aku datang dan membaui aroma tubuhmu
kau belum lama pergi mengantongi kecewa dalam saku
benar kataku malam itu adalah malam tanpa keresahan
meski sesekali deru kendaraan merobek sunyi dan memaksa telinganya bersembunyi di bawah kursi kayu
tapi, sialan!
pagar seng, dari situ ke sana
mengkilap, mengkilap memantulkan berkali-kali duka
kami segera lupa warna putih, hijau, debu di pintu-pintu lama
malam sebelum-sebelumnya aku ingat
cangkir mawar apiknya sudah mendingin sementara kau biarkan aku menciumi bibirmu yang beraroma obat kemudian turun ke leher dan pundakmu yang menghangat
penjaga warung bilang, bangunan serta kenangan di balik pagar seng itu akan segera ambruk digantikan gerai-gerai dan area makan terbuka
***
Warung Kopi di Jalan Trunojoyo
Jember, 12 September 2020
![]() |
| 20 April 2019 |
![]() |
| 20 April 2019 |





Komentar
Posting Komentar