Mohon maaf
aku masih sering bangun kesiangan karena malam sebelumnya onani
masih tertawa-tawa menghina diri sendiri
masih tenggelam dalam maya, tidur kehabisan tenaga dalam nyata
menghafalkan buku pelajaran dan lagu cinta
mencari jati diri
lewat layar kecil 14 inci di rumah-rumah semi permanen kolong jalan tol
mereka masih tetap tersenyum bahagia, penuh harap, dan memupuk doa menyaksikan iklan sirup dan teh hangat
matahari naik besok, mereka puasa dan digusur
petugas yang membentak-bentak itu sama miskinnya
sementara di atas gedung pahala dan keuangan mengalir sama derasnya
jalanan tak pernah ingat nama bulan
januari, februari, maret, lalu lupa sekarang ramadhan
mereka masih ganas, masih meludah, masih marah
masih korup, berebut hak lupa kewajiban
kendaraan-kendaraan tak pernah ingat waktu
saat berbuka dan sebelum tidur mendengar imam-imam merangkai makna puasa yang masih tersisa
mereka masih mengeluh tapi enggan terlambat
masih menantang aspal dan menjilat pimpinan yang sama korupnya
masih memaki sambil membonceng anaknya yang masih SD
masih dan akan terus hidup penuh penyesalan
banyak pejabat memimpin tarawih di perumahannya
masih hafal surat-surat panjang, kebohongan sejarah dan nomer telepon penyedia parsel
masih hafal ayat-ayat yang melarang takabur, iri dengki, mencuri, merampok, memfitnah, memerkosa, dan minum alkohol
masih lupa pada korban kemanusiaan dalam kubur yang punya nama, bukan sekedar angka
makmum tua bergerak perlahan khusyuk menghadap Tuhan, ingat mati
makmum yang lain terkantuk-kantuk maupun menggaruk-garuk, ingin segera usai
panas hawa masjid dan tawa anak kecil berlarian menjelaskan kemurnian
oh ya, tapi terkadang beberapa bayi sulit tidur karena suara toa yang terlalu keras
sampailah kita pada hari puncak yang suci
putih, bersih
kelap-kelip
wangi menyengat dan perhiasan yang gemerincing
berkostum terbaik, berjalan berbondong-bondong menuntut berkah dan perhatian
sepulang sholat bersalam-salaman, bermaafan
mencium pipi, saling memuji, sebelum nantinya menggunjing lagi
ah, si pasangan yang masih pembunuh
tak kuasa dan ingin segera pulang duluan
ucapan-ucapan kehilangan arti
masih dari lisan, pesan pendek, sosial media
masih dari baliho-baliho raksasa yang berjajar di jalan raya
wajah-wajah itu melemparkan senyum yang memuakkan
mari belajar minta maaf pada diri sendiri
masihkah kita benci melihat orang tua yang mengambil amplop THR anaknya
kemudian cepat-cepat memasukkannya dalam saku celana?
Selamat Idul Fitri
untuk tahun ini
juga untuk tahun-tahun berikutnya
jangan terlalu sering menonton televisi
***
MH, 26 Juni 2017
Untuk adik-adikku Teater Rumpun Padi

Komentar
Posting Komentar