Langsung ke konten utama

Buku: Luka Kematian - Marguerite Duras

    "Kau sadar di sinilah hal itu, di dalam dirinya, luka kematian itu tengah timbul, bahwa lekuk tubuh yang terbentang di hadapanmu inilah yang menegaskan luka kematian itu".

    Kemudian selesai dalam semalam membaca satu buku, pendek saja tapi benar-benar melambatkan waktu. Luka Kematian (judul asli: The Malady of Death) oleh Marguerite Duras. Kau, tokoh laki-laki,  mengisi beberapa malam bersama ia, tokoh perempuan. Duras menjarakkan diri dari mereka, menjadi aku, orang kedua di luar cerita. Sepertinya tidak ada pagi apalagi siang, hanya menjelang. Tidak berpindah ruang, tidak kehadiran tokoh figuran. Nyaris hampa tanpa suara, kecuali debur ombak laut hitam. Adegan-adegan erotis membalut tragedi "ketidakmampuan mencintai" yang dijelmakan penulis sebagai kematian.

    Kau adalah kesepian, keterasingan, rasa bersalah hingga menangis terus-terusan; kematian. Sedang ia -yang beberapa kali menjadi benda secara bahasa, atau ketidakberdayaan (dibolak-balik, diselubungi, dicekik, dibunuh, hingga dibuang ke laut)- adalah kehangatan. Sesuatu yang penuh. Kehidupan, atau barangkali kesimpulan. Beberapa waktu menjadi cerminan; "Ia berkata: Di sinilah aku, tepat di hadapanmu. Ayo, temukanlah dirimu sendiri".

    Kejadian berulang. Ia tertidur, kau menangis. Ia bertanya, kau tak tahu. Kau bertanya, ia berikan jawaban-jawaban mengejutkan. "Karena kau tak pernah mencintai. Kau telah mengatakan itu", "Kau akan mati karena kematian itu sendiri. Kematianmu telah dimulai", "Jangan menangis, tak ada gunanya, hentikanlah kebiasaanmu menangis untuk dirimu sendiri, tak ada gunanya", sampai-sampai tiga kali ia berkata, "orang mati adalah makhluk yang sungguh aneh".

    "Saat itu masih menjelang fajar. Saat-saat seperti itu sama luasnya seperti bentangan langit. Terlalu jauh, waktu tak bisa menemukan jalan keluarnya". Paragraf-paragrafnya serupa puisi. Terus-terusan berkaitan sejak halaman pertama, boleh juga pembaca maknai sendiri-sendiri. Tidak sekali terjadi upaya pembunuhan oleh kau (upaya membuat ia menjadi kematian, sama seperti kau), namun gagal. "...kau menyadari kekuatannya yang mengerikan, kerapuhannya, kekuatan tak tertundukkan dari kelemahannya yang tak ada bandingannya".

    Pembaca dipusingkan dialog tentang pencarian makna cinta dan tak menemukan apa-apa; definisi mencintai dan bagaimana mempraktekkannya. Tidak ada deskripsi secara eksplisit tentang itu sama sekali kecuali kejadian yang benar-benar menyadarkan bahwa kau telah-sempat-pernah merasakan cinta; kehilangan.

Surabaya, 29 Juli 2020





Luka Kematian
Penulis: Marguerite Duras
Penerjemah: Lutfi Mardiansyah
Penerbit: Trubadur

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lelucon Pendek di Hamparan Salju

Maaf jelek *** Selamat pagiku untuk malaikat Manis rupamu hari ini Berbaju coklat dan mata yang sayu Semakin manis Pandangan yang tak pernah lepas darimu Melodi yang tak pernah hilang saat kau bicara denganku Parfum pun bisa mengantarku ke dimensi masa lalu Hingga tersenyum dan siap untuk melakukan sesuatu

HOMEBROKEN (Monoplay TEATER SINKRON)

Dalam sebuah kamar yang suram, tergeletak lemas seorang anak bernama Sugeng. Ia terus terdiam memandangi foto ibunya. "ayah, ibu.... apa yang aku dapatkan dari kalian.. ayah mana perhatianmu aku hidup sendiri, aku alone ibu mengapa kau meninggalkanku .. kau biarkan aku di bawah terik matahari kau biarkan aku terkena deras hujan aku harus menyalahkan siapa ? Haruskah aku menyalahkan tuhan ?! Aku menyayangimu ibu .. Tapi aku Membencimu !!!! Belum saatnya kau meninggalkanku ibu!!! Ibu jahat ! Mungkin hanya ini penenangku.. hanya ini yang aku kenal. aku sama sekali tak mengenal orang tuaku.." Dia mengeluarkan Bong, sabu-sabu dan korek api. Ia memandanginya, lalu memakainya terburu-buru. Ini bukan pertama kali Sugeng menggunakan Sabu-sabu. Ketergantungannya pada benda setan itu sudah sangat besar. 10 menit berlalu, entah kenapa sabu-sabu itu tidak membuat Sugeng tenang, malah membuat Sugeng semakin sakau. Ia sulit bernafas, kantong matanya menghitam, badanny...

Buku: Matinya Seorang Penulis Besar - Mario Vargas Llosa

Matinya Seorang Penulis Besar, oleh Mario Vargas Llosa. Disaring dan diterjemahkan  @sastra.alibi . Esai-esai apik, tepat guna sebagai akses menyelami lebih dalam gagasan-karya sastra Amerika Latin yang sudah banyak beredar di toko buku sejak 2005-an (juga kerja Pak Ronny). Wacana yang kita tahu banyak bertemakan perjuangan, bernafaskan perlawanan-pemberontakan terhadap ketidakadilan-kediktatoran. Kalau benar gaya bercerita Vargas Llosa liris dan emosional, itu kuat mendukung tema yang dipaparkan secara detail dan kritis. 'Menjenguk Karl Marx', dalam sepi ia marah-meratap atas perubahan drastis wajah Dean Street, yang dulunya pernah tinggal seorang Marx dalam kondisi kemiskinan ekstrem -juga menjadi momen lahir karya-karyanya- kini menjelma ruang kemewahan yang dituju para borjuis London untuk berfoya-foya. 'Epitaf Untuk Sebuah Perpustakaan', teks keprihatinan mendalam terhadap sikap lembaga negara yang gagal memelihara iklim intelektual-kerja literasi. Horor p...