Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Terjebak Kemacetan

Selasa petang di Surabaya adzan maghrib sahut-menyahut tapi kalah keras dengan guyuran hujan deras yang juga memaksa makhluk-makhluk ciptaan-Nya menahan diri untuk tidak beringas di tengah kemacetan jalan raya yang berkilo-kilo panjangnya kami semua ada di dalam kemacetan itu ketika anak-anak kecil di gang kampung hujan-hujanan mumpung bapaknya belum datang mereka lebih takut ditampar dan dihajar daripada diculik setan di bawah jembatan penyebrangan orang-orang tua memarkir motornya dan mengerumuni gerobak bakso sesaat bahagia sambil kepanasan lidahnya kena kuah panas si penjual itu lebih lama bahagianya syukur hujan membawa berkah dan bisa tidur nyenyak nanti malam umpatan dan bunyi klakson tak bermakna lagi tak bisa mewakili amarah dan ketakutan mereka rasa syukur dan kepuasan yang ini hanyalah semu ketidaksadaran terlalu lama ada dalam penderitaan senyum yang selalu pura-pura saat menjilat pada atasan tempat kerjanya maupun saat menahan lapar di depan putra putr...

Sejenak Menjadi Orang Paling Bahagia

sirene ambulans tanpa pasien meraung-raung mobil-mobil plat merah dan hijau mau tidak mau harus merendahkan harga dirinya beberapa kali aku merasa seperti pahlawan setelah terpaksa kuhentikan kendaraanku dan kupersilakan kendaraan lain lewat pertanyaan kulontarkan sebelum menguap bersama umpatan dan bising klakson mengapa di jalanan orang-orang mempertontonkan kuasa dan kebebasannya meyakini keputusan-keputusannya memperjuangkan hak-haknya tapi sepulangnya kembali menangis pasrah menerima nasib? kecemasan dan penderitaan kegagalan kehidupan hasrat yang sia-sia sejenak aku menjadi orang paling bahagia di tengah kemacetan jalan raya tak ada yang harus diharapkan sampai aku tak ingat untuk melihat jam tangan dan mungkin, aku punya lebih banyak waktu untuk memahami mereka *** Surabaya, 30 November 2017 Untuk adik-adikku Teater Rumpun Padi

Mendefinisikan Ketulusan

katamu, orang-orang memberi sambil berharap mendapatkan lebih banyak mengecup kening sambil mengingat kesalahan-kesalahan pasangannya menuntut balas dan mengancam setelah membesarkan anak-anaknya sakit keras karena kecewa giat beribadah dan sering bicara tentang neraka suka memuji sambil memuja diri sendiri mendongeng tentang balas dendam mencari kata impas dalam kamus bahasa indonesia aku lupa apa saja yang kau ceritakan malam itu garis lingkaran selalu kembali pada titik berangkat merpati selalu tahu kemana ia harus pulang tapi perpisahan dan rasa sakit tidak merencanakan itu tubuh ini terus berjalan tanpa menoleh ke belakang sendiri menuju keramaian berbagi makna ketulusan mengutuki waktu yang tak pernah merasa bersalah ah, aku ingin segera bertemu denganmu membahas masa kecil dan hal-hal baru *** MH, Surabaya, 22 November 2017 Untuk adik-adikku Teater Rumpun Padi

Naik Pangkat

Ibu menyuruhku untuk belajar sehabis maghrib lalu tidur pukul sembilan Ibu akan memukul bokongku dengan penebah kalau aku terlambat pulang setelah bermain atau kalau nilai rapotku jelek atau kalau malam-malam mencuri waktu untuk menonton tv  Ibu sering menangis dan berkata padaku untuk jangan pernah menangis Ibu mengajarkanku tentang kehormatan cara memandang, bicara, berjalan dan berlaku sehormat-hormatnya Ibu sedikit bicara dan mengajarkanku tentang keyakinan memberikan pemahaman agar aku patuh dan tidak banyak bertanya Ibu membela sepenuh hati saat aku dihajar anak tetangga Berdiri dengan kekuatanku sendiri, takkan kuterima apa-apa yang mengancam keutuhan bangsa Ibu pernah menamparku saat aku berbohong telah kuhajar pula, ketika mereka memaki dan berteriak gila mengakui apa yang bukan haknya Ibu adalah orang yang ikhlas aku tidak begitu simpati pada mereka yang tersedu-sedu berpisah dengan anggota keluarganya Ibu pernah mengajarkan aku untuk tegar air mat...

