Aku benci berada di restoran mewah. Aku melihat orang-orang yang membuka pintu dan tidak menutupnya kembali perlahan sehingga pintu itu terbanting. Aku melihat orang-orang yang tidak berterimakasih kepada pelayan yang membukakan pintu. Orang-orang itu memesan, berbicara ini-itu tanpa mau berpandangan. Bahkan terkadang membentak. Aku melihat senyum dan keramahan yang tidak dibalas. Aku melihat pelayan lain yang berlarian dan berupaya tenang, sementara orang-orang itu tak sabar meminta mejanya dibersihkan. Aku melihat anak-anak kecil berlarian dan berteriak-teriak, pesuruh orang-orang itu mengejar sambil kelelahan, sementara mereka sendiri duduk membicarakan hal-hal yang tidak penting. Aku mendengar hal-hal yang tidak penting itu dibicarakan keras-keras. Aku mendengar suara tertawa yang juga keras dan sangat mengganggu. Aku melihat pesuruh-pesuruh makan belakangan. Aku melihat anak kecil yang menangis karena kepalanya terbentur meja, dan orang tuanya menyalahkan meja itu. "Mejanya nakal. Pukul! Pukul!", kata mereka. Aku melihat di atas meja orang-orang itu makanan berlimpah-limpah, dan mereka tidak sanggup menghabiskannya. Aku melihat begitu banyak sisa di piring dan tisu bertumpuk-tumpuk di atasnya. Aku melihat orang-orang yang memasang wajah ketus karena menurut mereka makanan di restoran itu tidak enak, atau karena menurut mereka pelayanan di restoran itu tidak baik. Aku melihat orang-orang yang tidak merapikan kursi, kursi yang sudah bokong mereka duduki. Aku melihat orang-orang itu keluar restoran dan mata mereka terus tertuju pada ponselnya. Lagi-lagi aku melihat orang-orang yang tidak berterimakasih kepada pelayan yang membukakan pintu. Aku melihat sepatu-sepatu orang-orang yang mewah dan mengkilap, tapi membekas begitu jorok di lantai restoran. Aku melihat pelayan cepat-cepat membersihkan dan bekas sepatu yang begitu jorok akan muncul lagi beberapa waktu setelahnya.
Surabaya, 23 Juni 2019
Surabaya, 23 Juni 2019
Komentar
Posting Komentar