Sebenarnya, orang itu sangat ramah. Sedikit bicara, tapi perilakunya santun dan penuh hormat. Warga turut menaruh hormat padanya. Hingga kemudian kampung menjadi gempar. Ia ditahan pihak kepolisian karena telah membakar rumah tetangga.
Tengah malam, setelah menyiramkan bensin ke sekeliling rumah, ia lemparkan puntung rokok yang baranya masih menyala hingga api membakar perlahan bagian depan. Setelahnya, ia tidak lari. Ia tetap berdiri disitu, memandangi rumah itu, tangan kirinya masih memegang jirigen kosong. Warga sekitar berlarian. Mereka panik, lainnya menghubungi polisi, lainnya lagi mencari cara untuk memadamkan. Sampai para peronda mencoba meringkusnya, orang itu tidak melawan. Tidak berontak saat diamankan. Diam saja ketika dibentak, dimintai penjelasan. Dingin. Sesekali berkedip, matanya terus menatap api yang berkobar semakin besar. Si tetangga yang tidak sempat menyelamatkan diri, mati terbakar. "Ternyata kejam benar ya!", batin beberapa warga.
Sehari sebelum kejadian, ada yang mendapati orang itu berjam-jam menangis tak kunjung henti, menatap gundukan tanah di halaman rumahnya. Kucingnya mati. Dengar-dengar, kucing itu mati setelah disiram air panas dan dipukuli si tetangga.
Surabaya, 7 April 2019

Komentar
Posting Komentar