Langsung ke konten utama

Cerita Tentang Sandal




Tangisan Ica memang melolong-lolong. Tapi bukan seperti serigala dalam film yang suaranya memang dirancang sedemikian rupa untuk dinikmati. Yang ini begitu keras dan memekakkan telinga. Entah bagaimana bisa, selalu ada saja perkara-perkara yang membuat bocah 4 tahun cucu tetangga depan kos-kosan itu menangis tiap pagi. Neneknya juga begitu. Mungkin, kerinduan si nenek pada suaminya yang telah lama mati, persoalan rumah tangga, tekanan ekonomi dan tempat tinggal, semua tersalurkan menjadi bentakan-bentakan yang tidak kalah memekakkan telinga. ‘Diaam!, Nangis terus!, tak kancingi di kamar ya! Kamu mau apa?!’, dan berbagai bentakan lain mencoba menandingi tangisan si bocah.

Tangisan dan bentakan yang bersahutan itu sudah menjadi alarm bangun pagiku. Saking seringnya, hampir tiap pagi. Tapi semua itu hanya bisa kudengar. Tak pernah sekalipun sempat kulihat dari jendela kamar, karena harus buru-buru mandi dan berangkat kerja. Takut terlambat.


"Biasa Ica itu, mas. Ibunya njanjeni jalan-jalan ke Giant, tapi ternyata hari ini mendadak dipanggil kantor barunya untuk wawancara. Daritadi berok-berok semenjak ibunya berangkat. Maaf kalau nangisnya ngganggu mas dan anak kos yang lain ya!", jelas si nenek setelah kusapa sambil gupuh memacu gas motor.


**


Beberapa bulan yang lalu. Hari itu hari minggu. Seperti biasa, aku terbangun karena tangisan dan bentakan yang bersahutan sengit lebih dari sepuluh menit. Hari minggu adalah hari yang seharusnya terasa sepi. Rasa yang lebih tidak enak dari ketakutan terlambat. Ah. Karena aku tak perlu buru-buru mandi, untuk memenuhi rasa penasaran kubuka sedikit tirai jendela kamar untuk melihat ada kejadian apa. Kulihat, si Nenek memegang sandal. Diangkatnya sandal itu tinggi-tinggi, sambil mengancam seakan hendak memukulkannya pada Ica.


Kututup tirai dan cepat-cepat ke kamar mandi. Tangisan Ica makin nyaring. Kuharap jebar jebur air bisa menutupi suara tangis serta kegelisahanku. Meskipun, setelah mandi aku akan tidur lagi, membunuh sepi.


**


Kemarin, saat pulang kantor, kuperhatikan kucingku sedang nggelibet di motor Ibunya si Ica yang terparkir di depan kos-kosan. Tak lama, dia mengencingi bagian depan motor. Mungkin karena bagian situ terasa hangat atau dia sedang menandai daerah kekuasaannya. Mengejutkan, Ica berteriak dari rumahnya, "Hoooii", kemudian berlari ke arah motor untuk mengusir kucingku. Ica memang tidak suka kucing. Yang lebih mengejutkan, kulihat, Ica memegang sandal. Diangkatnya sandal itu tinggi-tinggi, sambil mengancam seakan hendak memukulkannya pada si kucing.


Aku ndelongop, lalu gelisah.


***


MH, 17 Februari 2019

Untuk adik-adikku Teater Rumpun Padi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan: Ibu dan Perempuan-Perempuan Lainnya

     Kabar dari ibu sungguh merusak pagi. Pekerjaan bapak adalah dokter gigi, dan sudah dua bulan jarang datang ke poli karena pandemi. Aktivitasnya hanya menangani keadaan-keadaan darurat, seperti halnya subuh tadi ia tergopoh-gopoh berangkat untuk menjalankan operasi. "Rumah sakit menghubungi. Salah seorang mahasiswi yang diampu bapak masuk UGD. Ia dihajar pacarnya sampai patah tulang rahang. Barangkali remuk".      Aku menggigil seketika. Mikrofon ponsel kujejali sumpah serapah, pada satu kesempatan marah-marah sebab mengetahui sekali lagi praktik kekerasan dalam sebuah hubungan. "Kira-kira terjadi masalah apa, sampai laki-lakinya kesetanan menghajar begitu?", tanya ibu. Tidak! Tidak tentang permasalahan yang sedang mereka berdua alami, tidak pula tentang ikut campur setan dalam kejadian ini! Sungguh identitas gender membuat bangsat itu merasa berhak mendominasi, punya kontrol atas pasangannya, berujung kekerasan pada akhirnya. Sungguh rapuh dan memalu...

Rumah yang Muram

"Nanang masih seperti itu, Dik Narno?", kataku berbisik-bisik, khawatir terdengar dari kamar. "Sudah lebih baik Mas Har. Sudah banyak makan dan banyak bicara padaku di saat tertentu. Tapi kalau tidak ada siapa-siapa yang ngajak bicara ya dia tetap memilih di kamar."  " Woh , pernah mbahas nikah?" "Ya ndak pernah. Dia ya berusaha melupakan dan goblok juga kalau aku mengungkit lagi. Masak aku tanya 'sudah melupakan belum?', kan ya ndak mungkin. Kalau sudah marah bahaya." "Ya jelas, kan nurun Dik Narno." Tawa kita berdua meledak mengisi sepi sebentar. Minggu siang ini, langit kota Blora sedang mendung. Tak banyak kendaraan sliwar-sliwer memang karakter hari Minggu. Aku berkunjung ke rumah saudara jauh, Narno, setelah mendapat laporan dari mbak ku. Katanya kemarin Narno tidak bisa dihubungi sampai malam hari dan saat di telepon rumah, anaknya mengatakan Narno pergi tanpa bilang apa-apa.  Rumahnya tidak begi...

Klakson

     Dugaanmu cerita singkat ini mendeskripsikan penderitaan hidup di kota dan berakhir begitu-begitu saja. Tunggu. Kau harus baca. Aku akan memulainya dengan antrian panjang kendaraan para pekerja yang ingin segera pulang di lampu merah. Lampu merah yang beberapa waktu setelahnya berubah menjadi hijau tapi antrian tidak bergerak sebab dihentikan polisi dan mobil pejabat yang akan segera lewat dari jalan lainnya. Itu-itu saja? Ya, itu-itu saja. Aku berulang mengalaminya dan merasa kesal tidak dapat melakukan apa-apa. Rasa kesal yang kemudian menjadi berlipat-lipat mengetahui orang-orang juga tidak dapat melakukan apa-apa, atau malah terkesan tidak ingin sebab ekspresi mereka menunjukkan seakan tidak sedang terjadi apa-apa.      Tapi tidak, petang itu. Dari jalan Ciliwung, lampu merah berubah jadi hijau. Antrian kendaraan tidak bergerak, tapi mesinnya menderu-deru. Tiga polisi menghentikannya, mengayun-ayunkan stick berlampu. Jelas mobil pejabat akan lewat. ...