Langsung ke konten utama

ANAK BODOH ITU

Gagahnya harimau muda itu
Namun tak kuasa membengkokkan jeruji
ia ingin menatap belantara
ia ingin melihat nirwana
ia ingin menghirup surga
ia ingin menangis
tapi tak bisa

Anak itu kesulitan menjalani hidup
yang memang harus dijalani
hatinya terus berjalan, penuh luka
bibirnya memang terjahit
namun bisa sedikit terbuka

pikirannya salah
tapi ia terus memaksa
menjauh dari dunia penuh paksaan
hewan-hewan tertawa di kejauhan
ia merasa lebih bahagia
ia bukan budak uang
seperti yang menertawakannya

Daun kering berserakan di depannya
di tatapnya daun itu
ia mulai bercerita pelan
mulutnya memang terjahit
namun bisa sedikit terbuka
paling tidak ada yang mendengarnya

"Dunia itu luas,
Kamu itu kecil,
protesmu murahan! protesmu mengandai-andai!
Kamu bisa apa untuk merubah dunia ?"
Anak itu kembali berjalan
ia merasa lebih merdeka
ia telah menangis

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Klakson

     Dugaanmu cerita singkat ini mendeskripsikan penderitaan hidup di kota dan berakhir begitu-begitu saja. Tunggu. Kau harus baca. Aku akan memulainya dengan antrian panjang kendaraan para pekerja yang ingin segera pulang di lampu merah. Lampu merah yang beberapa waktu setelahnya berubah menjadi hijau tapi antrian tidak bergerak sebab dihentikan polisi dan mobil pejabat yang akan segera lewat dari jalan lainnya. Itu-itu saja? Ya, itu-itu saja. Aku berulang mengalaminya dan merasa kesal tidak dapat melakukan apa-apa. Rasa kesal yang kemudian menjadi berlipat-lipat mengetahui orang-orang juga tidak dapat melakukan apa-apa, atau malah terkesan tidak ingin sebab ekspresi mereka menunjukkan seakan tidak sedang terjadi apa-apa.      Tapi tidak, petang itu. Dari jalan Ciliwung, lampu merah berubah jadi hijau. Antrian kendaraan tidak bergerak, tapi mesinnya menderu-deru. Tiga polisi menghentikannya, mengayun-ayunkan stick berlampu. Jelas mobil pejabat akan lewat. ...

Buku: Kukila - M Aan Mansyur

"Brengsek!", kataku usai membaca 'Aku Selalu Bangun Lebih Pagi'. Aku berhadapan lagi dengan karangan Aan, yang memang seringkali membuatku mengumpat. Gejolak masa muda, ciuman, perselingkuhan, pulang kampung saat lebaran, dan kisah sederhana-rumit-dewasa lain ada dalam kumcer Kukila. Begitu harmonis perpaduan antara; tema aktual yang diusung, unsur kedaerahan Aan, cerita yang pilu (atau lucu, atau brengsek, atau mengejutkan), dan jalinan kata mind-blowing khas Aan. Tidak jarang pula ceritanya memaksaku merenung atau berdiskusi dengan diri sendiri, menghasilkan kesadaran dan upaya memahami, menghindari penilaian-penilaian. Menjadi sorotan utama kumcer ini, cerpen Kukila itu sendiri. Memakan puluhan halaman di awal, jauh lebih panjang dari 15 cerpen lainnya. Cerita cinta penuh misteri dan kejutan, alurnya mengalir nikmat, mengantarku pada kenyataan, pelajaran tentang kemanusiaan. Aku selalu mengagumi bagaimana Aan membaca kejadian/momen dengan begitu detail, dan ke...