Langsung ke konten utama

Seorang Tua dan Kucing Kecil Warna Hitam



Seorang tua menulis di buku catatannya.

"Berkendara menyisir malam

Aku melihat kucing kecil warna hitam duduk hampir di tengah jalan
duduk, bukan meraung-raung mencari ibunya, hilang arah, atau berharap keselamatan
Sebentar saja bergidik membayangkan yang macam-macam
Beberapa detik kasihan dan ingin meminggirkan, tapi kemudian itu kulewatkan beberapa detik lagi setelahnya
Bersama kegelisahan aku lanjutkan
Berkendara menyisir malam

Satu, barangkali kucing kecil warna hitam itu memang ingin bunuh diri.


Dua, apakah memang baiknya kucing kecil warna hitam itu segera terlindas, mati, penyet, dan masuk surga meninggalkan dunia yang menyedihkan ini? Terserah kau pilih kata apa. Menyedihkan? Membosankan? Tidak adil dan sarat penindasan?


Tiga, bagaimana kelanjutannya jika aku meminggirkannya. Ia tidak jadi mati segera, meringkuk siang malam di daun-daun basah, berhadapan dengan perlakuan anak-anak Adam muasal penderitaan, malah mati perlahan karena dalam perutnya membusuk kelaparan. Kupikir menunda kematian adalah penyiksaan."


Seorang tua menulis di buku catatannya.

Usai menulis, ia gantung diri pakai tali rafia.

21 Januari 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lelucon Pendek di Hamparan Salju

Maaf jelek *** Selamat pagiku untuk malaikat Manis rupamu hari ini Berbaju coklat dan mata yang sayu Semakin manis Pandangan yang tak pernah lepas darimu Melodi yang tak pernah hilang saat kau bicara denganku Parfum pun bisa mengantarku ke dimensi masa lalu Hingga tersenyum dan siap untuk melakukan sesuatu

HOMEBROKEN (Monoplay TEATER SINKRON)

Dalam sebuah kamar yang suram, tergeletak lemas seorang anak bernama Sugeng. Ia terus terdiam memandangi foto ibunya. "ayah, ibu.... apa yang aku dapatkan dari kalian.. ayah mana perhatianmu aku hidup sendiri, aku alone ibu mengapa kau meninggalkanku .. kau biarkan aku di bawah terik matahari kau biarkan aku terkena deras hujan aku harus menyalahkan siapa ? Haruskah aku menyalahkan tuhan ?! Aku menyayangimu ibu .. Tapi aku Membencimu !!!! Belum saatnya kau meninggalkanku ibu!!! Ibu jahat ! Mungkin hanya ini penenangku.. hanya ini yang aku kenal. aku sama sekali tak mengenal orang tuaku.." Dia mengeluarkan Bong, sabu-sabu dan korek api. Ia memandanginya, lalu memakainya terburu-buru. Ini bukan pertama kali Sugeng menggunakan Sabu-sabu. Ketergantungannya pada benda setan itu sudah sangat besar. 10 menit berlalu, entah kenapa sabu-sabu itu tidak membuat Sugeng tenang, malah membuat Sugeng semakin sakau. Ia sulit bernafas, kantong matanya menghitam, badanny...

Buku: Matinya Seorang Penulis Besar - Mario Vargas Llosa

Matinya Seorang Penulis Besar, oleh Mario Vargas Llosa. Disaring dan diterjemahkan  @sastra.alibi . Esai-esai apik, tepat guna sebagai akses menyelami lebih dalam gagasan-karya sastra Amerika Latin yang sudah banyak beredar di toko buku sejak 2005-an (juga kerja Pak Ronny). Wacana yang kita tahu banyak bertemakan perjuangan, bernafaskan perlawanan-pemberontakan terhadap ketidakadilan-kediktatoran. Kalau benar gaya bercerita Vargas Llosa liris dan emosional, itu kuat mendukung tema yang dipaparkan secara detail dan kritis. 'Menjenguk Karl Marx', dalam sepi ia marah-meratap atas perubahan drastis wajah Dean Street, yang dulunya pernah tinggal seorang Marx dalam kondisi kemiskinan ekstrem -juga menjadi momen lahir karya-karyanya- kini menjelma ruang kemewahan yang dituju para borjuis London untuk berfoya-foya. 'Epitaf Untuk Sebuah Perpustakaan', teks keprihatinan mendalam terhadap sikap lembaga negara yang gagal memelihara iklim intelektual-kerja literasi. Horor p...