Langsung ke konten utama

Satu Paragraf Minimal Empat Kalimat



Kau pasti bosan dengar cerita semacam ini.

***


"Boleh aku minta belikan gitar? Tiap akhir pekan siang di sekolah, aku belajar."


Juno kecil ketiduran sewaktu menunggu, kemudian dibangunkan kecewa. F310 punya Yamaha. Besar sekali. Tidak seperti gitar yang teman-temannya tenteng buyaran sekolah untuk mengamen setelahnya.


Berminggu-minggu ia tak lagi bergairah menghadapi sabtu. Tangannya lambat meniti fret satu per satu, menunduk tak berharap jadi perhatian sang guru. Ibu bertanya melulu, "Kenapa kamu tidak pernah mau membawa bersama tasnya? Itu gitar bagus dan mahal". Pengulangan yang tidak pernah Juno jawab. Ia menggemeretakkan gigi mengingat seruan kakak-kakak kelas di seberang lapangan, "Lebih besar gitarnya ketimbang orangnya!".


Juno kecil membenci gitarnya, ia sandarkan selagi menapaki usia. Cat rumah ganti-ganti warna. Orang-orangnya jarang bicara. Dari satu dua buku, Juno bisa banyak hafal lagu-lagu cinta, tapi tak tahu harus memainkannya di depan siapa.


Karat melukai jarinya.


***


Juno dewasa membenci pagi dan malam. Barangkali juga jam dua siang. Di waktu-waktu itu, ia bermain gitar sambil memikirkan orang-orang yang lihai bermain gitar. Gemetar nada-nada mencumbu kunci-kunci sederhana. Menyanyi lagu-lagu lucu untuk membunuh cemburu yang menderu. Membunuh sepi yang tak mati-mati.



Surabaya, 14 Februari 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lelucon Pendek di Hamparan Salju

Maaf jelek *** Selamat pagiku untuk malaikat Manis rupamu hari ini Berbaju coklat dan mata yang sayu Semakin manis Pandangan yang tak pernah lepas darimu Melodi yang tak pernah hilang saat kau bicara denganku Parfum pun bisa mengantarku ke dimensi masa lalu Hingga tersenyum dan siap untuk melakukan sesuatu

HOMEBROKEN (Monoplay TEATER SINKRON)

Dalam sebuah kamar yang suram, tergeletak lemas seorang anak bernama Sugeng. Ia terus terdiam memandangi foto ibunya. "ayah, ibu.... apa yang aku dapatkan dari kalian.. ayah mana perhatianmu aku hidup sendiri, aku alone ibu mengapa kau meninggalkanku .. kau biarkan aku di bawah terik matahari kau biarkan aku terkena deras hujan aku harus menyalahkan siapa ? Haruskah aku menyalahkan tuhan ?! Aku menyayangimu ibu .. Tapi aku Membencimu !!!! Belum saatnya kau meninggalkanku ibu!!! Ibu jahat ! Mungkin hanya ini penenangku.. hanya ini yang aku kenal. aku sama sekali tak mengenal orang tuaku.." Dia mengeluarkan Bong, sabu-sabu dan korek api. Ia memandanginya, lalu memakainya terburu-buru. Ini bukan pertama kali Sugeng menggunakan Sabu-sabu. Ketergantungannya pada benda setan itu sudah sangat besar. 10 menit berlalu, entah kenapa sabu-sabu itu tidak membuat Sugeng tenang, malah membuat Sugeng semakin sakau. Ia sulit bernafas, kantong matanya menghitam, badanny...

Buku: Matinya Seorang Penulis Besar - Mario Vargas Llosa

Matinya Seorang Penulis Besar, oleh Mario Vargas Llosa. Disaring dan diterjemahkan  @sastra.alibi . Esai-esai apik, tepat guna sebagai akses menyelami lebih dalam gagasan-karya sastra Amerika Latin yang sudah banyak beredar di toko buku sejak 2005-an (juga kerja Pak Ronny). Wacana yang kita tahu banyak bertemakan perjuangan, bernafaskan perlawanan-pemberontakan terhadap ketidakadilan-kediktatoran. Kalau benar gaya bercerita Vargas Llosa liris dan emosional, itu kuat mendukung tema yang dipaparkan secara detail dan kritis. 'Menjenguk Karl Marx', dalam sepi ia marah-meratap atas perubahan drastis wajah Dean Street, yang dulunya pernah tinggal seorang Marx dalam kondisi kemiskinan ekstrem -juga menjadi momen lahir karya-karyanya- kini menjelma ruang kemewahan yang dituju para borjuis London untuk berfoya-foya. 'Epitaf Untuk Sebuah Perpustakaan', teks keprihatinan mendalam terhadap sikap lembaga negara yang gagal memelihara iklim intelektual-kerja literasi. Horor p...