Langsung ke konten utama

Buku: Whiteboard Journal Open Column "Kesetaraan dan Keberagaman"


Nama-nama pada sampul adalah milik orang-orang baik. Mereka yang mengisi 118 halaman buku dalam upayanya memperjuangkan kemanusiaan. Whiteboard Journal Open Column; kesetaraan dan keberagaman.
Membuka tiap lembar halamannya, mempertemukanku dengan teman diskusi. Dengan pandangan-pandangan baru. Dengan pengalaman senang-sedih, pahit getir, ngeri-haru. Jika Whiteboard Journal menyatakan bahwa buku ini adalah waktu bicara, maka membacanya adalah upaya menjadi pendengar yang baik!

Halaman pertama berkisah tentang kedekatan emosional @andriesasono yang beragama Muslim dan Omanya yang beragama Kristiani. Hangat dan mendamaikan.
@p.d.p.s dan @madaadzani mengajak kita jalan-jalan menuju Cirebon masa lalu, menyusur jejak peradaban dan masyarakat yang sangat bersahabat. Rumah ibadah berbeda-beda dibangun berdekatan, kemajemukan tumbuh berdampingan. 
@anastasyalavenia dan @sluttyfuhrer mengamati Twitter, memaparkan bahwa kesadaran kita terhadap demokrasi masih terbatas pada ideologi kebebasan yang individualistis.
Cerita haru tentang warga lokal (Sunda, Betawi, dsb) Kampung Sagalaya yang meminta warga Cina Benteng untuk berlindung di rumah mereka, sewaktu tersebar isu wihara di sekitar kampung akan dibakar dan orang-orang keturunan Cina akan dibunuh, tahun 98, dituturkan heroik oleh @jennianggita
Pengalaman masa kecil @lilyelserisa mungkin pengalaman kita semua. Mengingat lembaga pendidikan, mulai dari yang paling mendasar pun, punya andil besar terhadap timbulnya alergi keragaman.

Ah. Banyak lagi tulisan-tulisan apik yang terkumpul menjadi kekuatan, memperluas wilayah kewarasan, menghantam perilaku intoleran hingga penindasan, memupuk harapan-harapan. Beritahu teman-temanmu untuk membaca buku ini. Karena kupikir, belajar menjadi pendengar yang baik membuka satu jalan tercapainya penghormatan akan kesetaraan dan keberagaman.

Hormat untuk semua penulis. Terima kasih @cholil @cecilmariani @irwanahmett selaku kurator dan penutup bernasnya.

#opencolumnzine #whiteboardjournal #reviewbuku #bukubagus

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan: Ibu dan Perempuan-Perempuan Lainnya

     Kabar dari ibu sungguh merusak pagi. Pekerjaan bapak adalah dokter gigi, dan sudah dua bulan jarang datang ke poli karena pandemi. Aktivitasnya hanya menangani keadaan-keadaan darurat, seperti halnya subuh tadi ia tergopoh-gopoh berangkat untuk menjalankan operasi. "Rumah sakit menghubungi. Salah seorang mahasiswi yang diampu bapak masuk UGD. Ia dihajar pacarnya sampai patah tulang rahang. Barangkali remuk".      Aku menggigil seketika. Mikrofon ponsel kujejali sumpah serapah, pada satu kesempatan marah-marah sebab mengetahui sekali lagi praktik kekerasan dalam sebuah hubungan. "Kira-kira terjadi masalah apa, sampai laki-lakinya kesetanan menghajar begitu?", tanya ibu. Tidak! Tidak tentang permasalahan yang sedang mereka berdua alami, tidak pula tentang ikut campur setan dalam kejadian ini! Sungguh identitas gender membuat bangsat itu merasa berhak mendominasi, punya kontrol atas pasangannya, berujung kekerasan pada akhirnya. Sungguh rapuh dan memalu...

Rumah yang Muram

"Nanang masih seperti itu, Dik Narno?", kataku berbisik-bisik, khawatir terdengar dari kamar. "Sudah lebih baik Mas Har. Sudah banyak makan dan banyak bicara padaku di saat tertentu. Tapi kalau tidak ada siapa-siapa yang ngajak bicara ya dia tetap memilih di kamar."  " Woh , pernah mbahas nikah?" "Ya ndak pernah. Dia ya berusaha melupakan dan goblok juga kalau aku mengungkit lagi. Masak aku tanya 'sudah melupakan belum?', kan ya ndak mungkin. Kalau sudah marah bahaya." "Ya jelas, kan nurun Dik Narno." Tawa kita berdua meledak mengisi sepi sebentar. Minggu siang ini, langit kota Blora sedang mendung. Tak banyak kendaraan sliwar-sliwer memang karakter hari Minggu. Aku berkunjung ke rumah saudara jauh, Narno, setelah mendapat laporan dari mbak ku. Katanya kemarin Narno tidak bisa dihubungi sampai malam hari dan saat di telepon rumah, anaknya mengatakan Narno pergi tanpa bilang apa-apa.  Rumahnya tidak begi...

Klakson

     Dugaanmu cerita singkat ini mendeskripsikan penderitaan hidup di kota dan berakhir begitu-begitu saja. Tunggu. Kau harus baca. Aku akan memulainya dengan antrian panjang kendaraan para pekerja yang ingin segera pulang di lampu merah. Lampu merah yang beberapa waktu setelahnya berubah menjadi hijau tapi antrian tidak bergerak sebab dihentikan polisi dan mobil pejabat yang akan segera lewat dari jalan lainnya. Itu-itu saja? Ya, itu-itu saja. Aku berulang mengalaminya dan merasa kesal tidak dapat melakukan apa-apa. Rasa kesal yang kemudian menjadi berlipat-lipat mengetahui orang-orang juga tidak dapat melakukan apa-apa, atau malah terkesan tidak ingin sebab ekspresi mereka menunjukkan seakan tidak sedang terjadi apa-apa.      Tapi tidak, petang itu. Dari jalan Ciliwung, lampu merah berubah jadi hijau. Antrian kendaraan tidak bergerak, tapi mesinnya menderu-deru. Tiga polisi menghentikannya, mengayun-ayunkan stick berlampu. Jelas mobil pejabat akan lewat. ...