Langsung ke konten utama

Lelucon Pendek di Hamparan Salju

Maaf jelek

***

Selamat pagiku untuk malaikat
Manis rupamu hari ini
Berbaju coklat dan mata yang sayu
Semakin manis

Pandangan yang tak pernah lepas darimu
Melodi yang tak pernah hilang saat kau bicara denganku
Parfum pun bisa mengantarku ke dimensi masa lalu
Hingga tersenyum dan siap untuk melakukan sesuatu

Hingga pada saat yang tak terlupakan
Aku duduk di sampingmu tanpa jarak
Tanpa rencana
(Mungkin rencana Tuhan)
Tanpa penyusunan dialog yang seharusnya
Ditulis berlembar-lembar
Tanpa persiapan matang yang seharusnya
Dilakukan seorang pelari sprint sebulan sebelum kompetisi

"Hai..."
Sekejap Bruno Mars di depan mata menghibur kita
Menghibur jarum jam yang murung karena matinya detik
Burung-burung asal mengoceh dan tak kuhiraukan
Kucing-kucing cemburu menatap jahat dari kejauhan

Beberapa saat kau membuka bibirmu
....

Detik kembali berjalan
Sumringah ini tak kunjung hilang
Sampai seorang lelaki datang menghampiri
"Oh.. Perkenalkan.. Ini cowokku..."

***

Inspirasi dari lagu penyanyi legendaris Gombloh - Lepen

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Klakson

     Dugaanmu cerita singkat ini mendeskripsikan penderitaan hidup di kota dan berakhir begitu-begitu saja. Tunggu. Kau harus baca. Aku akan memulainya dengan antrian panjang kendaraan para pekerja yang ingin segera pulang di lampu merah. Lampu merah yang beberapa waktu setelahnya berubah menjadi hijau tapi antrian tidak bergerak sebab dihentikan polisi dan mobil pejabat yang akan segera lewat dari jalan lainnya. Itu-itu saja? Ya, itu-itu saja. Aku berulang mengalaminya dan merasa kesal tidak dapat melakukan apa-apa. Rasa kesal yang kemudian menjadi berlipat-lipat mengetahui orang-orang juga tidak dapat melakukan apa-apa, atau malah terkesan tidak ingin sebab ekspresi mereka menunjukkan seakan tidak sedang terjadi apa-apa.      Tapi tidak, petang itu. Dari jalan Ciliwung, lampu merah berubah jadi hijau. Antrian kendaraan tidak bergerak, tapi mesinnya menderu-deru. Tiga polisi menghentikannya, mengayun-ayunkan stick berlampu. Jelas mobil pejabat akan lewat. ...

Mata

Hei, Aku mencinta pada hal-hal sederhana Melihatmu menyelipkan rambut di belakang telinga karena khawatir tampak tidak cukup rapi Ah, akupun juga khawatir tulisan ini sama sekali tidak membawa arti Aku mencinta pada hal-hal sederhana Melihatmu berkenalan dengan anak kucing sambil mengomel tentang mahasiswa-mahasiswa yang begitu mencintai dirinya sendiri

Jangan Menangis, Adikku

adikku, aku pernah menceritakan padamu tentang laki-laki yang bekerja dalam dendamnya tawa dan keikhlasan menggantikan tangisnya bertindak begitu bijaksana dalam amarahnya dan kau mengaguminya aku pernah menceritakan padamu tentang perumpamaan-perumpamaan bagus milik sajak penyair besar tentang semua laku kehidupan yang saling berhubungan dan kau terus mempertanyakannya ingatkah kau adikku, aku pernah menceritakan padamu tentang buku-buku yang mengantar kita lintas waktu dan peristiwa yang memberi tahu tentang kejujuran, kekuatan, dan keberanian yang memberi tahu tentang kenyataan dan tragedi yang memberitahu bahwa kita bukan siapa-siapa bahwa kita manusia kecil yang tidak tahu apa-apa dan kau mengajakku untuk berbicara masa depan