Langsung ke konten utama

Mandi Air Panas



Untukku, mempribadi adalah mandi air panas. Semasa dimandikan sampai mandi sendiri, tubuh cilik ini tidak suka air dingin, bahkan air panas yang hampir mendingin. Maka aku tidak pernah mau pakai ember. Kurang praktis tapi nikmat luar biasa, kuisi gayung dengan 4/5 air dingin, 1/5-nya air umup dari dalam ceret. Sekali gebyur, isi lagi. Begitu sampai sabunan dan selesai.

Mandi air panas, adalah setengah jam di tengah malam yang mengingatkan masa bahagia mengetahui lampu jalan membuat bayanganku dan aku sendiri tak henti balapan. Menyadarkan bahwa kemarau-hujan kemarau-hujan terus mendewasa dan memburuk komunikasinya. Mandi air panas adalah setengah jam di tengah malam meninggalkan kemunafikan dan mensyukuri kehampaan. Alternatif jika tak sempat mampir ke tempat minum bir atau waktu ingin mendengar Stacey Kent satu album tapi Spotify tidak premium.


Kepulnya penuh, naik membentuk atap rumah, mendengar percik air berkeluh kesah.


Surabaya, 20 November 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Klakson

     Dugaanmu cerita singkat ini mendeskripsikan penderitaan hidup di kota dan berakhir begitu-begitu saja. Tunggu. Kau harus baca. Aku akan memulainya dengan antrian panjang kendaraan para pekerja yang ingin segera pulang di lampu merah. Lampu merah yang beberapa waktu setelahnya berubah menjadi hijau tapi antrian tidak bergerak sebab dihentikan polisi dan mobil pejabat yang akan segera lewat dari jalan lainnya. Itu-itu saja? Ya, itu-itu saja. Aku berulang mengalaminya dan merasa kesal tidak dapat melakukan apa-apa. Rasa kesal yang kemudian menjadi berlipat-lipat mengetahui orang-orang juga tidak dapat melakukan apa-apa, atau malah terkesan tidak ingin sebab ekspresi mereka menunjukkan seakan tidak sedang terjadi apa-apa.      Tapi tidak, petang itu. Dari jalan Ciliwung, lampu merah berubah jadi hijau. Antrian kendaraan tidak bergerak, tapi mesinnya menderu-deru. Tiga polisi menghentikannya, mengayun-ayunkan stick berlampu. Jelas mobil pejabat akan lewat. ...

Buku: Kukila - M Aan Mansyur

"Brengsek!", kataku usai membaca 'Aku Selalu Bangun Lebih Pagi'. Aku berhadapan lagi dengan karangan Aan, yang memang seringkali membuatku mengumpat. Gejolak masa muda, ciuman, perselingkuhan, pulang kampung saat lebaran, dan kisah sederhana-rumit-dewasa lain ada dalam kumcer Kukila. Begitu harmonis perpaduan antara; tema aktual yang diusung, unsur kedaerahan Aan, cerita yang pilu (atau lucu, atau brengsek, atau mengejutkan), dan jalinan kata mind-blowing khas Aan. Tidak jarang pula ceritanya memaksaku merenung atau berdiskusi dengan diri sendiri, menghasilkan kesadaran dan upaya memahami, menghindari penilaian-penilaian. Menjadi sorotan utama kumcer ini, cerpen Kukila itu sendiri. Memakan puluhan halaman di awal, jauh lebih panjang dari 15 cerpen lainnya. Cerita cinta penuh misteri dan kejutan, alurnya mengalir nikmat, mengantarku pada kenyataan, pelajaran tentang kemanusiaan. Aku selalu mengagumi bagaimana Aan membaca kejadian/momen dengan begitu detail, dan ke...