Langsung ke konten utama

Rumah yang Muram



"Nanang masih seperti itu, Dik Narno?", kataku berbisik-bisik, khawatir terdengar dari kamar.
"Sudah lebih baik Mas Har. Sudah banyak makan dan banyak bicara padaku di saat tertentu. Tapi kalau tidak ada siapa-siapa yang ngajak bicara ya dia tetap memilih di kamar." 
"Woh, pernah mbahas nikah?"
"Ya ndak pernah. Dia ya berusaha melupakan dan goblok juga kalau aku mengungkit lagi. Masak aku tanya 'sudah melupakan belum?', kan ya ndak mungkin. Kalau sudah marah bahaya."
"Ya jelas, kan nurun Dik Narno."

Tawa kita berdua meledak mengisi sepi sebentar. Minggu siang ini, langit kota Blora sedang mendung. Tak banyak kendaraan sliwar-sliwer memang karakter hari Minggu. Aku berkunjung ke rumah saudara jauh, Narno, setelah mendapat laporan dari mbakku. Katanya kemarin Narno tidak bisa dihubungi sampai malam hari dan saat di telepon rumah, anaknya mengatakan Narno pergi tanpa bilang apa-apa. 

Rumahnya tidak begitu jauh dari rumahku. Memang kenyataannya, rumah-rumah di Blora bagian kota  tidak ada yang berjauhan karena kotanya memang kecil. sesampainya di muka gang aku harus menuntun motor puluhan meter. Didepan rumahnya ada dua kursi rotan yang kelihatan jarang diduduki. Di sebelah pintunya ada tanaman pot yang tingginya kira-kira sepaha orang dewasa. Tanahnya kering, tapi dedaunannya yang tertumpuk debu kelihatan masih hijau. "Berarti ini tanaman kuat", gumamku.  Rumah yang begitu muram ini hanya ditinggali dua orang, Narno dan putranya, Nanang. Pigora foto, vas-vas kuno, sofa dan ubin abu-abunya juga berdebu tanda jarang dibersihkan. Waktu aku datang tadi, Narno bilang 'pakai saja sandalnya'. Aku memang berniat memakainya tanpa ingin mengurangi rasa sopan, toh Narno juga memakai sandal.

Narno menyulut rokok dan menghisapnya dalam-dalam, kemudian melempar bungkusnya perlahan ke depanku. Lama aku tidak merokok sejak berkeluarga. Bungkus itu kuambil dengan niatan melihat-lihat saja. Lukisan huruf di bagian mukanya begitu bagus bertuliskan "kentjana". Aku ingat saat kecil dulu suka menggambar huruf, menuliskannya rapi-rapi di kertas waktu membuat jadwal pelajaran. huruf-huruf itu kucontoh dari bungkus rokok dan plang-plang toko. Aku benar-benar mengagumi huruf-huruf yang kubuat. Jadwal pelajaran kupajang ditembok seakan mahakarya dan kupandangi setiap hari. Tak lama batal niat melihat-melihat dan kusulut juga rokoknya. Paling tidak ini lebih menyamankan aku yang ingin memulai pokok pembicaraan.

"Kamu kemana kemarin?"
"Katanya kemarin Mbak Pipit mau kesini. Mbawakan kue kering sama ngajak jalan-jalan. Tapi kutunggu sampai sore, dia ndak datang."
"Terus? Mbak Pipit ada kerja mendadak. Pagi aku lihat suaminya ngantar ke rumah sakit. Ya mungkin operasi kecelakaan."
"Yasudah aku jalan-jalan sendiri". Nadanya kekanak-kanakan sekali. Narno membersut, seakan memaksaku mengakui bahwa tindakannya bisa diterima.
"Kemana? Naik apa? Nanang mbok tinggal sendirian di rumah. Ndak makan dia." Kutanya balik bernada baik-baik agar Narno tidak marah.
"Nanang sudah biasa. Naik motor. Nggak kemana-kemana. Ya di jalan."
"Keliling-keliling?"
"Iya. Sering begitu mas. Kalau pegel. Bisa habis bensin 20ribu."
"Hah? Edan. 2 liter lebih itu. Keliling-keliling sampai mana itu? muter seluruh Blora?", aku terkejut sambil pura-pura tertawa menyetujui. Apa yang dia lakukan tidak masuk akal.
Narno tidak menjawab. Sambil sesekali menghisap rokok dia hanya tersenyum saja, itupun sedikit. Senyum yang membenarkan diri sendiri atau tidak ada maknanya.
"Kok begitu itu kenapa?"
"Buat ngilangi pegel mas. Aku kecewa. Sudah janji tapi tidak ditepati."
"Ya harus kamu pahami to Dik Narno. Kalau ndak ada urusan, ya ndak mungkin Mbak Pipit tidak datang. Kemarin itu kan ada urusan mendadak di rumah sakit."

Kulihat wajah Narno. Tulang-tulang pipinya menonjol. Sekitar matanya menghitam kurang tidur. Raut-raut di wajahnya semakin tua dan kelelahan, tapi siang ini ia semangat sekali bercerita atau lebih tepat disebut mengeluh. Beberapa saat aku termenung. Narno memang tidak seperti orang pada umumnya. Ia pemarah berlebihan. Tapi aku merenungi masalah sederhana ini. Manusia mana yang tidak pernah kecewa? Saat SMA dulu aku pernah seharian murung karena perempuan idolaku pulang dibonceng siswa kelas lain, dan kawan-kawan jadi korban perlakuanku yang sama sekali tidak mengenakkan. Istriku memilih diam daripada marah-marah saat kecewa denganku. Lisa si ragil membanting pintu kamar saat aku dan istriku bertengkar dan saling membentak. Banyak juga puisi Rendra yang bernada kekecewaan. Mayoritas orang tidak mau bicara setelah tahu kalau dibohongi. Aku paham keadaan saat hati itu berdegup-degup menyakitkan. Tapi jika sudah berumur setua ini, seharusnya tiap orang bisa mengendalikannya. 

