Langsung ke konten utama

HOMEBROKEN (Monoplay TEATER SINKRON)

Dalam sebuah kamar yang suram, tergeletak lemas seorang anak bernama Sugeng. Ia terus terdiam memandangi foto ibunya.

"ayah, ibu....
apa yang aku dapatkan dari kalian..
ayah
mana perhatianmu
aku hidup sendiri, aku alone
ibu
mengapa kau meninggalkanku ..
kau biarkan aku di bawah terik matahari
kau biarkan aku terkena deras hujan
aku harus menyalahkan siapa ?
Haruskah aku menyalahkan tuhan ?!
Aku menyayangimu ibu ..
Tapi aku Membencimu !!!!
Belum saatnya kau meninggalkanku ibu!!! Ibu jahat !

Mungkin hanya ini penenangku.. hanya ini yang aku kenal.
aku sama sekali tak mengenal orang tuaku.."

Dia mengeluarkan Bong, sabu-sabu dan korek api. Ia memandanginya, lalu memakainya terburu-buru.
Ini bukan pertama kali Sugeng menggunakan Sabu-sabu. Ketergantungannya pada benda setan itu sudah sangat besar.

10 menit berlalu, entah kenapa sabu-sabu itu tidak membuat Sugeng tenang, malah membuat Sugeng semakin sakau. Ia sulit bernafas, kantong matanya menghitam, badannya kedinginan.

Saat itu juga ayahnya yang sibuk, jarang memberikan perhatian masuk mendapati keadaan Sugeng yang seperti itu. Ia menemukan bong dan segera mengetahui semua yang terjadi.

"Sugeng
Kamu memakai narkoba ?!
Siapa yang mengajarimu semua ini ?
Sia-sia !!
Sia sia aku menyekolahkanmu ! Sia-sia aku mendidikmu !
Kenapa kau pakai narkoba ?
Mau jadi apa kamu Sugeng ?
Kamu merusak dirimu Sendiri, kamu mempermalukan nama bapak !!
Goblok kamu sugeng !!!"

"Aku butuh perhatian bapak.. aku juga merindukan ibu..", sugeng memaksa berkata.

Ayahnya terpaku, sebentar, lalu melihat foto istrinya tergeletak di sebelah Sugeng. Ia mengambilnya.

"aku juga merindukan ibumu
Dulu ibumu istri yang baik bagimu
ibu yang sangat bijaksana
ia sangat menyayangimu"

Ayah mulai meneteskan air mata.

"2 tahun yang lalu, ibumu pergi meninggalkan kita. Bersama pria lain !
Entah kenapa nak.
Aku kurang apa ?
semua sudah kuberikan pada ibumu..
Harta, uang, kasih sayang, semua sudah kuberikan.
Tapi ibumu tak mau mengerti. Ujarnya aku kurang perhatian
Padahal semua ini, kesibukanku ini, untuk Kamu ! untuk ibumu !
Aku sibuk untuk mencari uang
Aku sibuk untuk memenuhi kebutuhan keluarga
mengapa semua jadi seperti ini !!
Jangankah kau seperti ibumu nak !
Mengertilah !

Ayahnya terbawa emosi dan otaknya dipenuhi masa lalu yang suram dan menyakitkan dengan istrinya. Sehingga ia tak menghiraukan panggilan pelan sugeng.

"ayah"

Sugeng kolaps

"ayah"

Kejang sugeng semakin parah. Beberapa menit kemudian Sugeng tak kuat dan menghembuskan nafas terakhirnya. Saat ayahnya tersadar dan menoleh,

"SUGENG !!
SUGENG!! BANGUN SUGENG ! BANGUN NAK !
Nak ! bangunlah. Kenapa kau meninggalkanku ?!!!!
Kau tak jauh berbeda dengan ibumu !! Bangun Sugeng !
Kau tak boleh meninggalkanku ! cukup ibumu Sugeng ! Cukup!
Sugeng ! bangun nak !"

Setelah ayahnya mulai percaya Sugeng telah mati

"Kenapa ?! !  Kenapa !
Kenapa ! Kenapa semua ini terjadi !!
Kenapa kau harus meninggalkanku !
KENAPA !!!!!!!!!!!!!!!!!
TUHAN !!!!!!!!! MENGAPA KAU LAKUKAN SEMUA INI PADAKU !!!!!!!

