Langsung ke konten utama

Sebelum Sempat Menggambar Sendiri Kota Dan Langit Tengah Malamnya


aku datang dan membaui aroma tubuhmu
kau belum lama pergi mengantongi kecewa dalam saku
benar kataku malam itu adalah malam tanpa keresahan
meski sesekali deru kendaraan merobek sunyi dan memaksa telinganya bersembunyi di bawah kursi kayu
tapi, sialan!
pagar seng, dari situ ke sana
mengkilap, mengkilap memantulkan berkali-kali duka
kami segera lupa warna putih, hijau, debu di pintu-pintu lama

malam sebelum-sebelumnya aku ingat
cangkir mawar apiknya sudah mendingin sementara kau biarkan aku menciumi bibirmu yang beraroma obat kemudian turun ke leher dan pundakmu yang menghangat
penjaga warung bilang, bangunan serta kenangan di balik pagar seng itu akan segera ambruk digantikan gerai-gerai dan area makan terbuka

***
Warung Kopi di Jalan Trunojoyo
Jember, 12 September 2020



20 April 2019

20 April 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Klakson

     Dugaanmu cerita singkat ini mendeskripsikan penderitaan hidup di kota dan berakhir begitu-begitu saja. Tunggu. Kau harus baca. Aku akan memulainya dengan antrian panjang kendaraan para pekerja yang ingin segera pulang di lampu merah. Lampu merah yang beberapa waktu setelahnya berubah menjadi hijau tapi antrian tidak bergerak sebab dihentikan polisi dan mobil pejabat yang akan segera lewat dari jalan lainnya. Itu-itu saja? Ya, itu-itu saja. Aku berulang mengalaminya dan merasa kesal tidak dapat melakukan apa-apa. Rasa kesal yang kemudian menjadi berlipat-lipat mengetahui orang-orang juga tidak dapat melakukan apa-apa, atau malah terkesan tidak ingin sebab ekspresi mereka menunjukkan seakan tidak sedang terjadi apa-apa.      Tapi tidak, petang itu. Dari jalan Ciliwung, lampu merah berubah jadi hijau. Antrian kendaraan tidak bergerak, tapi mesinnya menderu-deru. Tiga polisi menghentikannya, mengayun-ayunkan stick berlampu. Jelas mobil pejabat akan lewat. ...

Buku: Kukila - M Aan Mansyur

"Brengsek!", kataku usai membaca 'Aku Selalu Bangun Lebih Pagi'. Aku berhadapan lagi dengan karangan Aan, yang memang seringkali membuatku mengumpat. Gejolak masa muda, ciuman, perselingkuhan, pulang kampung saat lebaran, dan kisah sederhana-rumit-dewasa lain ada dalam kumcer Kukila. Begitu harmonis perpaduan antara; tema aktual yang diusung, unsur kedaerahan Aan, cerita yang pilu (atau lucu, atau brengsek, atau mengejutkan), dan jalinan kata mind-blowing khas Aan. Tidak jarang pula ceritanya memaksaku merenung atau berdiskusi dengan diri sendiri, menghasilkan kesadaran dan upaya memahami, menghindari penilaian-penilaian. Menjadi sorotan utama kumcer ini, cerpen Kukila itu sendiri. Memakan puluhan halaman di awal, jauh lebih panjang dari 15 cerpen lainnya. Cerita cinta penuh misteri dan kejutan, alurnya mengalir nikmat, mengantarku pada kenyataan, pelajaran tentang kemanusiaan. Aku selalu mengagumi bagaimana Aan membaca kejadian/momen dengan begitu detail, dan ke...