Langsung ke konten utama

Rumah Tua



Aku tidak pernah tahu rumah tua itu berpenghuni atau tidak. Hanya saja, dua setengah tahun melewati jalan yang sama, tiap kali berangkat-pulang kerja, membuatku jadi perhatian terhadap satu hal. Tidak usah kau beritahu, aku mengerti bahwa itu waktu yang terlalu lama untuk bisa perhatian terhadap satu hal.

Di depan halaman rumah, tepat di pinggir jalan raya, tersusun bertumpuk-tumpuk batu jenis apa saja. Batu bata, batu sungai, sampai pecahan genteng gerabah. Tumpukan itu rapi, keliling menutup tepi seolah-olah jadi pagar. Jalan raya tidak begitu lebar, seringkali padat dan macet kala pagi menuju siang, penuh rupa-rupa pekerja yang begitu membosankan. Kalau mobil sudah diam berderet-deret, banyak motor yang keluar bahu jalan mengupayakan untuk terus melaju. Kalau aku berangkat siang, kerap kutemui tumpukan batu-batu itu sudah roboh kocar-kacir. Diserempet pengendara, barangkali. Esok harinya aku berangkat pagi, batu-batu sudah tersusun rapi kembali. Begitu seterusnya.

Artinya, batu-batu itu disusun setiap hari. Ya, aku tidak pernah tahu rumah tua itu berpenghuni atau tidak. Dua setengah tahun melewati jalan yang sama, sore-malam pun, tidak pernah kutemui juga siapa penyusunnya. Untuk apa batu-batu itu disusun keliling menutup tepi seolah-olah menjadi pagar? Prasangkaku, si penyusun tidak pernah suka dengan pengendara motor yang keluar bahu jalan dan melewati ruangnya itu tanpa permisi. Dangkal dan tidak memuaskan pembaca yang bertanya-tanya perihal eksistensi penyusun batu di tengah kesibukan masyarakat kota, ya?

Entah, hal ini kupikir mengherankan-menarik sekali. Aku membayangkan banyak perasaan. Barangkali marah. Benci. Sepi. Bosan. Perasaan-perasaan yang bisa jadi tidak pernah ada dalam diri subjek-objek yang kumaksud itu sama sekali.

Surabaya, 16 April 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kota Besar

liburan kenaikan kelas lima sama seperti sebelum-sebelumnya setahun sekali naik mobil jalan-jalan ke rumah Pakde Nono di kota besar perjalanan yang melelahkan dan bikin masuk angin karena empat jam lebih jendelanya terbuka lalu pandangku teralihkan dengan megahnya baliho-baliho raksasa yang tidak pernah ada di kotaku bergambar 2 orang kaya pakai baju rapi sedang berjabat tangan ditambah tulisan bahasa inggris berbelit-belit yang tidak kumengerti artinya baliho lain bergambar mobil sedan mengkilap yang tidak pernah kulihat langsung kutebak harganya mahal sekali baliho lainnya lagi, ada yang bergambar makanan enak dengan piring besar ada yang bergambar rumah mewah dan keluarganya sedang bergandengan ada yang bertulisan angka-angka yang rumit dan nama-nama bank ada yang bergambar film-film barat yang perempuannya pakai baju seksi ada yang bergambar mahasiswa-mahasiswa ganteng dan cantik sedang belajar dan aku tidak bosan memandanginya kutebak juga, nantinya mahasiswa pa...

CATCH A NOTHING (Indonesia & English)

Jalan yang panjang gersang hanya dapat kutatap fatamorgana organ tubuh seakan ingin berteriak lantang "aku mau mati, aku mau mati" Tatapan kosong tak kunjung usai Kakiku menyeret tak lagi lurus sekali lagi mereka berteriak "aku mau mati, aku mau mati" kecuali hati Tak mau berhenti, terus memaksa tak mau menyerah, semangat membara Padahal mereka ingin menutup mata ingin lepas dari ini, ingin bahagia kecuali hati Sampai kulihat sesosok bayangan Jarakku 1 kilometer dengannya hati memaksa kaki berjalan terengah-engah berharap disambutnya kukedipkan mata dan mendekat jarakku 2 kilometer dengannya kukedipkan mata dan mendekat jarakku 4 kilometer dengannya menjauh aku mendekat dia menjauh menjauh hingga aku terjatuh dan terbaring Long   road   arid I looked   only be   a mirage organs   of the body   as if to   scream   out loud " I   want to die ,   I   want to die " Blank stares   not end Draggi...

Tulisan Untuk Kawan

kawan, cerita yang membosankan tentang kehilangan mana ada orang yang tidak pernah? jarak adalah bagian dari perjalanan perpisahan adalah bagian dari kehidupan hari-hari lalu, kawan kasih sayang, keputusasaan, pengakuan, ketulusan, kejujuran, dan keberanian tak kurang tapi tak pernah cukup kita mainkan, mengitari tempat dan waktu dalam panggung-panggung kehidupan tiap mimik dan percakapannya berjanji tak akan pernah jauh dari permasalahan jangan dikhianati buku-buku dan kenyataan-kenyataan selalu menanti untuk dipelajari