Langsung ke konten utama

Buku: Transit - Seno Gumira Ajidarma


Usai Saksi Mata dan Iblis Tak Pernah Mati, saya menebak-nebak, kengerian apa lagi yang diusung SGA pada kumcer terbarunya, Transit. Benar dugaan saya. Kumpulan cerpen yang ditulis rentang waktu 2003-2019 ini dibuka dengan 'Jakarta City Tour' yang amat mengerikan dan memualkan. Mengisahkan turis-turis luar negeri yang dipaksa mengikuti tur wisata pelanggaran HAM kala pembantaian '65 disambung kerusuhan '98, dan SGA begitu detail menuliskan ngeri-ngerinya.

Segawon, cerpen yang saya rasa sangat apik. Kegelisahan terhadap masyarakat dan makna kehormatan diceritakan lewat sudut pandang seorang pengemis. Latar kota Paris digambarkan ramai namun sunyi, konsisten menemani alur cerita yang berakhir sangat menyesakkan hati. Pembaca SGA akan tahu apa yang saya maksudkan.

Muncul kembali narasi pelanggaran HAM pada cerpen Gokill dan Setan Becak. Pada Setan Becak, cerita hantu dibarengi paparan kejadian pembantaian '65 menghadirkan kengerian dua kali lipat, ditambah lagi cerpen Gelap yang hadir setelahnya, yang sama-sama horornya. Sudah horor tertimpa horor. Tapi tenang, tidak semuanya mengerikan. Beberapa cerpen tentang cinta, silakan baca sendiri. Ah, kejutannya selalu berhasil membuat saya mengumpat.

Urban stories ini begitu berkesan. Membacanya, seolah melompat-lompat dari satu setting ke setting yang lain (bersama SGA tentunya), menyaksikan apa yang harus disaksikan. Pada Istana Tembok Bolong, kita benar berada di sudut tergelap stasiun Tugu Jogja, diterpa angin malamnya, menyaksikan bagaimana fenomena 'ciblek' (mengintip kemaluan pakai korek api) di tahun 70-an menjadi pengantar deskripsi perasaan manusia yang amat campur aduk. Menyaksikan kuda-kuda berlarian di perbukitan Sumba, menyatu bersama jutaan pengendara motor menantang maut di hari lebaran, ikut ketakutan dalam chaos-nya pusat kota, menjelma setan banteng merasuki tubuh anak sekolahan. Fiuh!

Semuanya disertai kegelisahan SGA. Kegelisahan yang tidak pernah tidak berkaitan dengan persoalan kemanusiaan.

Transit

Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Penerbit: GPU

#transit #senogumiraajidarma #ruangbacarumpunpadi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan: Ibu dan Perempuan-Perempuan Lainnya

     Kabar dari ibu sungguh merusak pagi. Pekerjaan bapak adalah dokter gigi, dan sudah dua bulan jarang datang ke poli karena pandemi. Aktivitasnya hanya menangani keadaan-keadaan darurat, seperti halnya subuh tadi ia tergopoh-gopoh berangkat untuk menjalankan operasi. "Rumah sakit menghubungi. Salah seorang mahasiswi yang diampu bapak masuk UGD. Ia dihajar pacarnya sampai patah tulang rahang. Barangkali remuk".      Aku menggigil seketika. Mikrofon ponsel kujejali sumpah serapah, pada satu kesempatan marah-marah sebab mengetahui sekali lagi praktik kekerasan dalam sebuah hubungan. "Kira-kira terjadi masalah apa, sampai laki-lakinya kesetanan menghajar begitu?", tanya ibu. Tidak! Tidak tentang permasalahan yang sedang mereka berdua alami, tidak pula tentang ikut campur setan dalam kejadian ini! Sungguh identitas gender membuat bangsat itu merasa berhak mendominasi, punya kontrol atas pasangannya, berujung kekerasan pada akhirnya. Sungguh rapuh dan memalu...

Rumah yang Muram

"Nanang masih seperti itu, Dik Narno?", kataku berbisik-bisik, khawatir terdengar dari kamar. "Sudah lebih baik Mas Har. Sudah banyak makan dan banyak bicara padaku di saat tertentu. Tapi kalau tidak ada siapa-siapa yang ngajak bicara ya dia tetap memilih di kamar."  " Woh , pernah mbahas nikah?" "Ya ndak pernah. Dia ya berusaha melupakan dan goblok juga kalau aku mengungkit lagi. Masak aku tanya 'sudah melupakan belum?', kan ya ndak mungkin. Kalau sudah marah bahaya." "Ya jelas, kan nurun Dik Narno." Tawa kita berdua meledak mengisi sepi sebentar. Minggu siang ini, langit kota Blora sedang mendung. Tak banyak kendaraan sliwar-sliwer memang karakter hari Minggu. Aku berkunjung ke rumah saudara jauh, Narno, setelah mendapat laporan dari mbak ku. Katanya kemarin Narno tidak bisa dihubungi sampai malam hari dan saat di telepon rumah, anaknya mengatakan Narno pergi tanpa bilang apa-apa.  Rumahnya tidak begi...

Klakson

     Dugaanmu cerita singkat ini mendeskripsikan penderitaan hidup di kota dan berakhir begitu-begitu saja. Tunggu. Kau harus baca. Aku akan memulainya dengan antrian panjang kendaraan para pekerja yang ingin segera pulang di lampu merah. Lampu merah yang beberapa waktu setelahnya berubah menjadi hijau tapi antrian tidak bergerak sebab dihentikan polisi dan mobil pejabat yang akan segera lewat dari jalan lainnya. Itu-itu saja? Ya, itu-itu saja. Aku berulang mengalaminya dan merasa kesal tidak dapat melakukan apa-apa. Rasa kesal yang kemudian menjadi berlipat-lipat mengetahui orang-orang juga tidak dapat melakukan apa-apa, atau malah terkesan tidak ingin sebab ekspresi mereka menunjukkan seakan tidak sedang terjadi apa-apa.      Tapi tidak, petang itu. Dari jalan Ciliwung, lampu merah berubah jadi hijau. Antrian kendaraan tidak bergerak, tapi mesinnya menderu-deru. Tiga polisi menghentikannya, mengayun-ayunkan stick berlampu. Jelas mobil pejabat akan lewat. ...