Langsung ke konten utama

Klakson

    Dugaanmu cerita singkat ini mendeskripsikan penderitaan hidup di kota dan berakhir begitu-begitu saja. Tunggu. Kau harus baca. Aku akan memulainya dengan antrian panjang kendaraan para pekerja yang ingin segera pulang di lampu merah. Lampu merah yang beberapa waktu setelahnya berubah menjadi hijau tapi antrian tidak bergerak sebab dihentikan polisi dan mobil pejabat yang akan segera lewat dari jalan lainnya. Itu-itu saja? Ya, itu-itu saja. Aku berulang mengalaminya dan merasa kesal tidak dapat melakukan apa-apa. Rasa kesal yang kemudian menjadi berlipat-lipat mengetahui orang-orang juga tidak dapat melakukan apa-apa, atau malah terkesan tidak ingin sebab ekspresi mereka menunjukkan seakan tidak sedang terjadi apa-apa.

    Tapi tidak, petang itu. Dari jalan Ciliwung, lampu merah berubah jadi hijau. Antrian kendaraan tidak bergerak, tapi mesinnya menderu-deru. Tiga polisi menghentikannya, mengayun-ayunkan stick berlampu. Jelas mobil pejabat akan lewat. Ambulan yang mengangkut pasien kritis atau bus tahanan tidak sedarurat itu untuk sampai harus menghentikan pergerakan lalu lintas beberapa menit sebelumnya. Mesin-mesin tambah menderu. Klakson-klakson bebarengan berbunyi. Gabungan keduanya menghasilkan suara yang keras sekali. Memekakkan telinga. Dugaanmu deru mesin dan bunyi klakson yang mewakili perasaan marah atau kelelahan itu akan berhenti sebentar lagi.

    Ya, benar. Kendaraan-kendaraan satu persatu menurunkan deru mesinnya, berhenti membunyikan klaksonnya. Berpura-pura memahami. Riuh mereda. Aku menghela nafas, ikut berpura-pura memahami, hingga beberapa detik setelahnya tersadar ada satu kendaraan yang belum berhenti membunyikan klakson di garis depan. Lampu berubah jadi merah lagi. Polisi masih mengayun-ayunkan stik lampu dan menanti-menanti mobil pejabat lewat. Antrian semakin panjang di belakang. Aku mencari-cari kendaraan yang masih membunyikan klaksonnya itu, tapi tidak kelihatan. Beberapa pengemudi lain di dekatku juga celingukan mencarinya. Hey, kau menduganya? Satu kendaraan lain ikut membunyikan klaksonnya lagi. Sekarang dua kendaraan membunyikan klakson. Kendaraan pertama memancing kendaraan kedua. Tidak lama setelah itu, kendaraan ketiga, keempat, dan entah berapa lagi ikut membunyikan klaksonnya. Antrian bagian depan gaduh lagi. Lampu masih merah. Barangkali dua menit.

    Kendaraan-kendaraan yang membunyikan klakson berhenti lagi. Mobil solar yang menyumbang bunyi klakson cukup keras juga berhenti lagi. Hey, kau menduganya? Serius! satu kendaraan yang dari awal membunyikan klakson tadi belum juga berhenti. Mobil pejabat lewat. Sedan hitam dari jalan Raya Darmo. Pengiringnya 2 SUV. Lampu sirenenya kelap-kelip merah biru. Sejenak aku membayangkan perasaan pengemudi kendaraan yang tidak berhenti membunyikan klakson itu waktu melihat sedan hitam dan iring-iringannya lewat. Sejenak aku membayangkan perasaan pejabat di dalam sedan hitam itu waktu mengetahui ada kendaraan yang tidak berhenti membunyikan klakson, kalau memang mengetahui.

    Lampu sudah hijau. Bunyi klakson berhenti dan antrian perlahan bergerak. Aku dan para pekerja pulang ke rumah masing-masing, tetap menyandang status pecundang. Terima kasih sudah membaca. Tidak apa-apa jika kau tidak tertarik dengan cerita singkat di atas. Kelak, apabila aku berhasil menerbitkan buku, teks penting ini kupastikan ada di dalamnya. Sebab perlu dibaca anak-anakku.

***

Surabaya, 10 April 2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lelucon Pendek di Hamparan Salju

Maaf jelek *** Selamat pagiku untuk malaikat Manis rupamu hari ini Berbaju coklat dan mata yang sayu Semakin manis Pandangan yang tak pernah lepas darimu Melodi yang tak pernah hilang saat kau bicara denganku Parfum pun bisa mengantarku ke dimensi masa lalu Hingga tersenyum dan siap untuk melakukan sesuatu

HOMEBROKEN (Monoplay TEATER SINKRON)

Dalam sebuah kamar yang suram, tergeletak lemas seorang anak bernama Sugeng. Ia terus terdiam memandangi foto ibunya. "ayah, ibu.... apa yang aku dapatkan dari kalian.. ayah mana perhatianmu aku hidup sendiri, aku alone ibu mengapa kau meninggalkanku .. kau biarkan aku di bawah terik matahari kau biarkan aku terkena deras hujan aku harus menyalahkan siapa ? Haruskah aku menyalahkan tuhan ?! Aku menyayangimu ibu .. Tapi aku Membencimu !!!! Belum saatnya kau meninggalkanku ibu!!! Ibu jahat ! Mungkin hanya ini penenangku.. hanya ini yang aku kenal. aku sama sekali tak mengenal orang tuaku.." Dia mengeluarkan Bong, sabu-sabu dan korek api. Ia memandanginya, lalu memakainya terburu-buru. Ini bukan pertama kali Sugeng menggunakan Sabu-sabu. Ketergantungannya pada benda setan itu sudah sangat besar. 10 menit berlalu, entah kenapa sabu-sabu itu tidak membuat Sugeng tenang, malah membuat Sugeng semakin sakau. Ia sulit bernafas, kantong matanya menghitam, badanny...

Buku: Matinya Seorang Penulis Besar - Mario Vargas Llosa

Matinya Seorang Penulis Besar, oleh Mario Vargas Llosa. Disaring dan diterjemahkan  @sastra.alibi . Esai-esai apik, tepat guna sebagai akses menyelami lebih dalam gagasan-karya sastra Amerika Latin yang sudah banyak beredar di toko buku sejak 2005-an (juga kerja Pak Ronny). Wacana yang kita tahu banyak bertemakan perjuangan, bernafaskan perlawanan-pemberontakan terhadap ketidakadilan-kediktatoran. Kalau benar gaya bercerita Vargas Llosa liris dan emosional, itu kuat mendukung tema yang dipaparkan secara detail dan kritis. 'Menjenguk Karl Marx', dalam sepi ia marah-meratap atas perubahan drastis wajah Dean Street, yang dulunya pernah tinggal seorang Marx dalam kondisi kemiskinan ekstrem -juga menjadi momen lahir karya-karyanya- kini menjelma ruang kemewahan yang dituju para borjuis London untuk berfoya-foya. 'Epitaf Untuk Sebuah Perpustakaan', teks keprihatinan mendalam terhadap sikap lembaga negara yang gagal memelihara iklim intelektual-kerja literasi. Horor p...