Langsung ke konten utama

Restoran


Aku benci berada di restoran mewah. Aku melihat orang-orang yang membuka pintu dan tidak menutupnya kembali perlahan sehingga pintu itu terbanting. Aku melihat orang-orang yang tidak berterimakasih kepada pelayan yang membukakan pintu. Orang-orang itu memesan, berbicara ini-itu tanpa mau berpandangan. Bahkan terkadang membentak. Aku melihat senyum dan keramahan yang tidak dibalas. Aku melihat pelayan lain yang berlarian dan berupaya tenang, sementara orang-orang itu tak sabar meminta mejanya dibersihkan. Aku melihat anak-anak kecil berlarian dan berteriak-teriak, pesuruh orang-orang itu mengejar sambil kelelahan, sementara mereka sendiri duduk membicarakan hal-hal yang tidak penting. Aku mendengar hal-hal yang tidak penting itu dibicarakan keras-keras. Aku mendengar suara tertawa yang juga keras dan sangat mengganggu. Aku melihat pesuruh-pesuruh makan belakangan. Aku melihat anak kecil yang menangis karena kepalanya terbentur meja, dan orang tuanya menyalahkan meja itu. "Mejanya nakal. Pukul! Pukul!", kata mereka. Aku melihat di atas meja orang-orang itu makanan berlimpah-limpah, dan mereka tidak sanggup menghabiskannya. Aku melihat begitu banyak sisa di piring dan tisu bertumpuk-tumpuk di atasnya. Aku melihat orang-orang yang memasang wajah ketus karena menurut mereka makanan di restoran itu tidak enak, atau karena menurut mereka pelayanan di restoran itu tidak baik. Aku melihat orang-orang yang tidak merapikan kursi, kursi yang sudah bokong mereka duduki. Aku melihat orang-orang itu keluar restoran dan mata mereka terus tertuju pada ponselnya. Lagi-lagi aku melihat orang-orang yang tidak berterimakasih kepada pelayan yang membukakan pintu. Aku melihat sepatu-sepatu orang-orang yang mewah dan mengkilap, tapi membekas begitu jorok di lantai restoran. Aku melihat pelayan cepat-cepat membersihkan dan bekas sepatu yang begitu jorok akan muncul lagi beberapa waktu setelahnya.

Surabaya, 23 Juni 2019


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan: Ibu dan Perempuan-Perempuan Lainnya

     Kabar dari ibu sungguh merusak pagi. Pekerjaan bapak adalah dokter gigi, dan sudah dua bulan jarang datang ke poli karena pandemi. Aktivitasnya hanya menangani keadaan-keadaan darurat, seperti halnya subuh tadi ia tergopoh-gopoh berangkat untuk menjalankan operasi. "Rumah sakit menghubungi. Salah seorang mahasiswi yang diampu bapak masuk UGD. Ia dihajar pacarnya sampai patah tulang rahang. Barangkali remuk".      Aku menggigil seketika. Mikrofon ponsel kujejali sumpah serapah, pada satu kesempatan marah-marah sebab mengetahui sekali lagi praktik kekerasan dalam sebuah hubungan. "Kira-kira terjadi masalah apa, sampai laki-lakinya kesetanan menghajar begitu?", tanya ibu. Tidak! Tidak tentang permasalahan yang sedang mereka berdua alami, tidak pula tentang ikut campur setan dalam kejadian ini! Sungguh identitas gender membuat bangsat itu merasa berhak mendominasi, punya kontrol atas pasangannya, berujung kekerasan pada akhirnya. Sungguh rapuh dan memalu...

Rumah yang Muram

"Nanang masih seperti itu, Dik Narno?", kataku berbisik-bisik, khawatir terdengar dari kamar. "Sudah lebih baik Mas Har. Sudah banyak makan dan banyak bicara padaku di saat tertentu. Tapi kalau tidak ada siapa-siapa yang ngajak bicara ya dia tetap memilih di kamar."  " Woh , pernah mbahas nikah?" "Ya ndak pernah. Dia ya berusaha melupakan dan goblok juga kalau aku mengungkit lagi. Masak aku tanya 'sudah melupakan belum?', kan ya ndak mungkin. Kalau sudah marah bahaya." "Ya jelas, kan nurun Dik Narno." Tawa kita berdua meledak mengisi sepi sebentar. Minggu siang ini, langit kota Blora sedang mendung. Tak banyak kendaraan sliwar-sliwer memang karakter hari Minggu. Aku berkunjung ke rumah saudara jauh, Narno, setelah mendapat laporan dari mbak ku. Katanya kemarin Narno tidak bisa dihubungi sampai malam hari dan saat di telepon rumah, anaknya mengatakan Narno pergi tanpa bilang apa-apa.  Rumahnya tidak begi...

Klakson

     Dugaanmu cerita singkat ini mendeskripsikan penderitaan hidup di kota dan berakhir begitu-begitu saja. Tunggu. Kau harus baca. Aku akan memulainya dengan antrian panjang kendaraan para pekerja yang ingin segera pulang di lampu merah. Lampu merah yang beberapa waktu setelahnya berubah menjadi hijau tapi antrian tidak bergerak sebab dihentikan polisi dan mobil pejabat yang akan segera lewat dari jalan lainnya. Itu-itu saja? Ya, itu-itu saja. Aku berulang mengalaminya dan merasa kesal tidak dapat melakukan apa-apa. Rasa kesal yang kemudian menjadi berlipat-lipat mengetahui orang-orang juga tidak dapat melakukan apa-apa, atau malah terkesan tidak ingin sebab ekspresi mereka menunjukkan seakan tidak sedang terjadi apa-apa.      Tapi tidak, petang itu. Dari jalan Ciliwung, lampu merah berubah jadi hijau. Antrian kendaraan tidak bergerak, tapi mesinnya menderu-deru. Tiga polisi menghentikannya, mengayun-ayunkan stick berlampu. Jelas mobil pejabat akan lewat. ...