Membahas Dosa

anak itu tahu dari berita, air keras bisa digunakan untuk melukai dan meneror orang lain ia belajar kata-kata kotor dan kepasrahan dari kumpulan pelacur di rumah seberang jalan ia belajar memukul setelah dipukul bocah sepantarannya sampai mimisan ia belajar dendam setelah menonton sinetron di televisi kecil ruang tamunya ia belajar membenci dari spanduk ormas dan selebaran-selebaran di rumah ibadah tempatnya mengaji ia belajar menginjak-injak makanan dan menggunjing di pesta pernikahan saudaranya ia tahu ternyata uang selalu bisa melancarkan urusan, dari kantor-kantor yang ia datangi bersama bapaknya ia belajar korupsi waktu berangkat sekolah dari karyawan-karyawan melarat yang mengendarai motor terburu-buru ia belajar dari guru agamanya untuk menerima aturan dan keadaan tanpa banyak bertanya ia tahu arti kata bunuh diri waktu kampungnya geger kabar perempuan muda dan bayinya mati dalam kamar ia belajar membunuh dari buku, film, dan lagu cinta yang sengsara ia belajar hukum...

Rumah yang Muram

"Nanang masih seperti itu, Dik Narno?", kataku berbisik-bisik, khawatir terdengar dari kamar. "Sudah lebih baik Mas Har. Sudah banyak makan dan banyak bicara padaku di saat tertentu. Tapi kalau tidak ada siapa-siapa yang ngajak bicara ya dia tetap memilih di kamar."  " Woh , pernah mbahas nikah?" "Ya ndak pernah. Dia ya berusaha melupakan dan goblok juga kalau aku mengungkit lagi. Masak aku tanya 'sudah melupakan belum?', kan ya ndak mungkin. Kalau sudah marah bahaya." "Ya jelas, kan nurun Dik Narno." Tawa kita berdua meledak mengisi sepi sebentar. Minggu siang ini, langit kota Blora sedang mendung. Tak banyak kendaraan sliwar-sliwer memang karakter hari Minggu. Aku berkunjung ke rumah saudara jauh, Narno, setelah mendapat laporan dari mbak ku. Katanya kemarin Narno tidak bisa dihubungi sampai malam hari dan saat di telepon rumah, anaknya mengatakan Narno pergi tanpa bilang apa-apa.  Rumahnya tidak begi...

Ramadhan Masih Seperti Biasanya

Mohon maaf aku masih sering bangun kesiangan karena malam sebelumnya onani masih tertawa-tawa menghina diri sendiri masih tenggelam dalam maya, tidur kehabisan tenaga dalam nyata menghafalkan buku pelajaran dan lagu cinta mencari jati diri lewat layar kecil 14 inci di rumah-rumah semi permanen kolong jalan tol mereka masih tetap tersenyum bahagia, penuh harap, dan memupuk doa menyaksikan iklan sirup dan teh hangat matahari naik besok, mereka puasa dan digusur petugas yang membentak-bentak itu sama miskinnya sementara di atas gedung pahala dan keuangan mengalir sama derasnya

Pertemuan Malam Tadi

dalam mimpiku malam lalu kau yang kusayang memeluk dan membelai-belai rambut ini aku sedang lelah termenung di pintu kaca

Bulan Wisuda

bulan-bulan yang mendung pekerja-pekerja pabrik pulang petang membawa sepuluh tusuk sate dan pentol seharga lima ribu berlari kecil dinanti-nantikan putra-putrinya yang kelaparan anak-anak itu, mereka sama sekali tidak bisa berkonsentrasi belajar matematika dan ilmu pengetahuan sosial mereka sama sekali kesulitan menghafal teks skenario sejarah di buku-buku sekolah dan mereka amat ketakutan karena besok ada ulangan bulan-bulan yang mendung dan sering angin kencang baliho-baliho besar wakil rakyat yang rangkanya bambu hampir ambruk tapi gambar wajah, seragam dan slogannya masih jelas dilihat pengendara yang terpaksa berhenti karena lampu lalu lintas masih merah mereka memandanginya hanya satu sampai tiga detik karena tidak kenal malahan anak mereka di jok depan yang tertarik belajar mengeja karena tulisannya besar-besar terkadang lucu mendengar pengendara membunyi-bunyikan klakson yang suaranya seperti kentut terlalu mahal beli aki baru, apalagi motor baru

