Langsung ke konten utama

Buku: The Catcher In The Rye - J.D. Salinger


    Berlagak intelektual mereka mengusung standar moral dan ke-konservatif-annya mengulas The Catcher in The Rye. Remaja, labil, identitas, gelisah, negatif, pemberontak, kasar. Halah jancuk, kosakata yang memuakkan. Sementara kami sakau quotes sampul belakang buku, copywriter iklan, penyair instagram sampai mentri pendidikan. "Mengapa buku ini disukai para pembunuh?". Penasaran? Halah jancuk, kita semua egois dan munafik, persis sama seperti subjek yang dicaci maki Caulfield/Salinger tanpa ampun dalam bukunya.

    Caulfield, caulfield, caulfield. Aku pikir kita sama muaknya mendengar si peran utama ini dituturi banyak tokoh munafik (yang selalu bikin caulfield ingin muntah). Eh ndilalah, banyak ulasan yang, caulfield, caulfield, caulfield. Tertekan, terasing, terjebak. Hentikan. Lewat Caulfield, Salinger sedang menelanjangi kita yang tidak berhati, pendengki, rakus, penjilat, fanatik, picik, munafik, hipokrit (wes kabeh lah) dan yang dibutuhkan hanyalah pengakuan juga pada diri kita sendiri.

    Baca dan selesaikan. Buku ini begitu haru, hangat, menyayat. Holden Caulfield adalah manusia sebagaimana manusia, baik hati seperti Winnie The Pooh. Ia orang yang bertahan dengan kesepian, juga dari kekejaman robot-robot bernyawa yang memenuhi dunia. Yang terpenting, kita belajar darinya tentang kasih sayang. Rasa cinta yang memberi. Mendengar dan memahami. Mengikuti harinya dikeluarkan dari sekolah sampai benar-benar pulang ke rumah, narasi detail tentang apa saja yang dia pikirkan, semestinya kita tahu kemurnian, kesepian, kebertahanan, terselip dalam paragraf amarah yang tak habis-habis. Bagian akhirnya bersama Phoebe, sang adik perempuan, benar-benar menguras air mata. Buku ini banyak menyisakan harap dan luka pada pembaca, kecuali kau berhati dingin. Dan munafik. Dan rakus. Dan penjilat. Dan picik. Dan hipokrit. Wes kabeh lah.

Tentang Kaver Buku

    Selalu yang bikin tak kuasa, buku favorit dengan kaver terbitan lama. Botchan, alamak bagus-bagus kaver lamanya. Old Man and the Sea terbitan Simon & Schuster 1981 dengan sapuan cat minyaknya, Iblis Tak Pernah Mati punya Seno Gumira yang digambar dosen saya Bapak Asnar Zacky, hingga menjadi hal yang amat patut disyukuri punya Bumi Manusia terbitan Hasta Mitra 1983. Entah kenapa, terasa jauh lebih bernyawa. Kalau pakai bahasa desain, mungkin disebabken hierarki visual yang penuh penekanan dalam tiap aspeknya. judulnya jedher!, nama penulisnya jedher!, ilustrasinya hidup jedher!, warnanya jedher!, jadinya timbul kekacauan yang ngeri-ngeri sedap. Sementara swiss-geometrik-konstruktifisem-minimalas-minimalis-vectorized-wide white space-modern-design-style melanda arsitektur perumahan cluster sampai lembar menu stan makanan yang dipastikan kukut dalam hitungan bulan, buku-buku di toko buku hampir jadi seragam serupa seperti rambut calon taruna, mana buku sastra mana buku matematika SMA? Maka saya hormat pada seniman-desener kaver yang lawas-lawas karena tangan dan mantranya mencipta selembar yang sanggup memaparkan rindu, ragu, cinta, putus asa (pokoknya dari ribuan kata cerita penulis di dalamnya) dengan kekuatan penuh. Pantas pula para muda yang bosan dan muak dengan tren perdesenan dua ribu belas belas itu mengangkat kembali grafis vernakular banner pecel lele dan lukisan belakang bak truk, foto rai atau box sepatu dilawas-lawasin, bikin kaver cd atau video klip mbliyut-mbliyut mendem psikedelik, gandrung lagi cukil, etsa, dan mesin ketik. Ndak papa, asik lah!

