Langsung ke konten utama

Bulan Wisuda

bulan-bulan yang mendung
pekerja-pekerja pabrik pulang petang membawa sepuluh tusuk sate dan pentol seharga lima ribu
berlari kecil dinanti-nantikan putra-putrinya yang kelaparan
anak-anak itu, mereka sama sekali tidak bisa berkonsentrasi belajar matematika dan ilmu pengetahuan sosial
mereka sama sekali kesulitan menghafal teks skenario sejarah di buku-buku sekolah
dan mereka amat ketakutan karena besok ada ulangan

bulan-bulan yang mendung dan sering angin kencang
baliho-baliho besar wakil rakyat yang rangkanya bambu hampir ambruk
tapi gambar wajah, seragam dan slogannya masih jelas dilihat pengendara yang terpaksa berhenti karena lampu lalu lintas masih merah
mereka memandanginya hanya satu sampai tiga detik karena tidak kenal
malahan anak mereka di jok depan yang tertarik belajar mengeja karena tulisannya besar-besar
terkadang lucu mendengar pengendara membunyi-bunyikan klakson yang suaranya seperti kentut
terlalu mahal beli aki baru, apalagi motor baru


bulan-bulan yang mendung dan sering hujan deras
baliho-baliho lebih besar lagi kokoh berdiri di tengah kota
bergambar iklan produk-produk dan jasa-jasa terbaru yang melambai-lambai pada mata
slogannya mantap dan tidak berbelit-belit
dipikirkan matang-matang oleh copywriternya
teknologi baru, lebih bagus, lebih mudah, lebih gaya, lebih beda, lebih praktis, menjawab kebutuhan perkembangan jaman, mempermudah pekerjaan, lebih menyejahterakan
dan yang jelas lebih mahal
bersamaan dengan itu gencar pula program dari perusahaan perkreditan yang entah menguntungkan sementara atau ternyata mencekik di akhir cerita

bulan-bulan yang mendung dan sering hujan deras
seorang ibu gelisah menanti suami pulang menarik becak
sumpek dengan bayinya yang menangis melolong seperti setan
kemudian ibu itu membentak tanpa sengaja pada tetangga yang menagih biaya tv kabel bulanan
pukul delapan suaminya pulang dan ngobrol dengan tukang bakso
"kota kecil sekarang juga sudah macet. Seperti Surabaya!
sekarang satu orang satu kendaraan, bisa bertahan berapa lama jalan-jalan dibesarkan?"

bulan-bulan yang mendung dan sering hujan deras
di satu daerah banyak keluarga menanti kepastian di tenda-tenda karena tanahnya diratakan pemerintah dengan dalih kehidupan yang lebih layak
di daerah lain petani-petani dikriminalisasi, diteror
dipukuli preman-preman dan aparat
karena mempertahankan tanahnya dari traktor-traktor berlabelkan perusahaan yang menyatakan bahwa hasil produksinya dibutuhkan masyarakat dan pembangunan
banyak yang hafal slogannya
karena diputar di televisi setiap hari
tidak lebih sedikit jam tayangnya dibandingkan dengan sinetron india

bulan-bulan yang mendung dan sering hujan deras
ratusan mahasiswa di wisuda dalam ruangan besar yang langit-langitnya menghitam
AC-nya ada belasan tapi ruangan tetap panas karena pemakaian dan perawatan inventaris tidak karuan
kamar mandinya yang pesing tambah pesing dipipisi orang tua-orang tua
pimpinan kampus menyambut dengan ekspresi yang biasa
bosan mengucapkan kalimat motivasi yang sama tiap semesternya
para lulusan menitikkan air mata dan berpelukan selesai acara
begitu mengharukan telah usai kisah menenteng-nenteng buku-buku fotokopi dan ilmu hafalan
begitu mengharukan harus meninggalkan tempat yang jauh dari kehidupan dan nyaman untuk mengasingkan diri
begitu mengharukan telah usai tugasnya mengenyam pendidikan yang hanya membuat mereka tunduk pada perintah atasan, bukan menyelesaikan permasalahan
mereka bahagia sekaligus berdegup jantungnya karena sebentar lagi akan bersaing dengan jutaan lulusan lain untuk mendapatkan tempat terbaik di korporat atau birokrat
mereka pulang
masih dan akan tetap
dalam ketidaktahuan
dalam ketidaksadaran

semoga sukses dan sejahtera hidupmu, mahasiswa!

