Langsung ke konten utama

Naik Pangkat



Ibu menyuruhku untuk belajar sehabis maghrib
lalu tidur pukul sembilan
Ibu akan memukul bokongku dengan penebah
kalau aku terlambat pulang setelah bermain
atau kalau nilai rapotku jelek
atau kalau malam-malam mencuri waktu untuk menonton tv 
Ibu sering menangis
dan berkata padaku untuk jangan pernah menangis

Ibu mengajarkanku tentang kehormatan
cara memandang, bicara, berjalan dan berlaku sehormat-hormatnya
Ibu sedikit bicara dan mengajarkanku tentang keyakinan
memberikan pemahaman agar aku patuh dan tidak banyak bertanya
Ibu membela sepenuh hati saat aku dihajar anak tetangga
Berdiri dengan kekuatanku sendiri, takkan kuterima apa-apa yang mengancam keutuhan bangsa
Ibu pernah menamparku saat aku berbohong
telah kuhajar pula, ketika mereka memaki dan berteriak gila mengakui apa yang bukan haknya
Ibu adalah orang yang ikhlas
aku tidak begitu simpati pada mereka yang tersedu-sedu berpisah dengan anggota keluarganya
Ibu pernah mengajarkan aku untuk tegar
air mata dan berita orang-orang yang dulunya membahayakan negara itu takkan bisa mengubah keputusanku

Ibu, aku rindu

Ibu, aku telah mencium nisanmu sebelum bertugas saat lalu
aku telah mencium bendera merah putih dan menyebut nama Tuhan setelah mengucap sumpah
aku juga telah mencium tangan jendral pimpinan yang sangat kuhormati sewaktu ada kesempatan bertemu
Ibu, tangannya bau anyir darah

***
MH, Surabaya, 24 Oktober 2017
Untuk adik-adikku Teater Rumpun Padi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Klakson

     Dugaanmu cerita singkat ini mendeskripsikan penderitaan hidup di kota dan berakhir begitu-begitu saja. Tunggu. Kau harus baca. Aku akan memulainya dengan antrian panjang kendaraan para pekerja yang ingin segera pulang di lampu merah. Lampu merah yang beberapa waktu setelahnya berubah menjadi hijau tapi antrian tidak bergerak sebab dihentikan polisi dan mobil pejabat yang akan segera lewat dari jalan lainnya. Itu-itu saja? Ya, itu-itu saja. Aku berulang mengalaminya dan merasa kesal tidak dapat melakukan apa-apa. Rasa kesal yang kemudian menjadi berlipat-lipat mengetahui orang-orang juga tidak dapat melakukan apa-apa, atau malah terkesan tidak ingin sebab ekspresi mereka menunjukkan seakan tidak sedang terjadi apa-apa.      Tapi tidak, petang itu. Dari jalan Ciliwung, lampu merah berubah jadi hijau. Antrian kendaraan tidak bergerak, tapi mesinnya menderu-deru. Tiga polisi menghentikannya, mengayun-ayunkan stick berlampu. Jelas mobil pejabat akan lewat. ...

Buku: Kukila - M Aan Mansyur

"Brengsek!", kataku usai membaca 'Aku Selalu Bangun Lebih Pagi'. Aku berhadapan lagi dengan karangan Aan, yang memang seringkali membuatku mengumpat. Gejolak masa muda, ciuman, perselingkuhan, pulang kampung saat lebaran, dan kisah sederhana-rumit-dewasa lain ada dalam kumcer Kukila. Begitu harmonis perpaduan antara; tema aktual yang diusung, unsur kedaerahan Aan, cerita yang pilu (atau lucu, atau brengsek, atau mengejutkan), dan jalinan kata mind-blowing khas Aan. Tidak jarang pula ceritanya memaksaku merenung atau berdiskusi dengan diri sendiri, menghasilkan kesadaran dan upaya memahami, menghindari penilaian-penilaian. Menjadi sorotan utama kumcer ini, cerpen Kukila itu sendiri. Memakan puluhan halaman di awal, jauh lebih panjang dari 15 cerpen lainnya. Cerita cinta penuh misteri dan kejutan, alurnya mengalir nikmat, mengantarku pada kenyataan, pelajaran tentang kemanusiaan. Aku selalu mengagumi bagaimana Aan membaca kejadian/momen dengan begitu detail, dan ke...