Tanahku Sedang Berduka

Tanahku sedang berduka mata air dan lahan-lahan penghidupan diratakan traktor-traktor berlabelkan pabrik maupun perusahaan mengatasnamakan kebutuhan masyarakat dan pembangunan kelak menjadi selokan-selokan kering negeri kaya raya yang subur tanahnya menangis karena dedaunan layu, abu-abu dan berdebu kehidupan dan penghidupan mengeras, kemudian tergantikan menyisakan luka kemanusiaan, terus membekas sampai hari depan

Minggu, Hari yang Panjang

laki-laki muda duduk di depan teras rumahnya makan perlahan nasi lauk telur di piring sambil menimbang-nimbang tawaran pekerjaan syukur digempur gelisah ketika waktu dan jerih payah harus berlawanan dengan kemerdekaan ketika uang dan kesejahteraan kadang bertolakbelakang dengan hak-hak dan kemanusiaan konsep mereka tentang saling membutuhkan telah menyingkirkan hubungan manusia, etika dan kesan-kesan Ya Tuhan meski tak ada seorangpun yang mempersalahkan

Tulisan Untuk Kawan

kawan, cerita yang membosankan tentang kehilangan mana ada orang yang tidak pernah? jarak adalah bagian dari perjalanan perpisahan adalah bagian dari kehidupan hari-hari lalu, kawan kasih sayang, keputusasaan, pengakuan, ketulusan, kejujuran, dan keberanian tak kurang tapi tak pernah cukup kita mainkan, mengitari tempat dan waktu dalam panggung-panggung kehidupan tiap mimik dan percakapannya berjanji tak akan pernah jauh dari permasalahan jangan dikhianati buku-buku dan kenyataan-kenyataan selalu menanti untuk dipelajari

Baik-Baik Saja

malam di musim hujan ini deras sekali di luar jendela suaranya begitu nyaring menutup suara tangismu dimana banyak orang berkata saat-saat paling sepi adalah saat bangun dan sebelum tidur derai-derainya melawan sepi itu dengan berani

Kota Besar

liburan kenaikan kelas lima sama seperti sebelum-sebelumnya setahun sekali naik mobil jalan-jalan ke rumah Pakde Nono di kota besar perjalanan yang melelahkan dan bikin masuk angin karena empat jam lebih jendelanya terbuka lalu pandangku teralihkan dengan megahnya baliho-baliho raksasa yang tidak pernah ada di kotaku bergambar 2 orang kaya pakai baju rapi sedang berjabat tangan ditambah tulisan bahasa inggris berbelit-belit yang tidak kumengerti artinya baliho lain bergambar mobil sedan mengkilap yang tidak pernah kulihat langsung kutebak harganya mahal sekali baliho lainnya lagi, ada yang bergambar makanan enak dengan piring besar ada yang bergambar rumah mewah dan keluarganya sedang bergandengan ada yang bertulisan angka-angka yang rumit dan nama-nama bank ada yang bergambar film-film barat yang perempuannya pakai baju seksi ada yang bergambar mahasiswa-mahasiswa ganteng dan cantik sedang belajar dan aku tidak bosan memandanginya kutebak juga, nantinya mahasiswa pa...

Mata

Hei, Aku mencinta pada hal-hal sederhana Melihatmu menyelipkan rambut di belakang telinga karena khawatir tampak tidak cukup rapi Ah, akupun juga khawatir tulisan ini sama sekali tidak membawa arti Aku mencinta pada hal-hal sederhana Melihatmu berkenalan dengan anak kucing sambil mengomel tentang mahasiswa-mahasiswa yang begitu mencintai dirinya sendiri