Langsung ke konten utama

Membakar Rumah Tetangga



Sebenarnya, orang itu sangat ramah. Sedikit bicara, tapi perilakunya santun dan penuh hormat. Warga turut menaruh hormat padanya. Hingga kemudian kampung menjadi gempar. Ia ditahan pihak kepolisian karena telah membakar rumah tetangga.

Tengah malam, setelah menyiramkan bensin ke sekeliling rumah, ia lemparkan puntung rokok yang baranya masih menyala hingga api membakar perlahan bagian depan. Setelahnya, ia tidak lari. Ia tetap berdiri disitu, memandangi rumah itu, tangan kirinya masih memegang jirigen kosong. Warga sekitar berlarian. Mereka panik, lainnya menghubungi polisi, lainnya lagi mencari cara untuk memadamkan. Sampai para peronda mencoba meringkusnya, orang itu tidak melawan. Tidak berontak saat diamankan. Diam saja ketika dibentak, dimintai penjelasan. Dingin. Sesekali berkedip, matanya terus menatap api yang berkobar semakin besar. Si tetangga yang tidak sempat menyelamatkan diri, mati terbakar. "Ternyata kejam benar ya!", batin beberapa warga.


Sehari sebelum kejadian, ada yang mendapati orang itu berjam-jam menangis tak kunjung henti, menatap gundukan tanah di halaman rumahnya. Kucingnya mati. Dengar-dengar, kucing itu mati setelah disiram air panas dan dipukuli si tetangga.


Surabaya, 7 April 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Klakson

     Dugaanmu cerita singkat ini mendeskripsikan penderitaan hidup di kota dan berakhir begitu-begitu saja. Tunggu. Kau harus baca. Aku akan memulainya dengan antrian panjang kendaraan para pekerja yang ingin segera pulang di lampu merah. Lampu merah yang beberapa waktu setelahnya berubah menjadi hijau tapi antrian tidak bergerak sebab dihentikan polisi dan mobil pejabat yang akan segera lewat dari jalan lainnya. Itu-itu saja? Ya, itu-itu saja. Aku berulang mengalaminya dan merasa kesal tidak dapat melakukan apa-apa. Rasa kesal yang kemudian menjadi berlipat-lipat mengetahui orang-orang juga tidak dapat melakukan apa-apa, atau malah terkesan tidak ingin sebab ekspresi mereka menunjukkan seakan tidak sedang terjadi apa-apa.      Tapi tidak, petang itu. Dari jalan Ciliwung, lampu merah berubah jadi hijau. Antrian kendaraan tidak bergerak, tapi mesinnya menderu-deru. Tiga polisi menghentikannya, mengayun-ayunkan stick berlampu. Jelas mobil pejabat akan lewat. ...

Mata

Hei, Aku mencinta pada hal-hal sederhana Melihatmu menyelipkan rambut di belakang telinga karena khawatir tampak tidak cukup rapi Ah, akupun juga khawatir tulisan ini sama sekali tidak membawa arti Aku mencinta pada hal-hal sederhana Melihatmu berkenalan dengan anak kucing sambil mengomel tentang mahasiswa-mahasiswa yang begitu mencintai dirinya sendiri

Jangan Menangis, Adikku

adikku, aku pernah menceritakan padamu tentang laki-laki yang bekerja dalam dendamnya tawa dan keikhlasan menggantikan tangisnya bertindak begitu bijaksana dalam amarahnya dan kau mengaguminya aku pernah menceritakan padamu tentang perumpamaan-perumpamaan bagus milik sajak penyair besar tentang semua laku kehidupan yang saling berhubungan dan kau terus mempertanyakannya ingatkah kau adikku, aku pernah menceritakan padamu tentang buku-buku yang mengantar kita lintas waktu dan peristiwa yang memberi tahu tentang kejujuran, kekuatan, dan keberanian yang memberi tahu tentang kenyataan dan tragedi yang memberitahu bahwa kita bukan siapa-siapa bahwa kita manusia kecil yang tidak tahu apa-apa dan kau mengajakku untuk berbicara masa depan