Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Buku: The Catcher In The Rye - J.D. Salinger

     Berlagak intelektual mereka mengusung standar moral dan ke-konservatif-annya mengulas The Catcher in The Rye. Remaja, labil, identitas, gelisah, negatif, pemberontak, kasar. Halah jancuk, kosakata yang memuakkan. Sementara kami sakau quotes sampul belakang buku, copywriter iklan, penyair instagram sampai mentri pendidikan. "Mengapa buku ini disukai para pembunuh?". Penasaran? Halah jancuk, kita semua egois dan munafik, persis sama seperti subjek yang dicaci maki Caulfield/Salinger tanpa ampun dalam bukunya.      Caulfield, caulfield, caulfield. Aku pikir kita sama muaknya mendengar si peran utama ini dituturi banyak tokoh munafik (yang selalu bikin caulfield ingin muntah). Eh ndilalah, banyak ulasan yang, caulfield, caulfield, caulfield. Tertekan, terasing, terjebak. Hentikan. Lewat Caulfield, Salinger sedang menelanjangi kita yang tidak berhati, pendengki, rakus, penjilat, fanatik, picik, munafik, hipokrit (wes kabeh lah) dan yang dibutuhkan hany...

Mandi Air Panas

Untukku, mempribadi adalah mandi air panas. Semasa dimandikan sampai mandi sendiri, tubuh cilik ini tidak suka air dingin, bahkan air panas yang hampir mendingin. Maka aku tidak pernah mau pakai ember. Kurang praktis tapi nikmat luar biasa, kuisi gayung dengan 4/5 air dingin, 1/5-nya air umup dari dalam ceret. Sekali gebyur, isi lagi. Begitu sampai sabunan dan selesai. Mandi air panas, adalah setengah jam di tengah malam yang mengingatkan masa bahagia mengetahui lampu jalan membuat bayanganku dan aku sendiri tak henti balapan. Menyadarkan bahwa kemarau-hujan kemarau-hujan terus mendewasa dan memburuk komunikasinya. Mandi air panas adalah setengah jam di tengah malam meninggalkan kemunafikan dan mensyukuri kehampaan. Alternatif jika tak sempat mampir ke tempat minum bir atau waktu ingin mendengar Stacey Kent satu album tapi Spotify tidak premium. Kepulnya penuh, naik membentuk atap rumah, mendengar percik air berkeluh kesah. Surabaya, 20 November 2019

Buku: Corat-Coret di Toilet - Eka Kurniawan

Kumcer dengan cover hijau mentereng ini (cover yang baru. Dalam foto, penulis baru saja dapat cover lama) adalah buku Eka Kurniawan yang pertama kali kubaca. Sejumlah 12 cerpen mengusung bermacam narasi lika-liku kehidupan. Bisa dikata ringan, jauh dari kemegahan kata-kata. Sebagaimana mestinya sastra bekerja, Eka berkisah tentang bumi manusia dengan segala persoalannya. "Wasyu!", ujarku usai membaca cerpen 'Corat-Coret di Toilet' (sama dengan judul buku) sambil ndodok di toilet (pas kan!). Provokatif. Gambaran keadaan semasa orba-pasca orba yang mencekam dikemas lucu dan mindblowing. Bumbu makian-makian Eka benar-benar bikin panas hati. Saking asyiknya membaca, lupa kalau sudah lama ndodok, walhasil gringgingen. Tiga yang benar bikin mata berkaca-kaca. Peter Pan; pemuda pemberani yang dihilangkan paksa oleh pemerintah diktator, kemudian si pasangan menikah dengan puisi-puisinya. Tertangkapnya Si Bandit Kecil Pencuri Roti; bocah penghuni hutan kecil di pinggira...

Buku: Whiteboard Journal Open Column "Kesetaraan dan Keberagaman"

Nama-nama pada sampul adalah milik orang-orang baik. Mereka yang mengisi 118 halaman buku dalam upayanya memperjuangkan kemanusiaan. Whiteboard Journal Open Column; kesetaraan dan keberagaman. Membuka tiap lembar halamannya, mempertemukanku dengan teman diskusi. Dengan pandangan-pandangan baru. Dengan pengalaman senang-sedih, pahit getir, ngeri-haru. Jika Whiteboard Journal menyatakan bahwa buku ini adalah waktu bicara, maka membacanya adalah upaya menjadi pendengar yang baik! Halaman pertama berkisah tentang kedekatan emosional  @andriesasono  yang beragama Muslim dan Omanya yang beragama Kristiani. Hangat dan mendamaikan. @p.d.p.s  dan  @madaadzani  mengajak kita jalan-jalan menuju Cirebon masa lalu, menyusur jejak peradaban dan masyarakat yang sangat bersahabat. Rumah ibadah berbeda-beda dibangun berdekatan, kemajemukan tumbuh berdampingan.  @anastasyalavenia  dan  @sluttyfuhrer  mengamati Twitter, memaparkan bahwa kesadaran kita terhad...

Restoran

Aku benci berada di restoran mewah. Aku melihat orang-orang yang membuka pintu dan tidak menutupnya kembali perlahan sehingga pintu itu terbanting. Aku melihat orang-orang yang tidak berterimakasih kepada pelayan yang membukakan pintu. Orang-orang itu memesan, berbicara ini-itu tanpa mau berpandangan. Bahkan terkadang membentak. Aku melihat senyum dan keramahan yang tidak dibalas. Aku melihat pelayan lain yang berlarian dan berupaya tenang, sementara orang-orang itu tak sabar meminta mejanya dibersihkan. Aku melihat anak-anak kecil berlarian dan berteriak-teriak, pesuruh orang-orang itu mengejar sambil kelelahan, sementara mereka sendiri duduk membicarakan hal-hal yang tidak penting. Aku mendengar hal-hal yang tidak penting itu dibicarakan keras-keras. Aku mendengar suara tertawa yang juga keras dan sangat mengganggu. Aku melihat pesuruh-pesuruh makan belakangan. Aku melihat anak kecil yang menangis karena kepalanya terbentur meja, dan orang tuanya menyalahkan meja itu. "Mejanya...

