Hail Steinbeck. Pencerita dengan detail luar biasa. "Sebuah karya...kaya dengan rincian-rincian yang mengungkap seluk beluk kehidupan peternakan yang tentram sekaligus penuh kepekaan dalam mengulas pergolakan batin seorang bocah yang tengah mengarungi masa pendewasaan diri".
Ber-setting koboi-koboian California, kita akan lekat-lebur bersama Jody, sang bocah peran utama. Merinci kembali bagaimana menjadi manusia yang baik seperti anak-anak.
Berhari-hari murung di rumah dan sekolah karena kuda pemberian ayahnya sakit. Merasa kesepian usai satu malam rumahnya diinapi seorang tua yang tak dikenalnya. Lucu juga melihat bocah rajin itu mengemban tanggung jawab merawat kuda hamil. Kecemasannya menggemaskan dan mengharukan. Sampai pada upayanya mendengar cerita kakek menandakan ia begitu dewasa. Kisah tentang kasih sayang yang murni, tentang emosi, tentang dunia orang dewasa yang sibuk berkata-kata dan bertengkar, tentang mendengar dan memahami, terbagi menjadi 4 bagian yang semuanya berakhir muram. Eh, apa ya. Tragis, hampa, sepi. Itu lah. Ini bukan spoiler, bangsat! Kenyataan memang seperti itu.
Aku tahu aku benar-benar keliru tapi aku ingin mengatakannya. Steinbeck menyatakan bahwa memang kehidupan benar-benar tidak semenarik itu, tak perlu terlalu tertarik, berbahagia juga berduka. Lewat penciptaan tokoh yang benar-benar tertarik pada kehidupan, kebluwuklah mereka pada keputusasaan, yang tragis, yang tidak semenarik itu pada akhirnya. Kurasa tiap akhir hanyalah pedih, prosesnya menjadi ketidakmenarikan yang seru. Benar/bukan begitu?
The Red Pony
Kuda Poni Merah
Penulis: John Steinbeck
Penerbit: Circa
#penerbitcirca #theredpony #kudaponimerah #johnsteinbeck

Komentar
Posting Komentar