Langsung ke konten utama

Pentas



Pentas belum selesai. Aku benar-benar kelelahan. Ia berdiri sejak awal di samping kanan panggung, lekas aku hampiri lalu menangis padanya. "Mereka hadir disini, hidup dalam penderitaannya sendiri-sendiri. Aku tak sanggup menyelesaikannya. Sia-sia jerit dan kebisingan di atas panggung keterasingan ini jika bisa dipastikan berakhir disalahpahami, atau lebih lagi tanpa anggapan, tanpa anggapan". Ia diam saja. Matanya berkaca-kaca, cantik sekali.

Masuk adegan terakhir setelah hampir dua jam lamanya. Make-up tebal, rambut palsu, dan kostum ketat ini benar-benar bikin gerah. Kru baru saja menyapu bonggol jagung dan arang-arang yang berserakan, menancapkan papan nama pemilik lahan di pojokan, dan menggelar tikar di atas balok bernisan serupa kuburan. Ia balik ke tirai dan mengacungkan jempol padaku. Lampu nyala, aku masuk, tokoh laki-laki masuk. "Nensi", panggilnya sambil menari-nari, mengulur waktu, membuka satu persatu kancing baju. Aku rebahan lalu ia naik ke badanku. Penisku merasakan penisnya meski tersekat kain celana. Bibirnya mendekat ke bibirku, nafasnya terengah-engah menjaga jarak dan momen supaya tetap membeku. Kemudian blackout. Ya Tuhan, aku merinding dengar gemuruh di sisi gelap penonton. Mereka tertawa, bersuitan, bertepuk tangan. Ya Tuhan, kami hanya memindahkan kenyataan ke atas panggung pertunjukan. Masih saja, mereka semua pelakunya! Di luar gedung, tawa dan tepuk tangan itu akan menjelma gilotin mengerikan yang senantiasa siap sedia mengadili para pendosa.


Gedung hampir sepi, aku hampir pingsan. Teringat banyak hal. Teringat perempuan gila yang diperkosa ramai-ramai di pojokan Pasar Tanjung. Teringat waria kembang kuning, teringat kendaraan-kendaraan di Ahmad Yani yang melindas anak kucing. Teringat maling burung yang dihajar tentara sampai rontok gigi-giginya, teringat kakek tua yang bunuh diri pakai tali rafia. Aku teringat Wiji Thukul. Bersama kelompok teaternya ia belajar memasak kata, lalu ngamen puisi, lalu lari kesana-kemari, berakhir dihilangkan karena sudah lama jadi mimpi buruk rezim.


Surabaya, 27 Maret 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan: Ibu dan Perempuan-Perempuan Lainnya

     Kabar dari ibu sungguh merusak pagi. Pekerjaan bapak adalah dokter gigi, dan sudah dua bulan jarang datang ke poli karena pandemi. Aktivitasnya hanya menangani keadaan-keadaan darurat, seperti halnya subuh tadi ia tergopoh-gopoh berangkat untuk menjalankan operasi. "Rumah sakit menghubungi. Salah seorang mahasiswi yang diampu bapak masuk UGD. Ia dihajar pacarnya sampai patah tulang rahang. Barangkali remuk".      Aku menggigil seketika. Mikrofon ponsel kujejali sumpah serapah, pada satu kesempatan marah-marah sebab mengetahui sekali lagi praktik kekerasan dalam sebuah hubungan. "Kira-kira terjadi masalah apa, sampai laki-lakinya kesetanan menghajar begitu?", tanya ibu. Tidak! Tidak tentang permasalahan yang sedang mereka berdua alami, tidak pula tentang ikut campur setan dalam kejadian ini! Sungguh identitas gender membuat bangsat itu merasa berhak mendominasi, punya kontrol atas pasangannya, berujung kekerasan pada akhirnya. Sungguh rapuh dan memalu...

Rumah yang Muram

"Nanang masih seperti itu, Dik Narno?", kataku berbisik-bisik, khawatir terdengar dari kamar. "Sudah lebih baik Mas Har. Sudah banyak makan dan banyak bicara padaku di saat tertentu. Tapi kalau tidak ada siapa-siapa yang ngajak bicara ya dia tetap memilih di kamar."  " Woh , pernah mbahas nikah?" "Ya ndak pernah. Dia ya berusaha melupakan dan goblok juga kalau aku mengungkit lagi. Masak aku tanya 'sudah melupakan belum?', kan ya ndak mungkin. Kalau sudah marah bahaya." "Ya jelas, kan nurun Dik Narno." Tawa kita berdua meledak mengisi sepi sebentar. Minggu siang ini, langit kota Blora sedang mendung. Tak banyak kendaraan sliwar-sliwer memang karakter hari Minggu. Aku berkunjung ke rumah saudara jauh, Narno, setelah mendapat laporan dari mbak ku. Katanya kemarin Narno tidak bisa dihubungi sampai malam hari dan saat di telepon rumah, anaknya mengatakan Narno pergi tanpa bilang apa-apa.  Rumahnya tidak begi...

Klakson

     Dugaanmu cerita singkat ini mendeskripsikan penderitaan hidup di kota dan berakhir begitu-begitu saja. Tunggu. Kau harus baca. Aku akan memulainya dengan antrian panjang kendaraan para pekerja yang ingin segera pulang di lampu merah. Lampu merah yang beberapa waktu setelahnya berubah menjadi hijau tapi antrian tidak bergerak sebab dihentikan polisi dan mobil pejabat yang akan segera lewat dari jalan lainnya. Itu-itu saja? Ya, itu-itu saja. Aku berulang mengalaminya dan merasa kesal tidak dapat melakukan apa-apa. Rasa kesal yang kemudian menjadi berlipat-lipat mengetahui orang-orang juga tidak dapat melakukan apa-apa, atau malah terkesan tidak ingin sebab ekspresi mereka menunjukkan seakan tidak sedang terjadi apa-apa.      Tapi tidak, petang itu. Dari jalan Ciliwung, lampu merah berubah jadi hijau. Antrian kendaraan tidak bergerak, tapi mesinnya menderu-deru. Tiga polisi menghentikannya, mengayun-ayunkan stick berlampu. Jelas mobil pejabat akan lewat. ...