Langsung ke konten utama

Buku: Matinya Seorang Penulis Besar - Mario Vargas Llosa



Matinya Seorang Penulis Besar, oleh Mario Vargas Llosa. Disaring dan diterjemahkan @sastra.alibi. Esai-esai apik, tepat guna sebagai akses menyelami lebih dalam gagasan-karya sastra Amerika Latin yang sudah banyak beredar di toko buku sejak 2005-an (juga kerja Pak Ronny). Wacana yang kita tahu banyak bertemakan perjuangan, bernafaskan perlawanan-pemberontakan terhadap ketidakadilan-kediktatoran.

Kalau benar gaya bercerita Vargas Llosa liris dan emosional, itu kuat mendukung tema yang dipaparkan secara detail dan kritis. 'Menjenguk Karl Marx', dalam sepi ia marah-meratap atas perubahan drastis wajah Dean Street, yang dulunya pernah tinggal seorang Marx dalam kondisi kemiskinan ekstrem -juga menjadi momen lahir karya-karyanya- kini menjelma ruang kemewahan yang dituju para borjuis London untuk berfoya-foya. 'Epitaf Untuk Sebuah Perpustakaan', teks keprihatinan mendalam terhadap sikap lembaga negara yang gagal memelihara iklim intelektual-kerja literasi. Horor pemindahan ruang baca British Museum yang penuh kenangan (ia adalah pengarsip yang baik), menuju gedung baru yang "membuat orang membayangkan bank, barak, atau pembangkit listrik", ia membahasakannya, 'kejahatan memalukan'.



Beragam tema bermuara pada bagaimana sastra bekerja. Pengalaman getir, kritik tajam, pandangan mencerahkan. 'Sastra itu Api', 'Benarnya Kebohongan', 'Matinya Seorang Penulis Besar', juga lainnya. Di 'Zaman Tukang Obat', bahasa Vargas Llosa memudahkan kita memasuki pemikiran Baudrillard perihal hiperrealitas, kondisi ketidakmampuan menemukan kenyataan sejati yang teraduk dengan nyata rekaan media. Ditutup 'Peradaban Tontonan', mari menghela nafas panjang. Sungguh perjalanan melelahkan tahu bagaimana sastra hidup, mendewasa bersama tanggung jawabnya, peperangan yang telah-sedang-akan dihadapi di masa kemajuan teknologi dan rezim tirani. Fiuh.

Alih bahasa, Pak Ronny ahlinya. Diksi tepat, tiap kalimat jadi penting dicatat. Beliau tidak sekedar menerjemahkan kata, emosi turut dihadirkannya. Serius. Lembar-lembarnya berhasil melarutkan kita dalam gairah dan amarah Vargas Llosa. Dalam benci dan lelahnya. Dalam buah pikir dan harapannya. Akhir kata, kerja Vargas Llosa-Pak Ronny ini wajib baca!

Surabaya, 25 April 2020



Matinya Seorang Penulis Besar
Penulis: Mario Vargas Llosa
Penerjemah: Ronny Agustinus
Penerbit: Immortal Publisher

#matinyaseorangpenulisbesar #mariovargasllosa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Klakson

     Dugaanmu cerita singkat ini mendeskripsikan penderitaan hidup di kota dan berakhir begitu-begitu saja. Tunggu. Kau harus baca. Aku akan memulainya dengan antrian panjang kendaraan para pekerja yang ingin segera pulang di lampu merah. Lampu merah yang beberapa waktu setelahnya berubah menjadi hijau tapi antrian tidak bergerak sebab dihentikan polisi dan mobil pejabat yang akan segera lewat dari jalan lainnya. Itu-itu saja? Ya, itu-itu saja. Aku berulang mengalaminya dan merasa kesal tidak dapat melakukan apa-apa. Rasa kesal yang kemudian menjadi berlipat-lipat mengetahui orang-orang juga tidak dapat melakukan apa-apa, atau malah terkesan tidak ingin sebab ekspresi mereka menunjukkan seakan tidak sedang terjadi apa-apa.      Tapi tidak, petang itu. Dari jalan Ciliwung, lampu merah berubah jadi hijau. Antrian kendaraan tidak bergerak, tapi mesinnya menderu-deru. Tiga polisi menghentikannya, mengayun-ayunkan stick berlampu. Jelas mobil pejabat akan lewat. ...

Sejenak Menjadi Orang Paling Bahagia

sirene ambulans tanpa pasien meraung-raung mobil-mobil plat merah dan hijau mau tidak mau harus merendahkan harga dirinya beberapa kali aku merasa seperti pahlawan setelah terpaksa kuhentikan kendaraanku dan kupersilakan kendaraan lain lewat pertanyaan kulontarkan sebelum menguap bersama umpatan dan bising klakson mengapa di jalanan orang-orang mempertontonkan kuasa dan kebebasannya meyakini keputusan-keputusannya memperjuangkan hak-haknya tapi sepulangnya kembali menangis pasrah menerima nasib? kecemasan dan penderitaan kegagalan kehidupan hasrat yang sia-sia sejenak aku menjadi orang paling bahagia di tengah kemacetan jalan raya tak ada yang harus diharapkan sampai aku tak ingat untuk melihat jam tangan dan mungkin, aku punya lebih banyak waktu untuk memahami mereka *** Surabaya, 30 November 2017 Untuk adik-adikku Teater Rumpun Padi

Naik Pangkat

Ibu menyuruhku untuk belajar sehabis maghrib lalu tidur pukul sembilan Ibu akan memukul bokongku dengan penebah kalau aku terlambat pulang setelah bermain atau kalau nilai rapotku jelek atau kalau malam-malam mencuri waktu untuk menonton tv  Ibu sering menangis dan berkata padaku untuk jangan pernah menangis Ibu mengajarkanku tentang kehormatan cara memandang, bicara, berjalan dan berlaku sehormat-hormatnya Ibu sedikit bicara dan mengajarkanku tentang keyakinan memberikan pemahaman agar aku patuh dan tidak banyak bertanya Ibu membela sepenuh hati saat aku dihajar anak tetangga Berdiri dengan kekuatanku sendiri, takkan kuterima apa-apa yang mengancam keutuhan bangsa Ibu pernah menamparku saat aku berbohong telah kuhajar pula, ketika mereka memaki dan berteriak gila mengakui apa yang bukan haknya Ibu adalah orang yang ikhlas aku tidak begitu simpati pada mereka yang tersedu-sedu berpisah dengan anggota keluarganya Ibu pernah mengajarkan aku untuk tegar air mat...