Langsung ke konten utama

Terjebak Kemacetan

Selasa petang di Surabaya
adzan maghrib sahut-menyahut tapi kalah keras dengan guyuran hujan deras
yang juga memaksa makhluk-makhluk ciptaan-Nya
menahan diri untuk tidak beringas di tengah kemacetan jalan raya yang berkilo-kilo panjangnya

kami semua ada di dalam kemacetan itu

ketika
anak-anak kecil di gang kampung hujan-hujanan mumpung bapaknya belum datang
mereka lebih takut ditampar dan dihajar daripada diculik setan
di bawah jembatan penyebrangan orang-orang tua memarkir motornya dan mengerumuni gerobak bakso
sesaat bahagia sambil kepanasan lidahnya kena kuah panas
si penjual itu lebih lama bahagianya
syukur hujan membawa berkah dan bisa tidur nyenyak nanti malam

umpatan dan bunyi klakson tak bermakna lagi
tak bisa mewakili amarah dan ketakutan mereka
rasa syukur dan kepuasan yang ini hanyalah semu
ketidaksadaran terlalu lama ada dalam penderitaan
senyum yang selalu pura-pura
saat menjilat pada atasan tempat kerjanya
maupun saat menahan lapar di depan putra putrinya
mereka semua hanyalah orang-orang baik yang dibohongi karena menutup diri
yang ingin segera pulang dan merebahkan diri kelelahan
yang mengganti-ganti harapan karena tahu tak akan kesampaian
yang menanti-nanti jawaban Tuhan dan akhir pekan

Hujan telah meredam riuh perebutan kekuasaan dan tangis kesengsaraan
melancarkan menuju langit doa orang-orang yang tanahnya digusur rezim pembangunan atas nama estetika

sementara
aku sedang merasa rindu
nafasmu yang cepat memburu
jari-jarimu yang mencengkeram kerah kemejaku
bibirmu yang basah olehku
kau adalah ketidaksempurnaan yang begitu kucintai
ah, aku jengkel sepatuku kemasukan air

***
MH, Jember, 29 Desember 2017
Untuk adik-adikku Teater Rumpun Padi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Klakson

     Dugaanmu cerita singkat ini mendeskripsikan penderitaan hidup di kota dan berakhir begitu-begitu saja. Tunggu. Kau harus baca. Aku akan memulainya dengan antrian panjang kendaraan para pekerja yang ingin segera pulang di lampu merah. Lampu merah yang beberapa waktu setelahnya berubah menjadi hijau tapi antrian tidak bergerak sebab dihentikan polisi dan mobil pejabat yang akan segera lewat dari jalan lainnya. Itu-itu saja? Ya, itu-itu saja. Aku berulang mengalaminya dan merasa kesal tidak dapat melakukan apa-apa. Rasa kesal yang kemudian menjadi berlipat-lipat mengetahui orang-orang juga tidak dapat melakukan apa-apa, atau malah terkesan tidak ingin sebab ekspresi mereka menunjukkan seakan tidak sedang terjadi apa-apa.      Tapi tidak, petang itu. Dari jalan Ciliwung, lampu merah berubah jadi hijau. Antrian kendaraan tidak bergerak, tapi mesinnya menderu-deru. Tiga polisi menghentikannya, mengayun-ayunkan stick berlampu. Jelas mobil pejabat akan lewat. ...

Buku: Kukila - M Aan Mansyur

"Brengsek!", kataku usai membaca 'Aku Selalu Bangun Lebih Pagi'. Aku berhadapan lagi dengan karangan Aan, yang memang seringkali membuatku mengumpat. Gejolak masa muda, ciuman, perselingkuhan, pulang kampung saat lebaran, dan kisah sederhana-rumit-dewasa lain ada dalam kumcer Kukila. Begitu harmonis perpaduan antara; tema aktual yang diusung, unsur kedaerahan Aan, cerita yang pilu (atau lucu, atau brengsek, atau mengejutkan), dan jalinan kata mind-blowing khas Aan. Tidak jarang pula ceritanya memaksaku merenung atau berdiskusi dengan diri sendiri, menghasilkan kesadaran dan upaya memahami, menghindari penilaian-penilaian. Menjadi sorotan utama kumcer ini, cerpen Kukila itu sendiri. Memakan puluhan halaman di awal, jauh lebih panjang dari 15 cerpen lainnya. Cerita cinta penuh misteri dan kejutan, alurnya mengalir nikmat, mengantarku pada kenyataan, pelajaran tentang kemanusiaan. Aku selalu mengagumi bagaimana Aan membaca kejadian/momen dengan begitu detail, dan ke...