Langsung ke konten utama

Minggu, Hari yang Panjang



laki-laki muda duduk di depan teras rumahnya
makan perlahan nasi lauk telur di piring sambil menimbang-nimbang tawaran pekerjaan
syukur digempur gelisah ketika waktu dan jerih payah harus berlawanan dengan kemerdekaan
ketika uang dan kesejahteraan kadang bertolakbelakang dengan hak-hak dan kemanusiaan
konsep mereka tentang saling membutuhkan telah menyingkirkan hubungan manusia, etika dan kesan-kesan
Ya Tuhan
meski tak ada seorangpun yang mempersalahkan


orang-orang itu lupa sarapan dan lupa memanusiakan diri
mereka memencet klakson kendaraan sambil marah-marah
meramaikan pergulatan jalan raya di pagi hari
mereka memakai arloji di tangan kiri tapi ketakutan melihatnya
mereka juga ketakutan melihat loper koran, pengemis dan kenyataan di lampu merah
pandangan terus ke depan karena ciut nyalinya, bersamaan diperintah otak tangan mereka menolak
sistem hampir mutlak memerkosa akal sehat dan nurani
keramahan yang palsu
mereka penjilat
dan bos mereka tidak puas akan kekuasaan, keinginan pribadi dan perasaan dibutuhkan
sekujur tubuhnya basah dan basin berlumur air liur

minggu, hari yang panjang
adalah kesempatan untuk mengisi diri dan banyak orang dengan kebaikan-kebaikan
menangis dan tertawa-tawa merindukan hari-hari kemarin
memperbaiki kesalahan
menerima kekalahan
mencari
berbagi ilmu, pelukan dan rencana
mendekatkan diri pada Tuhan
masak di rumah atau keliling kota menuju tempat makan langganan

besok hari senin
ia berpura-pura siap
menantang dirinya sendiri
membangun pengertian dan keberanian
untuk generasi dan hari depan

***

Lantunan musik Sisir Tanah yang berjudul Lagu Hidup sedang saya dengarkan, berikut liriknya,

"Kita akan selalu butuh tanah
Kita akan selalu butuh air
Kita akan selalu butuh udara
Jadi teruslah merawat

Jika kau masih cinta kawan dan saudara
Jika kau masih cinta kampung halamanmu
Jika kau cinta jiwa raga yang merdeka
Tetap saling melindungi

Dan harus berani, harus berani
Jika orang-orang serakah datang
Harus dihadang

Harus berani, harus berani
Jika orang-orang itu menyakiti
Harus bersatu menghadapi

Sedihmu adalah sedihku juga
Sakitmu sakitku sakit kita manusia
Bahagiaku takkan lengkap tanpa bahagiamu
Bahagiakanlah kehidupan

dan harus berani,
harus berani harus berani,
harus berani,
harus berani
harus berani,
harus berani,
harus berani"

-Sisir Tanah

***

MH, Surabaya, 5 Maret 2017
ditulis untuk adik-adikku Teater Rumpun Padi

Komentar

  1. Lanjutkan boss

    Semoga kata yang tak sempat bisa tersampaikan.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan: Ibu dan Perempuan-Perempuan Lainnya

     Kabar dari ibu sungguh merusak pagi. Pekerjaan bapak adalah dokter gigi, dan sudah dua bulan jarang datang ke poli karena pandemi. Aktivitasnya hanya menangani keadaan-keadaan darurat, seperti halnya subuh tadi ia tergopoh-gopoh berangkat untuk menjalankan operasi. "Rumah sakit menghubungi. Salah seorang mahasiswi yang diampu bapak masuk UGD. Ia dihajar pacarnya sampai patah tulang rahang. Barangkali remuk".      Aku menggigil seketika. Mikrofon ponsel kujejali sumpah serapah, pada satu kesempatan marah-marah sebab mengetahui sekali lagi praktik kekerasan dalam sebuah hubungan. "Kira-kira terjadi masalah apa, sampai laki-lakinya kesetanan menghajar begitu?", tanya ibu. Tidak! Tidak tentang permasalahan yang sedang mereka berdua alami, tidak pula tentang ikut campur setan dalam kejadian ini! Sungguh identitas gender membuat bangsat itu merasa berhak mendominasi, punya kontrol atas pasangannya, berujung kekerasan pada akhirnya. Sungguh rapuh dan memalu...

Rumah yang Muram

"Nanang masih seperti itu, Dik Narno?", kataku berbisik-bisik, khawatir terdengar dari kamar. "Sudah lebih baik Mas Har. Sudah banyak makan dan banyak bicara padaku di saat tertentu. Tapi kalau tidak ada siapa-siapa yang ngajak bicara ya dia tetap memilih di kamar."  " Woh , pernah mbahas nikah?" "Ya ndak pernah. Dia ya berusaha melupakan dan goblok juga kalau aku mengungkit lagi. Masak aku tanya 'sudah melupakan belum?', kan ya ndak mungkin. Kalau sudah marah bahaya." "Ya jelas, kan nurun Dik Narno." Tawa kita berdua meledak mengisi sepi sebentar. Minggu siang ini, langit kota Blora sedang mendung. Tak banyak kendaraan sliwar-sliwer memang karakter hari Minggu. Aku berkunjung ke rumah saudara jauh, Narno, setelah mendapat laporan dari mbak ku. Katanya kemarin Narno tidak bisa dihubungi sampai malam hari dan saat di telepon rumah, anaknya mengatakan Narno pergi tanpa bilang apa-apa.  Rumahnya tidak begi...

Klakson

     Dugaanmu cerita singkat ini mendeskripsikan penderitaan hidup di kota dan berakhir begitu-begitu saja. Tunggu. Kau harus baca. Aku akan memulainya dengan antrian panjang kendaraan para pekerja yang ingin segera pulang di lampu merah. Lampu merah yang beberapa waktu setelahnya berubah menjadi hijau tapi antrian tidak bergerak sebab dihentikan polisi dan mobil pejabat yang akan segera lewat dari jalan lainnya. Itu-itu saja? Ya, itu-itu saja. Aku berulang mengalaminya dan merasa kesal tidak dapat melakukan apa-apa. Rasa kesal yang kemudian menjadi berlipat-lipat mengetahui orang-orang juga tidak dapat melakukan apa-apa, atau malah terkesan tidak ingin sebab ekspresi mereka menunjukkan seakan tidak sedang terjadi apa-apa.      Tapi tidak, petang itu. Dari jalan Ciliwung, lampu merah berubah jadi hijau. Antrian kendaraan tidak bergerak, tapi mesinnya menderu-deru. Tiga polisi menghentikannya, mengayun-ayunkan stick berlampu. Jelas mobil pejabat akan lewat. ...