Ibu menyuruhku untuk belajar sehabis maghrib
lalu tidur pukul sembilan
Ibu akan memukul bokongku dengan penebah
kalau aku terlambat pulang setelah bermain
atau kalau nilai rapotku jelek
atau kalau malam-malam mencuri waktu untuk menonton tv
Ibu sering menangis
dan berkata padaku untuk jangan pernah menangis
Ibu mengajarkanku tentang kehormatan
cara memandang, bicara, berjalan dan berlaku sehormat-hormatnya
Ibu sedikit bicara dan mengajarkanku tentang keyakinan
memberikan pemahaman agar aku patuh dan tidak banyak bertanya
Ibu membela sepenuh hati saat aku dihajar anak tetangga
Berdiri dengan kekuatanku sendiri, takkan kuterima apa-apa yang mengancam keutuhan bangsa
Ibu pernah menamparku saat aku berbohong
telah kuhajar pula, ketika mereka memaki dan berteriak gila mengakui apa yang bukan haknya
Ibu adalah orang yang ikhlas
aku tidak begitu simpati pada mereka yang tersedu-sedu berpisah dengan anggota keluarganya
Ibu pernah mengajarkan aku untuk tegar
air mata dan berita orang-orang yang dulunya membahayakan negara itu takkan bisa mengubah keputusanku
Ibu, aku rindu
Ibu, aku telah mencium nisanmu sebelum bertugas saat lalu
aku telah mencium bendera merah putih dan menyebut nama Tuhan setelah mengucap sumpah
aku juga telah mencium tangan jendral pimpinan yang sangat kuhormati sewaktu ada kesempatan bertemu
Ibu, tangannya bau anyir darah
***
MH, Surabaya, 24 Oktober 2017
Untuk adik-adikku Teater Rumpun Padi

Komentar
Posting Komentar