Langsung ke konten utama

Pukul Satu

Perasaan yang sungguh aneh luar biasa, mendapati aku sendiri yang terbangun pukul satu dan bunyi jam itu. Nyatanya permainan cepat-lambat kejam sekali. Di pukul satu lalu-lalu yang tidak benar-benar jauh, gesekan batu korek api dan suara seseorang menutup sepi. Seseorang yang tidak pernah istirahat dengan kenangan atau barangkali rencananya. Seseorang yang tidak berhenti bebarengan menghibur bayangnya dalam cermin sambil mencoba memaafkan diri sendiri.

Jegrek! Jegrek! Frame-frame berurutan memutar cepat, banyak hal terjadi hingga aku bayangmu, asing dengan pukul satu yang nyata sekarang ini. Tapi apa masalahnya? Abstrak yang tidur di tubuhmu rasanya membuat segalanya jadi baru. Baru yang baik dan menyenangkan, semoga benar begitu. Perjalanan berulang kesana kemari dan pembelajaran yang lucu, kembalinya orang-orang yang pantas kau percaya, obrolan tentang buku dan hal-hal lain yang juga baru. Hey, Camus barangkali tersenyum melihatmu merentangkan tangan padaku.


Kau bangun pagi, makan nasi jagung, menanti pencarian ilmu dan bernyanyi lagi bersama teman-temanmu. Segeralah berakhir, pandemi.


Surabaya, 30 Maret 2020


IGTV: Pukul Satu, video oleh Cholis dan Marsetio

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lelucon Pendek di Hamparan Salju

Maaf jelek *** Selamat pagiku untuk malaikat Manis rupamu hari ini Berbaju coklat dan mata yang sayu Semakin manis Pandangan yang tak pernah lepas darimu Melodi yang tak pernah hilang saat kau bicara denganku Parfum pun bisa mengantarku ke dimensi masa lalu Hingga tersenyum dan siap untuk melakukan sesuatu

HOMEBROKEN (Monoplay TEATER SINKRON)

Dalam sebuah kamar yang suram, tergeletak lemas seorang anak bernama Sugeng. Ia terus terdiam memandangi foto ibunya. "ayah, ibu.... apa yang aku dapatkan dari kalian.. ayah mana perhatianmu aku hidup sendiri, aku alone ibu mengapa kau meninggalkanku .. kau biarkan aku di bawah terik matahari kau biarkan aku terkena deras hujan aku harus menyalahkan siapa ? Haruskah aku menyalahkan tuhan ?! Aku menyayangimu ibu .. Tapi aku Membencimu !!!! Belum saatnya kau meninggalkanku ibu!!! Ibu jahat ! Mungkin hanya ini penenangku.. hanya ini yang aku kenal. aku sama sekali tak mengenal orang tuaku.." Dia mengeluarkan Bong, sabu-sabu dan korek api. Ia memandanginya, lalu memakainya terburu-buru. Ini bukan pertama kali Sugeng menggunakan Sabu-sabu. Ketergantungannya pada benda setan itu sudah sangat besar. 10 menit berlalu, entah kenapa sabu-sabu itu tidak membuat Sugeng tenang, malah membuat Sugeng semakin sakau. Ia sulit bernafas, kantong matanya menghitam, badanny...

Buku: Matinya Seorang Penulis Besar - Mario Vargas Llosa

Matinya Seorang Penulis Besar, oleh Mario Vargas Llosa. Disaring dan diterjemahkan  @sastra.alibi . Esai-esai apik, tepat guna sebagai akses menyelami lebih dalam gagasan-karya sastra Amerika Latin yang sudah banyak beredar di toko buku sejak 2005-an (juga kerja Pak Ronny). Wacana yang kita tahu banyak bertemakan perjuangan, bernafaskan perlawanan-pemberontakan terhadap ketidakadilan-kediktatoran. Kalau benar gaya bercerita Vargas Llosa liris dan emosional, itu kuat mendukung tema yang dipaparkan secara detail dan kritis. 'Menjenguk Karl Marx', dalam sepi ia marah-meratap atas perubahan drastis wajah Dean Street, yang dulunya pernah tinggal seorang Marx dalam kondisi kemiskinan ekstrem -juga menjadi momen lahir karya-karyanya- kini menjelma ruang kemewahan yang dituju para borjuis London untuk berfoya-foya. 'Epitaf Untuk Sebuah Perpustakaan', teks keprihatinan mendalam terhadap sikap lembaga negara yang gagal memelihara iklim intelektual-kerja literasi. Horor p...