"Harusnya di rumah saja, ngaji, dzikir. Insyaallah bisa menenangkan hatimu."
"Iya ya. Kata Nanang juga begitu", dia terkekeh, tapi kalimat itu belum bisa dianggap sebagai penyesalan atas kebiasaannya.
"Nah, anakmu sendiri saja bilang begitu."
"Begini ini aku senang Mas. Mas Har datang, aku senang sekali. Jadi punya teman bicara, bisa bercerita kemarin-kemarin. Melegakan hatiku juga. Biar ndak sepi juga Mas."
"Mbok ya telpon kalau mau cerita. Jangan diempet-empet begitu. Eman awakmu. Gak pati sehat. Eman duitmu juga."
Tidak menggubris kata-kataku, ia malah mengajak pergi malam nanti dengan wajah lebih bersemangat lagi. "Mas, Nanti malam kita ngopi. Aku kepingin ngobrol, merokok dan minum hangat-hangat di luar". 
"Waduh, maaf dik. Aku ndak bisa pulang malam-malam. Orang rumah sedang lengkap minggu-minggu begini dan titip masakan nanti pas aku pulang."

Langit menggelap. Hari sudah sore. Sejak tadi tak kunjung hujan, dan mendung hanya membuat hawa ruangan kecil bau debu itu semakin panas saja. Mengingat belum membelikan masakan untuk makan malam dan sholat Asar, aku pamit pulang sebelum orang rumah uring-uringan. Kuperlihatkan lagak layaknya orang akan pulang. Membenarkan posisi duduk dan sabuk kemudian menggenggam kunci motor dan menggerak-gerakkannya hingga berbunyi. Narno tidak bereaksi apa-apa sehingga mau tidak mau aku yang berucap duluan.
"Aku pamit dulu dik Narno."
"Lho, masih sore mas. Habis maghrib kita ngopi dulu", jawabnya gelisah.
"Waduh, aku belum beli masakan buat nanti malam. Juga belum Asar."
"Asar disini lho mas. Di kamar". Nadanya memaksa bergaya tidak berdaya.
Aku menjawab sambil perlahan berdiri dan berharap dia juga berdiri. "walah nggak usah dik. Aku sudah ditunggu orang rumah. Kamu baik-baik ya. Banyak ngaji saja, sama dzikir. yasudah, salam ke anakmu. Assalamualaikum."

Kutuntun motor menuju depan gang perlahan. Sekali lagi kuperhatikan rumahnya yang kusam dan kesepian. Gelap sore membuat tiap-tiap bagian dari rumah itu semakin muram. Narno menjawab salamku di ambang pintu, matanya tidak tertuju padaku tapi pada ban belakang motor yang sedikit berdecit saat dituntun. Kupalingkan muka, sampai depan gang kuhidupkan motor dan kukendarai pelan-pelan di bagian pinggir jalan raya. Aku gelisah sehingga perjalananku terasa tidak enak sekali. Ya, Narno kecewa.

***

MH, 8 Juli 2017
Untuk Adik-adikku Teater Rumpun Padi      

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kota Besar

liburan kenaikan kelas lima sama seperti sebelum-sebelumnya setahun sekali naik mobil jalan-jalan ke rumah Pakde Nono di kota besar perjalanan yang melelahkan dan bikin masuk angin karena empat jam lebih jendelanya terbuka lalu pandangku teralihkan dengan megahnya baliho-baliho raksasa yang tidak pernah ada di kotaku bergambar 2 orang kaya pakai baju rapi sedang berjabat tangan ditambah tulisan bahasa inggris berbelit-belit yang tidak kumengerti artinya baliho lain bergambar mobil sedan mengkilap yang tidak pernah kulihat langsung kutebak harganya mahal sekali baliho lainnya lagi, ada yang bergambar makanan enak dengan piring besar ada yang bergambar rumah mewah dan keluarganya sedang bergandengan ada yang bertulisan angka-angka yang rumit dan nama-nama bank ada yang bergambar film-film barat yang perempuannya pakai baju seksi ada yang bergambar mahasiswa-mahasiswa ganteng dan cantik sedang belajar dan aku tidak bosan memandanginya kutebak juga, nantinya mahasiswa pa...

CATCH A NOTHING (Indonesia & English)

Jalan yang panjang gersang hanya dapat kutatap fatamorgana organ tubuh seakan ingin berteriak lantang "aku mau mati, aku mau mati" Tatapan kosong tak kunjung usai Kakiku menyeret tak lagi lurus sekali lagi mereka berteriak "aku mau mati, aku mau mati" kecuali hati Tak mau berhenti, terus memaksa tak mau menyerah, semangat membara Padahal mereka ingin menutup mata ingin lepas dari ini, ingin bahagia kecuali hati Sampai kulihat sesosok bayangan Jarakku 1 kilometer dengannya hati memaksa kaki berjalan terengah-engah berharap disambutnya kukedipkan mata dan mendekat jarakku 2 kilometer dengannya kukedipkan mata dan mendekat jarakku 4 kilometer dengannya menjauh aku mendekat dia menjauh menjauh hingga aku terjatuh dan terbaring Long   road   arid I looked   only be   a mirage organs   of the body   as if to   scream   out loud " I   want to die ,   I   want to die " Blank stares   not end Draggi...

Kembali

waktu tak pernah kugenggam apalagi ku sesali berdiri dan berlari tak pernah kuasa apalagi kulawan berdiri dan berlari kita bukan kita aku dan kau masih tersenyum masih bersedih masih mengingat