Ayahnya terpuruk, tertunduk penuh rasa bersalah. Karena kurangnya perhatian dari seorang ayah, semua ini bisa terjadi.

---------------------------------------------------------------------------------------------

Sutradara : Rifky Eko Setiawan
Aktor : Marsetio Hariadi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan: Ibu dan Perempuan-Perempuan Lainnya

     Kabar dari ibu sungguh merusak pagi. Pekerjaan bapak adalah dokter gigi, dan sudah dua bulan jarang datang ke poli karena pandemi. Aktivitasnya hanya menangani keadaan-keadaan darurat, seperti halnya subuh tadi ia tergopoh-gopoh berangkat untuk menjalankan operasi. "Rumah sakit menghubungi. Salah seorang mahasiswi yang diampu bapak masuk UGD. Ia dihajar pacarnya sampai patah tulang rahang. Barangkali remuk".      Aku menggigil seketika. Mikrofon ponsel kujejali sumpah serapah, pada satu kesempatan marah-marah sebab mengetahui sekali lagi praktik kekerasan dalam sebuah hubungan. "Kira-kira terjadi masalah apa, sampai laki-lakinya kesetanan menghajar begitu?", tanya ibu. Tidak! Tidak tentang permasalahan yang sedang mereka berdua alami, tidak pula tentang ikut campur setan dalam kejadian ini! Sungguh identitas gender membuat bangsat itu merasa berhak mendominasi, punya kontrol atas pasangannya, berujung kekerasan pada akhirnya. Sungguh rapuh dan memalu...

Rumah yang Muram

"Nanang masih seperti itu, Dik Narno?", kataku berbisik-bisik, khawatir terdengar dari kamar. "Sudah lebih baik Mas Har. Sudah banyak makan dan banyak bicara padaku di saat tertentu. Tapi kalau tidak ada siapa-siapa yang ngajak bicara ya dia tetap memilih di kamar."  " Woh , pernah mbahas nikah?" "Ya ndak pernah. Dia ya berusaha melupakan dan goblok juga kalau aku mengungkit lagi. Masak aku tanya 'sudah melupakan belum?', kan ya ndak mungkin. Kalau sudah marah bahaya." "Ya jelas, kan nurun Dik Narno." Tawa kita berdua meledak mengisi sepi sebentar. Minggu siang ini, langit kota Blora sedang mendung. Tak banyak kendaraan sliwar-sliwer memang karakter hari Minggu. Aku berkunjung ke rumah saudara jauh, Narno, setelah mendapat laporan dari mbak ku. Katanya kemarin Narno tidak bisa dihubungi sampai malam hari dan saat di telepon rumah, anaknya mengatakan Narno pergi tanpa bilang apa-apa.  Rumahnya tidak begi...

Klakson

     Dugaanmu cerita singkat ini mendeskripsikan penderitaan hidup di kota dan berakhir begitu-begitu saja. Tunggu. Kau harus baca. Aku akan memulainya dengan antrian panjang kendaraan para pekerja yang ingin segera pulang di lampu merah. Lampu merah yang beberapa waktu setelahnya berubah menjadi hijau tapi antrian tidak bergerak sebab dihentikan polisi dan mobil pejabat yang akan segera lewat dari jalan lainnya. Itu-itu saja? Ya, itu-itu saja. Aku berulang mengalaminya dan merasa kesal tidak dapat melakukan apa-apa. Rasa kesal yang kemudian menjadi berlipat-lipat mengetahui orang-orang juga tidak dapat melakukan apa-apa, atau malah terkesan tidak ingin sebab ekspresi mereka menunjukkan seakan tidak sedang terjadi apa-apa.      Tapi tidak, petang itu. Dari jalan Ciliwung, lampu merah berubah jadi hijau. Antrian kendaraan tidak bergerak, tapi mesinnya menderu-deru. Tiga polisi menghentikannya, mengayun-ayunkan stick berlampu. Jelas mobil pejabat akan lewat. ...