Langsung ke konten utama

Catatan: Hari Perempuan Internasional



Di dalam kamar yang paling lama saya tinggali, masih saja kuat bernaung fasisme jawa dan agama. Patriarki, dominasi laki-laki menjelma berbagai bentuk penindasan hingga perempuan-perempuannya barangkali terus menderita di sisa hidup. Lebih menyakitkan lagi karena tiap harinya saya harus melihat senyum yang pura-pura.

Di dalam kamar yang lain, saya temui orang-orang banyak bicara perihal kesenian, pemikiran, ide-gagasan, hingga perlawanan. Kepul asap memenuhi ruangan, gelak tawa yang memuakkan, ternyata mereka gengsi dan bungkam kalau ada bahasan-bahasan sederhana menyangkut perempuan, kesetaraan, dan ruang aman.


Di dalam kamar yang rumit berlembar-lembar, seorang istri menodongkan pistol pada pihak-pihak asuransi kesehatan, dalam kondisi si suami sakit keras dan mereka mempermainkan. Di lembar lain, seorang pelacur memberikan cara pandang baru perkara kehormatan dan kebebasan.


Di dalam kamar yang intim, saya kenal perempuan-perempuan hebat dengan kisah-kisah yang hebat. Mereka memasak, menyanyi, menulis buku dan membacakan puisi. Membuka toko, mengajar, membangun perpustakaan. Menanam, membagikan makanan dan pengetahuan, memimpin aksi, berteriak lantang di garis depan perjuangan. Hari-hari mereka bekerja untuk kebertahanan, kebermanfaatan, anak-anak generasi dan kemanusiaan.


Saya sering ditelanjangi dan dipermalukan. Malu sekali, diperbarui, dibesarkan lagi. Selamat merayakan Hari Perempuan Internasional. Maaf dan terima kasih. Hormat setinggi-tingginya untuk perempuan yang bertahan. Hormat setinggi-tingginya untuk perempuan-perempuan yang menyuarakan ketidakadilan, via kata-kata maupun turun ke jalan. Pagi ini, hari ini, hari depan.


Blora, 8 Maret 2020



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kota Besar

liburan kenaikan kelas lima sama seperti sebelum-sebelumnya setahun sekali naik mobil jalan-jalan ke rumah Pakde Nono di kota besar perjalanan yang melelahkan dan bikin masuk angin karena empat jam lebih jendelanya terbuka lalu pandangku teralihkan dengan megahnya baliho-baliho raksasa yang tidak pernah ada di kotaku bergambar 2 orang kaya pakai baju rapi sedang berjabat tangan ditambah tulisan bahasa inggris berbelit-belit yang tidak kumengerti artinya baliho lain bergambar mobil sedan mengkilap yang tidak pernah kulihat langsung kutebak harganya mahal sekali baliho lainnya lagi, ada yang bergambar makanan enak dengan piring besar ada yang bergambar rumah mewah dan keluarganya sedang bergandengan ada yang bertulisan angka-angka yang rumit dan nama-nama bank ada yang bergambar film-film barat yang perempuannya pakai baju seksi ada yang bergambar mahasiswa-mahasiswa ganteng dan cantik sedang belajar dan aku tidak bosan memandanginya kutebak juga, nantinya mahasiswa pa...

CATCH A NOTHING (Indonesia & English)

Jalan yang panjang gersang hanya dapat kutatap fatamorgana organ tubuh seakan ingin berteriak lantang "aku mau mati, aku mau mati" Tatapan kosong tak kunjung usai Kakiku menyeret tak lagi lurus sekali lagi mereka berteriak "aku mau mati, aku mau mati" kecuali hati Tak mau berhenti, terus memaksa tak mau menyerah, semangat membara Padahal mereka ingin menutup mata ingin lepas dari ini, ingin bahagia kecuali hati Sampai kulihat sesosok bayangan Jarakku 1 kilometer dengannya hati memaksa kaki berjalan terengah-engah berharap disambutnya kukedipkan mata dan mendekat jarakku 2 kilometer dengannya kukedipkan mata dan mendekat jarakku 4 kilometer dengannya menjauh aku mendekat dia menjauh menjauh hingga aku terjatuh dan terbaring Long   road   arid I looked   only be   a mirage organs   of the body   as if to   scream   out loud " I   want to die ,   I   want to die " Blank stares   not end Draggi...

Kembali

waktu tak pernah kugenggam apalagi ku sesali berdiri dan berlari tak pernah kuasa apalagi kulawan berdiri dan berlari kita bukan kita aku dan kau masih tersenyum masih bersedih masih mengingat