    Nah. Setelah hitungan tahun punya Catcher in Rye dengan kaver putih polosnya, kemarin dapat yang terbitan lama! Banana Publisher (kepunyaan Yusi Avianto Pareanom) tahun 2005. Sangaaaarrr bukan?
Dapatnya memang dari punggawa penyedia buku sastra klasik apik-apik nan rare-rare, @om_buku. Suwun!

The Catcher In The Rye
Penulis: J.D. Salinger
Penerbit: Banana Publisher

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kota Besar

liburan kenaikan kelas lima sama seperti sebelum-sebelumnya setahun sekali naik mobil jalan-jalan ke rumah Pakde Nono di kota besar perjalanan yang melelahkan dan bikin masuk angin karena empat jam lebih jendelanya terbuka lalu pandangku teralihkan dengan megahnya baliho-baliho raksasa yang tidak pernah ada di kotaku bergambar 2 orang kaya pakai baju rapi sedang berjabat tangan ditambah tulisan bahasa inggris berbelit-belit yang tidak kumengerti artinya baliho lain bergambar mobil sedan mengkilap yang tidak pernah kulihat langsung kutebak harganya mahal sekali baliho lainnya lagi, ada yang bergambar makanan enak dengan piring besar ada yang bergambar rumah mewah dan keluarganya sedang bergandengan ada yang bertulisan angka-angka yang rumit dan nama-nama bank ada yang bergambar film-film barat yang perempuannya pakai baju seksi ada yang bergambar mahasiswa-mahasiswa ganteng dan cantik sedang belajar dan aku tidak bosan memandanginya kutebak juga, nantinya mahasiswa pa...

Catatan: Ibu dan Perempuan-Perempuan Lainnya

     Kabar dari ibu sungguh merusak pagi. Pekerjaan bapak adalah dokter gigi, dan sudah dua bulan jarang datang ke poli karena pandemi. Aktivitasnya hanya menangani keadaan-keadaan darurat, seperti halnya subuh tadi ia tergopoh-gopoh berangkat untuk menjalankan operasi. "Rumah sakit menghubungi. Salah seorang mahasiswi yang diampu bapak masuk UGD. Ia dihajar pacarnya sampai patah tulang rahang. Barangkali remuk".      Aku menggigil seketika. Mikrofon ponsel kujejali sumpah serapah, pada satu kesempatan marah-marah sebab mengetahui sekali lagi praktik kekerasan dalam sebuah hubungan. "Kira-kira terjadi masalah apa, sampai laki-lakinya kesetanan menghajar begitu?", tanya ibu. Tidak! Tidak tentang permasalahan yang sedang mereka berdua alami, tidak pula tentang ikut campur setan dalam kejadian ini! Sungguh identitas gender membuat bangsat itu merasa berhak mendominasi, punya kontrol atas pasangannya, berujung kekerasan pada akhirnya. Sungguh rapuh dan memalu...

Air Mata, Bahagia

cerpen singkat lagi.. hanya mengarang. maaf jelek. bikinnya kesusu. hehe  ************** "kita gak pernah sejalan.. met malem" putra menangis lagi. berkali-kali ia menangis saat malam tak peduli lagi bahwa ia dilahirkan sebagai lelaki badannya kurus, tapi mumpuni lengan penuh tattoo tapi hatinya yang lemah perasaannya yang lemah mengalahkan semua itu ia ingin dimengerti pemikirannya ingin dimengerti tapi apa yang ia pikirkan, tidak pernah sejalan dengan apa yang dipikirkan kekasihnya, tami. gambar, buang gambar, buang gambar, buang untuk melukiskan wajah kekasihnya pun ia tak bisa wajar kalau orang biasa tapi putra berbeda putra lebih "seniman" dibandingkan teman-temannya jika begini ? kesulitan melukiskan wajah kekasihnya yang 4 tahun dia pandang air mata ia menangis ia menangis karena ia tahu, ia lebih mudah melukiskan air mata di wajah kekasihnya yang 4 tahun ia pandang teknik melukis air mata yang sangat putra kuasai rasa sesal ...