Langsung ke konten utama

Buku: Kuda Poni Merah - John Steinbeck


Hail Steinbeck. Pencerita dengan detail luar biasa. "Sebuah karya...kaya dengan rincian-rincian yang mengungkap seluk beluk kehidupan peternakan yang tentram sekaligus penuh kepekaan dalam mengulas pergolakan batin seorang bocah yang tengah mengarungi masa pendewasaan diri".

Ber-setting koboi-koboian California, kita akan lekat-lebur bersama Jody, sang bocah peran utama. Merinci kembali bagaimana menjadi manusia yang baik seperti anak-anak.
Berhari-hari murung di rumah dan sekolah karena kuda pemberian ayahnya sakit. Merasa kesepian usai satu malam rumahnya diinapi seorang tua yang tak dikenalnya. Lucu juga melihat bocah rajin itu mengemban tanggung jawab merawat kuda hamil. Kecemasannya menggemaskan dan mengharukan. Sampai pada upayanya mendengar cerita kakek menandakan ia begitu dewasa. Kisah tentang kasih sayang yang murni, tentang emosi, tentang dunia orang dewasa yang sibuk berkata-kata dan bertengkar, tentang mendengar dan memahami, terbagi menjadi 4 bagian yang semuanya berakhir muram. Eh, apa ya. Tragis, hampa, sepi. Itu lah. Ini bukan spoiler, bangsat! Kenyataan memang seperti itu.

Aku tahu aku benar-benar keliru tapi aku ingin mengatakannya. Steinbeck menyatakan bahwa memang kehidupan benar-benar tidak semenarik itu, tak perlu terlalu tertarik, berbahagia juga berduka. Lewat penciptaan tokoh yang benar-benar tertarik pada kehidupan, kebluwuklah mereka pada keputusasaan, yang tragis, yang tidak semenarik itu pada akhirnya. Kurasa tiap akhir hanyalah pedih, prosesnya menjadi ketidakmenarikan yang seru. Benar/bukan begitu?


The Red Pony
Kuda Poni Merah
Penulis: John Steinbeck
Penerbit: Circa

#penerbitcirca #theredpony #kudaponimerah #johnsteinbeck

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Klakson

     Dugaanmu cerita singkat ini mendeskripsikan penderitaan hidup di kota dan berakhir begitu-begitu saja. Tunggu. Kau harus baca. Aku akan memulainya dengan antrian panjang kendaraan para pekerja yang ingin segera pulang di lampu merah. Lampu merah yang beberapa waktu setelahnya berubah menjadi hijau tapi antrian tidak bergerak sebab dihentikan polisi dan mobil pejabat yang akan segera lewat dari jalan lainnya. Itu-itu saja? Ya, itu-itu saja. Aku berulang mengalaminya dan merasa kesal tidak dapat melakukan apa-apa. Rasa kesal yang kemudian menjadi berlipat-lipat mengetahui orang-orang juga tidak dapat melakukan apa-apa, atau malah terkesan tidak ingin sebab ekspresi mereka menunjukkan seakan tidak sedang terjadi apa-apa.      Tapi tidak, petang itu. Dari jalan Ciliwung, lampu merah berubah jadi hijau. Antrian kendaraan tidak bergerak, tapi mesinnya menderu-deru. Tiga polisi menghentikannya, mengayun-ayunkan stick berlampu. Jelas mobil pejabat akan lewat. ...

Buku: Kukila - M Aan Mansyur

"Brengsek!", kataku usai membaca 'Aku Selalu Bangun Lebih Pagi'. Aku berhadapan lagi dengan karangan Aan, yang memang seringkali membuatku mengumpat. Gejolak masa muda, ciuman, perselingkuhan, pulang kampung saat lebaran, dan kisah sederhana-rumit-dewasa lain ada dalam kumcer Kukila. Begitu harmonis perpaduan antara; tema aktual yang diusung, unsur kedaerahan Aan, cerita yang pilu (atau lucu, atau brengsek, atau mengejutkan), dan jalinan kata mind-blowing khas Aan. Tidak jarang pula ceritanya memaksaku merenung atau berdiskusi dengan diri sendiri, menghasilkan kesadaran dan upaya memahami, menghindari penilaian-penilaian. Menjadi sorotan utama kumcer ini, cerpen Kukila itu sendiri. Memakan puluhan halaman di awal, jauh lebih panjang dari 15 cerpen lainnya. Cerita cinta penuh misteri dan kejutan, alurnya mengalir nikmat, mengantarku pada kenyataan, pelajaran tentang kemanusiaan. Aku selalu mengagumi bagaimana Aan membaca kejadian/momen dengan begitu detail, dan ke...