Langsung ke konten utama

Wabah


Beberapa waktu sudah wabah menyerang. Orang-orang kota besar membicarakan ketakutan akan rasa lapar dan banyak hal lagi. Sore tadi aku dengar mereka berkasak-kusuk usai nonton berita, barangkali perihal nestapa membayangkan tubuh-tubuh yang mati gara-gara wabah harus dikebumikan sedemikian rupa. Tidak dimandikan, tidak didoakan, tidak sempat pula dipandangi rupanya oleh keluarga dan orang-orang tersayang untuk terakhir kali. Di dalam truk bertumpuk-tumpuk, di dalam kubur bertumpuk-tumpuk. Seperti sampah, kata mereka.

Dini hari di ruang tunggu stasiun, aku butuh satu-dua hisapan rokok saja. Berhenti kuteruskan sebelum merangsang rangka lemah ini minta rebah dan ambruk. Aku terpikir ibu lagi. Aku belum mengirim pesan permintaan maaf padanya atas perlakuan burukku beberapa hari lalu. Aku terpikir mereka lagi. Jika tubuh-tubuh mati memanglah sampah dan tak ada perlunya menambahkan kata 'seperti', untuk apa suatu saat nanti aku-mereka harus mendapat perlakuan-perlakuan bak objek bernilai yang barangkali dianggap suatu keharusan. Baiknya kau tidak perlu sedih sama sekali sebab mengingat kota tidak henti-henti membangun apapun dan kita hanya punya gelas-gelas kecil memori.


Pagi aku sudah sampai kantor dan seorang rekan baru kali ini memutar Donna Donna-nya Sita Nursanti. Aku terpikir kebebasan, kau, dan kota kecil itu lagi. Harum petang di bawah gedung bekas bioskop yang barangkali akan membuatku benar-benar kedinginan jika tidak sedang bersama siapa-siapa. Aku terpikir mereka lagi. Onggokan daging tetaplah onggokan daging. Ia membusuk. Dipendam di makan cacing, tidak dipendam di makan burung nasar.


Surabaya, 24 Maret 2020

Pertama kali dengar Joan Baez - Donna Donna, dinyanyikan Lingkar Merimbun.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Klakson

     Dugaanmu cerita singkat ini mendeskripsikan penderitaan hidup di kota dan berakhir begitu-begitu saja. Tunggu. Kau harus baca. Aku akan memulainya dengan antrian panjang kendaraan para pekerja yang ingin segera pulang di lampu merah. Lampu merah yang beberapa waktu setelahnya berubah menjadi hijau tapi antrian tidak bergerak sebab dihentikan polisi dan mobil pejabat yang akan segera lewat dari jalan lainnya. Itu-itu saja? Ya, itu-itu saja. Aku berulang mengalaminya dan merasa kesal tidak dapat melakukan apa-apa. Rasa kesal yang kemudian menjadi berlipat-lipat mengetahui orang-orang juga tidak dapat melakukan apa-apa, atau malah terkesan tidak ingin sebab ekspresi mereka menunjukkan seakan tidak sedang terjadi apa-apa.      Tapi tidak, petang itu. Dari jalan Ciliwung, lampu merah berubah jadi hijau. Antrian kendaraan tidak bergerak, tapi mesinnya menderu-deru. Tiga polisi menghentikannya, mengayun-ayunkan stick berlampu. Jelas mobil pejabat akan lewat. ...

Sejenak Menjadi Orang Paling Bahagia

sirene ambulans tanpa pasien meraung-raung mobil-mobil plat merah dan hijau mau tidak mau harus merendahkan harga dirinya beberapa kali aku merasa seperti pahlawan setelah terpaksa kuhentikan kendaraanku dan kupersilakan kendaraan lain lewat pertanyaan kulontarkan sebelum menguap bersama umpatan dan bising klakson mengapa di jalanan orang-orang mempertontonkan kuasa dan kebebasannya meyakini keputusan-keputusannya memperjuangkan hak-haknya tapi sepulangnya kembali menangis pasrah menerima nasib? kecemasan dan penderitaan kegagalan kehidupan hasrat yang sia-sia sejenak aku menjadi orang paling bahagia di tengah kemacetan jalan raya tak ada yang harus diharapkan sampai aku tak ingat untuk melihat jam tangan dan mungkin, aku punya lebih banyak waktu untuk memahami mereka *** Surabaya, 30 November 2017 Untuk adik-adikku Teater Rumpun Padi

Naik Pangkat

Ibu menyuruhku untuk belajar sehabis maghrib lalu tidur pukul sembilan Ibu akan memukul bokongku dengan penebah kalau aku terlambat pulang setelah bermain atau kalau nilai rapotku jelek atau kalau malam-malam mencuri waktu untuk menonton tv  Ibu sering menangis dan berkata padaku untuk jangan pernah menangis Ibu mengajarkanku tentang kehormatan cara memandang, bicara, berjalan dan berlaku sehormat-hormatnya Ibu sedikit bicara dan mengajarkanku tentang keyakinan memberikan pemahaman agar aku patuh dan tidak banyak bertanya Ibu membela sepenuh hati saat aku dihajar anak tetangga Berdiri dengan kekuatanku sendiri, takkan kuterima apa-apa yang mengancam keutuhan bangsa Ibu pernah menamparku saat aku berbohong telah kuhajar pula, ketika mereka memaki dan berteriak gila mengakui apa yang bukan haknya Ibu adalah orang yang ikhlas aku tidak begitu simpati pada mereka yang tersedu-sedu berpisah dengan anggota keluarganya Ibu pernah mengajarkan aku untuk tegar air mat...