Di dalam kamar yang paling lama saya tinggali, masih saja kuat bernaung fasisme jawa dan agama. Patriarki, dominasi laki-laki menjelma berbagai bentuk penindasan hingga perempuan-perempuannya barangkali terus menderita di sisa hidup. Lebih menyakitkan lagi karena tiap harinya saya harus melihat senyum yang pura-pura.
Di dalam kamar yang lain, saya temui orang-orang banyak bicara perihal kesenian, pemikiran, ide-gagasan, hingga perlawanan. Kepul asap memenuhi ruangan, gelak tawa yang memuakkan, ternyata mereka gengsi dan bungkam kalau ada bahasan-bahasan sederhana menyangkut perempuan, kesetaraan, dan ruang aman.
Di dalam kamar yang rumit berlembar-lembar, seorang istri menodongkan pistol pada pihak-pihak asuransi kesehatan, dalam kondisi si suami sakit keras dan mereka mempermainkan. Di lembar lain, seorang pelacur memberikan cara pandang baru perkara kehormatan dan kebebasan.
Di dalam kamar yang intim, saya kenal perempuan-perempuan hebat dengan kisah-kisah yang hebat. Mereka memasak, menyanyi, menulis buku dan membacakan puisi. Membuka toko, mengajar, membangun perpustakaan. Menanam, membagikan makanan dan pengetahuan, memimpin aksi, berteriak lantang di garis depan perjuangan. Hari-hari mereka bekerja untuk kebertahanan, kebermanfaatan, anak-anak generasi dan kemanusiaan.
Saya sering ditelanjangi dan dipermalukan. Malu sekali, diperbarui, dibesarkan lagi. Selamat merayakan Hari Perempuan Internasional. Maaf dan terima kasih. Hormat setinggi-tingginya untuk perempuan yang bertahan. Hormat setinggi-tingginya untuk perempuan-perempuan yang menyuarakan ketidakadilan, via kata-kata maupun turun ke jalan. Pagi ini, hari ini, hari depan.
Blora, 8 Maret 2020

Komentar
Posting Komentar