Langsung ke konten utama

Musik: Jan BASAJ, Marah dan Gelisah Seperti Biasanya

Dok. Pribadi Jan BASAJ

"Tiada datang masa akhir bagi takdir kaumku yang akan tersingkir
Tiada datang masa terang benderang jingglang aku ingin menang

Era cilaka dengan konstruksi hari biasanya
Inikah harmoni? 
Perayaan hari besar proletar dengan anthem berjudul "LAPAR"
Aku ingin bercinta agar tetap sadar, tapi bagaimana bisa berdekatan saja dilanggar, tapi kabar kampanye terlaksana secara akbar, BARBAR! 
Inikah harmoni?"

- HARMONI oleh Jan BASAJ


    Pasca pulang kerja dibayar lelah dan kesepian, sempat juga kita dengar satu-dua unggahan nada. Satu "Harmoni", dua "Tiada Suaka di Kota". Ya, penciptanya satu nama dari kota kecil bau sampah, yang tercatat dalam sejarah orang marah dan gelisah, tak lain dan tak bukan, Jan Basaj.

    Bagaimana tidak? Sejak masa kita gemar memutar-mutar gelas sloki tengah petang, cerita pengalaman masturbasi, mengepal tangan dan menyanyi, ngobrol politik hingga mendewasa kini jadi penjilat, sesungguhnya kita juga telah merekam komplit laku berbeda Jan Basaj. Repetisi gitarnya yang meraung-raung. Repetisi obahnya dan hilang kendali ekspresinya di atas panggung. Ketawa dan air matanya yang tidak henti-henti kala mabuk di pagi yang tanggung. Luap-luap monolognya perihal pengarsipan hingga kawannya mengantuk dan tikar lesehan harus digulung –Satu kali ia kirim pesan, “Biar kita ini tidak jadi dongeng!”. Jangan lupa. Orasi dan naskah-naskahnya yang tidak pernah tidak berkaitan dengan persoalan kemanusiaan.   

Dok. Pribadi Jan BASAJ

    
Mengesankan teks ini layaknya review, membahas pengaruh Bob Dylan, Seasick Steve, Rendra, Om Iwan, hingga Sisir Tanah terhadap karya Jan Basaj, rasanya tidak perlu -malah membuat penulis kelihatan bodohnya-. Tapi waktu mendengarkannya, saya jadi ingat punya kaos bertuliskan "Make Noise Like Woody Guthrie" dalam lemari. Oh. Apa yang ditulis Basaj hanya hari-harinya. Titik pertigaan Johar Plaza. Duduk di kursi reyot yang itu-itu saja. Maka siang-malam ia melihat kubis, tomat, gerobak bakso, dan kehidupan yang begitu-begitu saja. Mendengar senda gurau pengayuh becak, berita duka pedagang tua, begitu-begitu saja. Bersandar di pintu-pintu kayu yang sudah lama tertutup, memperhatikan plang toko dan nama pejabat gonta-ganti, begitu-begitu saja. Datang lagi, pamit pulang, sulit tidur, begitu-begitu saja. Ya Tuhan, kita sedang tiduran dan memesan makanan di restoran cepat saji ketika Basaj marah sebab menjelang pilkada, di jalanan berjajar baliho penuh janji -kali ini plus anjuran cuci tangan dan hindari kerumunan- ngalah-ngalahi perusahaan asuransi, lagi-lagi. Kita sedang nyeruput kopi susu dan mengagumi puisi Sapardi ketika Basaj gelisah sebab praktik korupsi, lahan rencana tambang, dan nasib para petani. Jember Terbina! Perkebunan! Pandalungan! Ia "Make Noise" kemudian tentang ketidakadilan yang telah-sedang-akan terjadi. Apa lagi? Sila simak sendiri-sendiri.

    Dalam waktu dekat karya Jan Basaj terbit utuh dan pertanyaan-pertanyaan malah timbul buat kita. “Siapa yang dapat ramalkan bagaimana jadinya bayi? Jadi nabi atau bajingan, atau jadi sekedar tambahan isi dunia”, tulis Pram dalam Jejak Langkah. Sementara Basaj menyeruak mengganggu narasi kepala daerah yang hobi ngamuk-ngamuk (dan didokumentasi) dan sibuk kerja sampai lupa tanggal ulang tahunnya, menandingi seminar-seminar motivasi dalam hotel bintang tiga hingga khotbah pemuka agama bertemakan benci, rasanya boleh saya tambahkan lagi pilihan untuk pembaca. Barangkali jadi pribadi/kawanan -Jan Basaj menyebutnya "Comrades"- yang tidak membiarkan Jan Basaj marah dan gelisah sendirian?

    By the way, satu pertanyaan lagi. Apa tulisan saya sudah ke-Jan Basaj-Jan Basaj-an? Siiiih. "Omnibus Law, Sialan Kacau!", lagunya keputar 10 kali lebih menunggu teks ini selesai.

Surabaya, 21 Oktober 2020

Dengarkan Jan BASAJ disini:


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Klakson

     Dugaanmu cerita singkat ini mendeskripsikan penderitaan hidup di kota dan berakhir begitu-begitu saja. Tunggu. Kau harus baca. Aku akan memulainya dengan antrian panjang kendaraan para pekerja yang ingin segera pulang di lampu merah. Lampu merah yang beberapa waktu setelahnya berubah menjadi hijau tapi antrian tidak bergerak sebab dihentikan polisi dan mobil pejabat yang akan segera lewat dari jalan lainnya. Itu-itu saja? Ya, itu-itu saja. Aku berulang mengalaminya dan merasa kesal tidak dapat melakukan apa-apa. Rasa kesal yang kemudian menjadi berlipat-lipat mengetahui orang-orang juga tidak dapat melakukan apa-apa, atau malah terkesan tidak ingin sebab ekspresi mereka menunjukkan seakan tidak sedang terjadi apa-apa.      Tapi tidak, petang itu. Dari jalan Ciliwung, lampu merah berubah jadi hijau. Antrian kendaraan tidak bergerak, tapi mesinnya menderu-deru. Tiga polisi menghentikannya, mengayun-ayunkan stick berlampu. Jelas mobil pejabat akan lewat. ...

Buku: Kukila - M Aan Mansyur

"Brengsek!", kataku usai membaca 'Aku Selalu Bangun Lebih Pagi'. Aku berhadapan lagi dengan karangan Aan, yang memang seringkali membuatku mengumpat. Gejolak masa muda, ciuman, perselingkuhan, pulang kampung saat lebaran, dan kisah sederhana-rumit-dewasa lain ada dalam kumcer Kukila. Begitu harmonis perpaduan antara; tema aktual yang diusung, unsur kedaerahan Aan, cerita yang pilu (atau lucu, atau brengsek, atau mengejutkan), dan jalinan kata mind-blowing khas Aan. Tidak jarang pula ceritanya memaksaku merenung atau berdiskusi dengan diri sendiri, menghasilkan kesadaran dan upaya memahami, menghindari penilaian-penilaian. Menjadi sorotan utama kumcer ini, cerpen Kukila itu sendiri. Memakan puluhan halaman di awal, jauh lebih panjang dari 15 cerpen lainnya. Cerita cinta penuh misteri dan kejutan, alurnya mengalir nikmat, mengantarku pada kenyataan, pelajaran tentang kemanusiaan. Aku selalu mengagumi bagaimana Aan membaca kejadian/momen dengan begitu detail, dan ke...