Tulisan ini adalah buah karya dari teman saya dari TEATER SINKRON, Ghaib Hairul Pamungkas.
Sebilah pedang tersarung di pinggul
pistol berjejeran di dekatnya
bintang-bintang pun melekat didadanya
dirimu bagai batu karang
kokoh amat tak tertandingi
tak mudah ditumbangkan
namun seiring waktu
percikan air menetes dari langit biru
perlahan melubangi karang itu
perlahan hembusan angin menerpa
menggoyahkannya
percikan air itu membentuk lubang mungil
lubang, lubang, lubang
perlahan-lahan makin membesar
mengikis kokohnya karang itu
serta merta semilir angin
kencang menghempaskan
meluluh lantakkan
tak pelak itu yang dirimu rasakan
dirimu termakan usia
Itulah
itulah dirimu jenderal
kini engkau tak mampu mengangkat senjata
maupun hanya butiran timah
keperkasaannya memudar
hanya puing puing karang yang tersisa
bahkan kawan kawan seperjuangan berpaling
menjauh
hilang bak ditelan malam
oh..
betapa malangnya dirimu jenderal
tak jauh beda, dariku
Sebilah pedang tersarung di pinggul
pistol berjejeran di dekatnya
bintang-bintang pun melekat didadanya
dirimu bagai batu karang
kokoh amat tak tertandingi
tak mudah ditumbangkan
namun seiring waktu
percikan air menetes dari langit biru
perlahan melubangi karang itu
perlahan hembusan angin menerpa
menggoyahkannya
percikan air itu membentuk lubang mungil
lubang, lubang, lubang
perlahan-lahan makin membesar
mengikis kokohnya karang itu
serta merta semilir angin
kencang menghempaskan
meluluh lantakkan
tak pelak itu yang dirimu rasakan
dirimu termakan usia
Itulah
itulah dirimu jenderal
kini engkau tak mampu mengangkat senjata
maupun hanya butiran timah
keperkasaannya memudar
hanya puing puing karang yang tersisa
bahkan kawan kawan seperjuangan berpaling
menjauh
hilang bak ditelan malam
oh..
betapa malangnya dirimu jenderal
tak jauh beda, dariku
Komentar
Posting Komentar