Kepulangan yang bermaksud mengulang usia muda -memang kehidupan begitu-begitu saja-, tumbuh di kota tua yang tidak pernah berhasil sempurna berpura-pura. Siang mendung. Burung-burung terbang berputar-putar di langit Sultan Agung, Johar Plaza, Pasar Tanjung. Wajah-wajah keriput dan jendela-jendela berdebu tampak lebih murung. Mengingat semalam makan ketan dan minum susu kemanisan di bawah jembatan kemudian membicarakan rencana-rencana yang sebenarnya mereka tahu bakal tak kesampaian.
Rasanya baru kemarin telanjang dan merasa dingin. Digambar pelukis wajah di depan sekolah. Tiga ribu rupiah dapat semangkuk mie ayam, poster film erotis gonta-ganti. Masuk angin, turun tak ingin. Toko ikan neon dan alat pancing masih tetap buka sementara air hujan bulan depan harus mengguyur daun-daun palsu, limbah masker, dan gelas plastik kopi. Menghunjam megatron, spanduk kampanye -ajakan mencuci tangan dengan senyum memuakkan-, dan baliho asuransi. Berapa nomor telepon delivery restoran cepat saji?
Melody dan Metal. Dua toko musik rilisan fisik yang masih saja berpandangan mata dan saling bicara, tentang pintu harmonika tua di sebelah-sebelahnya yang sudah tutup lama, juga tentang pintu-pintu tua lain yang menunggu sampai gilirannya tiba. Orang-orang itu tetap baik dan bertahan, setelah lima tahun lalu Cak Nuran menulis catatan*. Di rak kaset -Cukup! Tak perlu mendramatisir dengan tambahan ornamen sarang laba-laba-, ada 2 kaset Kid A, album pening Radiohead. Aku beli keduanya.
*http://nuranwibisono.net/2015/02/dua-toko-kaset-terakhir-di-kota-jember/






Komentar
Posting Komentar