Membakar Rumah Tetangga

Sebenarnya, orang itu sangat ramah. Sedikit bicara, tapi perilakunya santun dan penuh hormat. Warga turut menaruh hormat padanya. Hingga kemudian kampung menjadi gempar. Ia ditahan pihak kepolisian karena telah membakar rumah tetangga. Tengah malam, setelah menyiramkan bensin ke sekeliling rumah, ia lemparkan puntung rokok yang baranya masih menyala hingga api membakar perlahan bagian depan. Setelahnya, ia tidak lari. Ia tetap berdiri disitu, memandangi rumah itu, tangan kirinya masih memegang jirigen kosong. Warga sekitar berlarian. Mereka panik, lainnya menghubungi polisi, lainnya lagi mencari cara untuk memadamkan. Sampai para peronda mencoba meringkusnya, orang itu tidak melawan. Tidak berontak saat diamankan. Diam saja ketika dibentak, dimintai penjelasan. Dingin. Sesekali berkedip, matanya terus menatap api yang berkobar semakin besar. Si tetangga yang tidak sempat menyelamatkan diri, mati terbakar. "Ternyata kejam benar ya!", batin beberapa warga. Sehari sebel...

Buku: Totto-chan Gadis Cilik Di Jendela - Tetsuko Kuroyanagi

"Wah! Jadi anda akan menjadi menjadi guru kami hari ini", seru anak-anak penuh semangat. "Tidak!", kata pria itu sambil menggoyang-goyangkan kedua tangan di depan wajahnya. "Aku bukan guru! Aku hanya petani. Kepala sekolah kalian memintaku mengajarkan apa yang aku tahu. Itu saja". "Oh, itu tidak benar. Dia guru. Dia guru pertanian kalian", kata Kepala Sekolah yang berdiri di samping petani itu. Totto-chan. Tidak sulit menemukan ulasannya, narasi pengaruh besarnya untuk dunia. Seperti tertulis di belakang buku, rangkaian cerita dan tokoh-tokoh penting seperti Mama, Kepala Sekolah, dan Totto-chan sendiri, memberi pembaca begitu banyak pelajaran berharga tentang persahabatan, rasa hormat dan menghargai orang lain, serta kebebasan menjadi diri sendiri. Peradaban menuju kehancuran. Kita hidup bersama langgengnya kekerasan, kebencian, peperangan. Ketika hati manusia mendingin, sekarat, mati, membaca cerita-cerita baik di tiap lembar Totto-cha...

Buku: Transit - Seno Gumira Ajidarma

Usai Saksi Mata dan Iblis Tak Pernah Mati, saya menebak-nebak, kengerian apa lagi yang diusung SGA pada kumcer terbarunya, Transit . Benar dugaan saya. Kumpulan cerpen yang ditulis rentang waktu 2003-2019 ini dibuka dengan 'Jakarta City Tour' yang amat mengerikan dan memualkan. Mengisahkan turis-turis luar negeri yang dipaksa mengikuti tur wisata pelanggaran HAM kala pembantaian '65 disambung kerusuhan '98, dan SGA begitu detail menuliskan ngeri-ngerinya. Segawon, cerpen yang saya rasa sangat apik. Kegelisahan terhadap masyarakat dan makna kehormatan diceritakan lewat sudut pandang seorang pengemis. Latar kota Paris digambarkan ramai namun sunyi, konsisten menemani alur cerita yang berakhir sangat menyesakkan hati. Pembaca SGA akan tahu apa yang saya maksudkan. Muncul kembali narasi pelanggaran HAM pada cerpen Gokill dan Setan Becak. Pada Setan Becak, cerita hantu dibarengi paparan kejadian pembantaian '65 menghadirkan kengerian dua kali lipat, ditambah lagi cerp...

Cerita Tentang Sandal

Tangisan Ica memang melolong-lolong. Tapi bukan seperti serigala dalam film yang suaranya memang dirancang sedemikian rupa untuk dinikmati. Yang ini begitu keras dan memekakkan telinga. Entah bagaimana bisa, selalu ada saja perkara-perkara yang membuat bocah 4 tahun cucu tetangga depan kos-kosan itu menangis tiap pagi. Neneknya juga begitu. Mungkin, kerinduan si nenek pada suaminya yang telah lama mati, persoalan rumah tangga, tekanan ekonomi dan tempat tinggal, semua tersalurkan menjadi bentakan-bentakan yang tidak kalah memekakkan telinga. ‘Diaam!, Nangis terus!, tak kancingi di kamar ya! Kamu mau apa?!’, dan berbagai bentakan lain mencoba menandingi tangisan si bocah. Tangisan dan bentakan yang bersahutan itu sudah menjadi alarm bangun pagiku. Saking seringnya, hampir tiap pagi. Tapi semua itu hanya bisa kudengar. Tak pernah sekalipun sempat kulihat dari jendela kamar, karena harus buru-buru mandi dan berangkat kerja. Takut terlambat. "Biasa Ica itu, mas. Ibunya nja...