah sakit menghubungi. Salah seorang mahasiswi yang diampu bapak masuk UGD. Ia dihajar pacarnya sampai patah tulang rahang. Barangkali remuk".      Aku menggigil seketika. Mikrofon ponsel kujejali sumpah serapah, pada satu kesempatan marah-marah sebab mengetahui sekali lagi praktik kekerasan dalam sebuah hubungan. "Kira-kira terjadi masalah apa, sampai laki-lakinya kesetanan menghajar begitu?", tanya ibu. Tidak! Tidak tentang permasalahan yang sedang mereka berdua alami, tidak pula tentang ikut campur setan dalam kejadian ini! Sungguh identitas gender membuat bangsat itu merasa berhak mendominasi, punya kontrol atas pasangannya, berujung kekerasan pada akhirnya. Sungguh rapuh dan memalu...

Air Mata, Bahagia

cerpen singkat lagi.. hanya mengarang. maaf jelek. bikinnya kesusu. hehe  ************** "kita gak pernah sejalan.. met malem" putra menangis lagi. berkali-kali ia menangis saat malam tak peduli lagi bahwa ia dilahirkan sebagai lelaki badannya kurus, tapi mumpuni lengan penuh tattoo tapi hatinya yang lemah perasaannya yang lemah mengalahkan semua itu ia ingin dimengerti pemikirannya ingin dimengerti tapi apa yang ia pikirkan, tidak pernah sejalan dengan apa yang dipikirkan kekasihnya, tami. gambar, buang gambar, buang gambar, buang untuk melukiskan wajah kekasihnya pun ia tak bisa wajar kalau orang biasa tapi putra berbeda putra lebih "seniman" dibandingkan teman-temannya jika begini ? kesulitan melukiskan wajah kekasihnya yang 4 tahun dia pandang air mata ia menangis ia menangis karena ia tahu, ia lebih mudah melukiskan air mata di wajah kekasihnya yang 4 tahun ia pandang teknik melukis air mata yang sangat putra kuasai rasa sesal ...