***

31 Januari 2017
Untuk adik-adikku Teater Rumpun Padi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kota Besar

liburan kenaikan kelas lima sama seperti sebelum-sebelumnya setahun sekali naik mobil jalan-jalan ke rumah Pakde Nono di kota besar perjalanan yang melelahkan dan bikin masuk angin karena empat jam lebih jendelanya terbuka lalu pandangku teralihkan dengan megahnya baliho-baliho raksasa yang tidak pernah ada di kotaku bergambar 2 orang kaya pakai baju rapi sedang berjabat tangan ditambah tulisan bahasa inggris berbelit-belit yang tidak kumengerti artinya baliho lain bergambar mobil sedan mengkilap yang tidak pernah kulihat langsung kutebak harganya mahal sekali baliho lainnya lagi, ada yang bergambar makanan enak dengan piring besar ada yang bergambar rumah mewah dan keluarganya sedang bergandengan ada yang bertulisan angka-angka yang rumit dan nama-nama bank ada yang bergambar film-film barat yang perempuannya pakai baju seksi ada yang bergambar mahasiswa-mahasiswa ganteng dan cantik sedang belajar dan aku tidak bosan memandanginya kutebak juga, nantinya mahasiswa pa...

Catatan: Ibu dan Perempuan-Perempuan Lainnya

     Kabar dari ibu sungguh merusak pagi. Pekerjaan bapak adalah dokter gigi, dan sudah dua bulan jarang datang ke poli karena pandemi. Aktivitasnya hanya menangani keadaan-keadaan darurat, seperti halnya subuh tadi ia tergopoh-gopoh berangkat untuk menjalankan operasi. "Rumah sakit menghubungi. Salah seorang mahasiswi yang diampu bapak masuk UGD. Ia dihajar pacarnya sampai patah tulang rahang. Barangkali remuk".      Aku menggigil seketika. Mikrofon ponsel kujejali sumpah serapah, pada satu kesempatan marah-marah sebab mengetahui sekali lagi praktik kekerasan dalam sebuah hubungan. "Kira-kira terjadi masalah apa, sampai laki-lakinya kesetanan menghajar begitu?", tanya ibu. Tidak! Tidak tentang permasalahan yang sedang mereka berdua alami, tidak pula tentang ikut campur setan dalam kejadian ini! Sungguh identitas gender membuat bangsat itu merasa berhak mendominasi, punya kontrol atas pasangannya, berujung kekerasan pada akhirnya. Sungguh rapuh dan memalu...

Air Mata, Bahagia

cerpen singkat lagi.. hanya mengarang. maaf jelek. bikinnya kesusu. hehe  ************** "kita gak pernah sejalan.. met malem" putra menangis lagi. berkali-kali ia menangis saat malam tak peduli lagi bahwa ia dilahirkan sebagai lelaki badannya kurus, tapi mumpuni lengan penuh tattoo tapi hatinya yang lemah perasaannya yang lemah mengalahkan semua itu ia ingin dimengerti pemikirannya ingin dimengerti tapi apa yang ia pikirkan, tidak pernah sejalan dengan apa yang dipikirkan kekasihnya, tami. gambar, buang gambar, buang gambar, buang untuk melukiskan wajah kekasihnya pun ia tak bisa wajar kalau orang biasa tapi putra berbeda putra lebih "seniman" dibandingkan teman-temannya jika begini ? kesulitan melukiskan wajah kekasihnya yang 4 tahun dia pandang air mata ia menangis ia menangis karena ia tahu, ia lebih mudah melukiskan air mata di wajah kekasihnya yang 4 tahun ia pandang teknik melukis air mata yang sangat putra kuasai rasa sesal ...