Langsung ke konten utama

Buku: Totto-chan Gadis Cilik Di Jendela - Tetsuko Kuroyanagi



"Wah! Jadi anda akan menjadi menjadi guru kami hari ini", seru anak-anak penuh semangat. "Tidak!", kata pria itu sambil menggoyang-goyangkan kedua tangan di depan wajahnya. "Aku bukan guru! Aku hanya petani. Kepala sekolah kalian memintaku mengajarkan apa yang aku tahu. Itu saja".
"Oh, itu tidak benar. Dia guru. Dia guru pertanian kalian", kata Kepala Sekolah yang berdiri di samping petani itu.

Totto-chan. Tidak sulit menemukan ulasannya, narasi pengaruh besarnya untuk dunia. Seperti tertulis di belakang buku, rangkaian cerita dan tokoh-tokoh penting seperti Mama, Kepala Sekolah, dan Totto-chan sendiri, memberi pembaca begitu banyak pelajaran berharga tentang persahabatan, rasa hormat dan menghargai orang lain, serta kebebasan menjadi diri sendiri.

Peradaban menuju kehancuran. Kita hidup bersama langgengnya kekerasan, kebencian, peperangan. Ketika hati manusia mendingin, sekarat, mati, membaca cerita-cerita baik di tiap lembar Totto-chan dapat kembali membasahinya, menghangatkannya. Terima kasih untuk mbak Widya Kirana selaku penerjemah, sehingga seluruh kalimat dalam buku yang sangat berarti mudah pembaca maknai.

Dalam buku ini, kisah haru anak-anak dan kemanusiaan dihadapkan dengan brutalnya peperangan, mengingatkan saya pada karya Sakae Tsuboi yang terbit 30 tahun sebelum Totto-chan, Dua Belas Pasang Mata. Keduanya sama-sama menghabiskan air mata pembaca, dengan sedikit perbedaan pada sudut pandang tokohnya.

Membaca Totto-chan adalah membaca kemurnian dan ketulusan. Membaca bagaimana semestinya pendidikan. Membaca harapan-harapan dalam selimut kecemasan.

Bagi siapa yang ingin membelinya. Pergi ke toko buku, temukan Totto-chan di rak buku anak!


Catatan:
Suwun banget. Dibawakan @vloek langsung dari yapan, salah satu buku terbaik yang pernah kubaca, tak lain dan tak bukan, Totto-chan!


Totto-chan Gadis Cilik Di Jendela
Penulis: Tetsuko Kuroyanagi
Penerbit: GPU

#tottochan #tetsukokuroyanagi #ruangbacarumpunpadi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kota Besar

liburan kenaikan kelas lima sama seperti sebelum-sebelumnya setahun sekali naik mobil jalan-jalan ke rumah Pakde Nono di kota besar perjalanan yang melelahkan dan bikin masuk angin karena empat jam lebih jendelanya terbuka lalu pandangku teralihkan dengan megahnya baliho-baliho raksasa yang tidak pernah ada di kotaku bergambar 2 orang kaya pakai baju rapi sedang berjabat tangan ditambah tulisan bahasa inggris berbelit-belit yang tidak kumengerti artinya baliho lain bergambar mobil sedan mengkilap yang tidak pernah kulihat langsung kutebak harganya mahal sekali baliho lainnya lagi, ada yang bergambar makanan enak dengan piring besar ada yang bergambar rumah mewah dan keluarganya sedang bergandengan ada yang bertulisan angka-angka yang rumit dan nama-nama bank ada yang bergambar film-film barat yang perempuannya pakai baju seksi ada yang bergambar mahasiswa-mahasiswa ganteng dan cantik sedang belajar dan aku tidak bosan memandanginya kutebak juga, nantinya mahasiswa pa...

CATCH A NOTHING (Indonesia & English)

Jalan yang panjang gersang hanya dapat kutatap fatamorgana organ tubuh seakan ingin berteriak lantang "aku mau mati, aku mau mati" Tatapan kosong tak kunjung usai Kakiku menyeret tak lagi lurus sekali lagi mereka berteriak "aku mau mati, aku mau mati" kecuali hati Tak mau berhenti, terus memaksa tak mau menyerah, semangat membara Padahal mereka ingin menutup mata ingin lepas dari ini, ingin bahagia kecuali hati Sampai kulihat sesosok bayangan Jarakku 1 kilometer dengannya hati memaksa kaki berjalan terengah-engah berharap disambutnya kukedipkan mata dan mendekat jarakku 2 kilometer dengannya kukedipkan mata dan mendekat jarakku 4 kilometer dengannya menjauh aku mendekat dia menjauh menjauh hingga aku terjatuh dan terbaring Long   road   arid I looked   only be   a mirage organs   of the body   as if to   scream   out loud " I   want to die ,   I   want to die " Blank stares   not end Draggi...

Kembali

waktu tak pernah kugenggam apalagi ku sesali berdiri dan berlari tak pernah kuasa apalagi kulawan berdiri dan berlari kita bukan kita aku dan kau masih tersenyum masih bersedih masih mengingat