Langsung ke konten utama

Kota Besar



liburan kenaikan kelas lima
sama seperti sebelum-sebelumnya
setahun sekali naik mobil jalan-jalan ke rumah Pakde Nono di kota besar
perjalanan yang melelahkan dan bikin masuk angin karena empat jam lebih jendelanya terbuka
lalu pandangku teralihkan dengan megahnya baliho-baliho raksasa yang tidak pernah ada di kotaku
bergambar 2 orang kaya pakai baju rapi sedang berjabat tangan
ditambah tulisan bahasa inggris berbelit-belit yang tidak kumengerti artinya
baliho lain bergambar mobil sedan mengkilap yang tidak pernah kulihat langsung
kutebak harganya mahal sekali
baliho lainnya lagi, ada yang bergambar makanan enak dengan piring besar
ada yang bergambar rumah mewah dan keluarganya sedang bergandengan
ada yang bertulisan angka-angka yang rumit dan nama-nama bank
ada yang bergambar film-film barat yang perempuannya pakai baju seksi
ada yang bergambar mahasiswa-mahasiswa ganteng dan cantik sedang belajar
dan aku tidak bosan memandanginya
kutebak juga, nantinya mahasiswa pasti jadi insinyur dan uangnya banyak


kemudian mobil melewati restoran yang sangat besar
sayangnya tidak terbuka seperti rumah makan padang
aku tidak bisa melihat makanan apa saja yang disediakan
tapi yang jelas enak sekali karena parkiran mobil di depannya penuh
aku meminta pada bapak agar nanti malam makan disitu bersama Pakde Nono
Bapak tidak menjawab, malah tertawa bareng ibu
Ibu menoleh ke kursi belakang, membelai rambutku dan aku tidak paham maksudnya

ah, alangkah mengagumkannya kota besar!
Banyak orang naik mobil
banyak orang kaya dan begitu sedikit kemiskinan
tidak pernah kulihat rumah kecil
semuanya gedung megah dan tinggi sampai tidak bisa kuintip ada apa di belakangnya
wah, belakangnya pasti kolam renang!
orang-orang terlihat bahagia
di iklan-iklan semua foto muka sedang tersenyum
lagi-lagi kutebak, pasti begitu sedikit masalah, begitu sedikit pertengkaran
begitu sedikit perceraian seperti yang terjadi di sebelah rumahku
anak-anaknya senang dengan mainan-mainan, bukannya bersedih karena orang tuanya tidak lengkap
semua orang bekerja dengan layak
makmur, sejahtera dan makanannya enak-enak
pakai kemeja bersih dan dasi warna-warni
berangkat pagi pulang sore dengan begitu teratur
kendaraannya mengkilap-mengkilap seliweran di jalan raya mulus
kelihatannya jarang rusak
bengkel dan tambal ban mana laku?
universitas juga! penuh mahasiswa pintar dan boleh gondrong
mereka rajin belajar dan mukanya memperlihatkan kesibukan berorganisasi
nantinya mereka akan mencipta mesin-mesin yang bisa bekerja seperti manusia dan dilombakan di luar negeri
jelas akan membanggakan indonesia
tapi dari semua itu, tetap yang kusukai dari kota besar adalah baliho-baliho yang bagus-bagus gambarnya!

***

Untuk adik-adikku Teater Rumpad
MH, Surabaya, 13 Februari 2017

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan: Ibu dan Perempuan-Perempuan Lainnya

     Kabar dari ibu sungguh merusak pagi. Pekerjaan bapak adalah dokter gigi, dan sudah dua bulan jarang datang ke poli karena pandemi. Aktivitasnya hanya menangani keadaan-keadaan darurat, seperti halnya subuh tadi ia tergopoh-gopoh berangkat untuk menjalankan operasi. "Rumah sakit menghubungi. Salah seorang mahasiswi yang diampu bapak masuk UGD. Ia dihajar pacarnya sampai patah tulang rahang. Barangkali remuk".      Aku menggigil seketika. Mikrofon ponsel kujejali sumpah serapah, pada satu kesempatan marah-marah sebab mengetahui sekali lagi praktik kekerasan dalam sebuah hubungan. "Kira-kira terjadi masalah apa, sampai laki-lakinya kesetanan menghajar begitu?", tanya ibu. Tidak! Tidak tentang permasalahan yang sedang mereka berdua alami, tidak pula tentang ikut campur setan dalam kejadian ini! Sungguh identitas gender membuat bangsat itu merasa berhak mendominasi, punya kontrol atas pasangannya, berujung kekerasan pada akhirnya. Sungguh rapuh dan memalu...

Air Mata, Bahagia

cerpen singkat lagi.. hanya mengarang. maaf jelek. bikinnya kesusu. hehe  ************** "kita gak pernah sejalan.. met malem" putra menangis lagi. berkali-kali ia menangis saat malam tak peduli lagi bahwa ia dilahirkan sebagai lelaki badannya kurus, tapi mumpuni lengan penuh tattoo tapi hatinya yang lemah perasaannya yang lemah mengalahkan semua itu ia ingin dimengerti pemikirannya ingin dimengerti tapi apa yang ia pikirkan, tidak pernah sejalan dengan apa yang dipikirkan kekasihnya, tami. gambar, buang gambar, buang gambar, buang untuk melukiskan wajah kekasihnya pun ia tak bisa wajar kalau orang biasa tapi putra berbeda putra lebih "seniman" dibandingkan teman-temannya jika begini ? kesulitan melukiskan wajah kekasihnya yang 4 tahun dia pandang air mata ia menangis ia menangis karena ia tahu, ia lebih mudah melukiskan air mata di wajah kekasihnya yang 4 tahun ia pandang teknik melukis air mata yang sangat putra kuasai rasa sesal ...