Langsung ke konten utama

Buku: Kukila - M Aan Mansyur


"Brengsek!", kataku usai membaca 'Aku Selalu Bangun Lebih Pagi'. Aku berhadapan lagi dengan karangan Aan, yang memang seringkali membuatku mengumpat.

Gejolak masa muda, ciuman, perselingkuhan, pulang kampung saat lebaran, dan kisah sederhana-rumit-dewasa lain ada dalam kumcer Kukila. Begitu harmonis perpaduan antara; tema aktual yang diusung, unsur kedaerahan Aan, cerita yang pilu (atau lucu, atau brengsek, atau mengejutkan), dan jalinan kata mind-blowing khas Aan. Tidak jarang pula ceritanya memaksaku merenung atau berdiskusi dengan diri sendiri, menghasilkan kesadaran dan upaya memahami, menghindari penilaian-penilaian.

Menjadi sorotan utama kumcer ini, cerpen Kukila itu sendiri. Memakan puluhan halaman di awal, jauh lebih panjang dari 15 cerpen lainnya. Cerita cinta penuh misteri dan kejutan, alurnya mengalir nikmat, mengantarku pada kenyataan, pelajaran tentang kemanusiaan. Aku selalu mengagumi bagaimana Aan membaca kejadian/momen dengan begitu detail, dan kepiawaian Aan menuliskannya kembali (dalam Kukila dan lainnya). Sederhana, tapi mendalam. "Rumah sepi serupa surau tua sejak Rusdi pergi. Tawa kalian kuduga ikut terlipat di koper-koper Rusdi dan terbawa ke kota lain" (12), atau "Dan tak ada yang bisa menghiburnya, tidak juga berita kemenangan tim sepak bola Indonesia di koran harian yang datang terlalu pagi, kicau burung tetangga, suara tergesa-gesa kendaraan di depan rumah, ataupun kopi yang untuk pertama kalinya ia buat sendiri" (103).

Tidak kalah brengseknya cerpen 'Ketinggalan Pesawat', 'Celana Dalam Rahasia', 'Hujan. Deras Sekali', 'Perahu Kertas dengan Huruf-Huruf Kanji'. Kalau kesukaanku, 'Lebaran Kali ini Aku Pulang'.

Bacalah @aanmansyur. Melihat Api Bekerja, Kukila, lain-lainnya. Lewat kekuatan kata, ia memaparkan masalah sehari-hari, yang mungkin pernah kita rasakan atau sering kita abaikan. Ia begitu dekat dengan kita. Bacalah. Kalian akan suka (mengumpat).

Juga ketahuilah, terselip dalam tumpukan ribuan kata-kata, Aan sering berbisik pada kita soal kejahatan negara.

Kukila

Penulis: M. Aan Mansyur
Penerbit: GPU

#ruangbacarumpunpadi #kukila #aanmansyur

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kota Besar

liburan kenaikan kelas lima sama seperti sebelum-sebelumnya setahun sekali naik mobil jalan-jalan ke rumah Pakde Nono di kota besar perjalanan yang melelahkan dan bikin masuk angin karena empat jam lebih jendelanya terbuka lalu pandangku teralihkan dengan megahnya baliho-baliho raksasa yang tidak pernah ada di kotaku bergambar 2 orang kaya pakai baju rapi sedang berjabat tangan ditambah tulisan bahasa inggris berbelit-belit yang tidak kumengerti artinya baliho lain bergambar mobil sedan mengkilap yang tidak pernah kulihat langsung kutebak harganya mahal sekali baliho lainnya lagi, ada yang bergambar makanan enak dengan piring besar ada yang bergambar rumah mewah dan keluarganya sedang bergandengan ada yang bertulisan angka-angka yang rumit dan nama-nama bank ada yang bergambar film-film barat yang perempuannya pakai baju seksi ada yang bergambar mahasiswa-mahasiswa ganteng dan cantik sedang belajar dan aku tidak bosan memandanginya kutebak juga, nantinya mahasiswa pa...

Air Mata, Bahagia

cerpen singkat lagi.. hanya mengarang. maaf jelek. bikinnya kesusu. hehe  ************** "kita gak pernah sejalan.. met malem" putra menangis lagi. berkali-kali ia menangis saat malam tak peduli lagi bahwa ia dilahirkan sebagai lelaki badannya kurus, tapi mumpuni lengan penuh tattoo tapi hatinya yang lemah perasaannya yang lemah mengalahkan semua itu ia ingin dimengerti pemikirannya ingin dimengerti tapi apa yang ia pikirkan, tidak pernah sejalan dengan apa yang dipikirkan kekasihnya, tami. gambar, buang gambar, buang gambar, buang untuk melukiskan wajah kekasihnya pun ia tak bisa wajar kalau orang biasa tapi putra berbeda putra lebih "seniman" dibandingkan teman-temannya jika begini ? kesulitan melukiskan wajah kekasihnya yang 4 tahun dia pandang air mata ia menangis ia menangis karena ia tahu, ia lebih mudah melukiskan air mata di wajah kekasihnya yang 4 tahun ia pandang teknik melukis air mata yang sangat putra kuasai rasa sesal ...

Catatan: Ibu dan Perempuan-Perempuan Lainnya

     Kabar dari ibu sungguh merusak pagi. Pekerjaan bapak adalah dokter gigi, dan sudah dua bulan jarang datang ke poli karena pandemi. Aktivitasnya hanya menangani keadaan-keadaan darurat, seperti halnya subuh tadi ia tergopoh-gopoh berangkat untuk menjalankan operasi. "Rumah sakit menghubungi. Salah seorang mahasiswi yang diampu bapak masuk UGD. Ia dihajar pacarnya sampai patah tulang rahang. Barangkali remuk".      Aku menggigil seketika. Mikrofon ponsel kujejali sumpah serapah, pada satu kesempatan marah-marah sebab mengetahui sekali lagi praktik kekerasan dalam sebuah hubungan. "Kira-kira terjadi masalah apa, sampai laki-lakinya kesetanan menghajar begitu?", tanya ibu. Tidak! Tidak tentang permasalahan yang sedang mereka berdua alami, tidak pula tentang ikut campur setan dalam kejadian ini! Sungguh identitas gender membuat bangsat itu merasa berhak mendominasi, punya kontrol atas pasangannya, berujung kekerasan pada akhirnya. Sungguh rapuh dan memalu...