Kami mengamati pemandangan baru di perempatan-perempatan besar belakangan ini. Menjelang petang, muda-mudi hadir di sela-sela antrian kendaraan yang menanti lampu lalu lintas berubah warna. Mereka berjualan balon 'modern' dengan kelap-kelip LED di dalamnya. Mirip seperti yang tersedia di restoran cepat saji, hanya kelihatan sedikit lebih bagus dan tahan lama. Dari pembangunan, tren makanan dan pakaian, sampai mainan-mainan, kok ya ada-ada saja perkembangannya. Barangkali pembelinya tetap anak-anak, tapi kami ikut senyum-senyum gara-gara 'kebahagiaan' tampil mengganggu di tengah rupa-rupa para penjilat kelelahan dan hiruk pikuk kota metropolitan yang membosankan. Hiburan visual yang menjadi ironis tidak lama ketika kami mengingat satu film tentang keluarga imigran yang harus bertahan tinggal di negara pengungsian. Bapak mereka dulunya tentara perang saudara, kini malam-malam menjajakan mainan plastik dengan lampu kelap-kelip, dari kafe ke kafe. Ia pakai bando kelinci yang juga kelap-kelip di kepalanya. Ehm, kami tak pernah sungguh-sungguh mengerti tentang siapa yang sedang kami temui.
Pernah petang selanjutnya kami masih berkendara di waktu-waktu orang membatalkan puasa dan kami nikmati banyak macam bahagia. Mereka mengerumuni gerobak bakso yang asapnya membumbung apik di bawah lampu jalan, mereka yang lain duduk di becaknya masing-masing sambil memegang kotak makan lucu, mereka yang lain lagi berkemas-kemas sebab sudah habis dagangan sederhananya. Bocah perempuan duduk menunggu sang ibu. Rambut pendeknya yang belum kering setelah mandi disisir ke belakang, wajahnya belepotan bedak sehingga kami tahu baunya harum kalau dicium. Cantik sekali. Apa lagi? Ya, telah cukup lama kami merasa hidup lagi. Sampai pada akhirnya, barangkali benar juga, perpisahan selalu menjadi penyebab satu sama lain merasa tak perlu lagi mengarsipkan apa-apa yang terjadi di jalanan, di keseharian.
Di petang yang jauh berbeda lagi-lagi tumbuh benci. Kami perhatikan burung manis itu terbang rendah selepas dari tangan jokinya. Kepaknya gugup. Satu meter di atas mobil dan truk-truk yang bergemuruh, ia memutar, satu kali mengelilingi pohon di pinggir jalan yang aku tidak tahu namanya, lalu menabrak kaca gedung berlantai tiga, keras sekali. Kami meringis, membayangkan seperti apa sakitnya. Hey, kami telah mengusir tangis berkali-kali tapi ia datang lagi setiap hari. Hangat ruang dihisapnya ketika kami mengambil handuk dan seketika kami tak berani masuk kamar mandi, kemudian ia gantikan hampa yang menjadikan petang dan semuanya terasa sepi.
Mungkin sekarang kami punya pengertian yang saling membelakangi, tentang bagaimana masing-masing membunuh dirinya sendiri. Beberapa minggu sulit sekali untuk tidur, kecuali kelelahan sekali waktu hingga tertidur dan memimpikan kesempatan bertanya kabar dan kesempatan-kesempatan lain yang harus terus-terusan kami lewatkan.
Surabaya, 11 Mei 2020

Komentar
Posting Komentar