Langsung ke konten utama

Buku: Corat-Coret di Toilet - Eka Kurniawan


Kumcer dengan cover hijau mentereng ini (cover yang baru. Dalam foto, penulis baru saja dapat cover lama) adalah buku Eka Kurniawan yang pertama kali kubaca. Sejumlah 12 cerpen mengusung bermacam narasi lika-liku kehidupan. Bisa dikata ringan, jauh dari kemegahan kata-kata. Sebagaimana mestinya sastra bekerja, Eka berkisah tentang bumi manusia dengan segala persoalannya.

"Wasyu!", ujarku usai membaca cerpen 'Corat-Coret di Toilet' (sama dengan judul buku) sambil ndodok di toilet (pas kan!). Provokatif. Gambaran keadaan semasa orba-pasca orba yang mencekam dikemas lucu dan mindblowing. Bumbu makian-makian Eka benar-benar bikin panas hati. Saking asyiknya membaca, lupa kalau sudah lama ndodok, walhasil gringgingen.

Tiga yang benar bikin mata berkaca-kaca. Peter Pan; pemuda pemberani yang dihilangkan paksa oleh pemerintah diktator, kemudian si pasangan menikah dengan puisi-puisinya. Tertangkapnya Si Bandit Kecil Pencuri Roti; bocah penghuni hutan kecil di pinggiran kota yang ingin punya ibu. Kisah Dari Seorang Kawan; mungkin Eka memberi contoh sederhana bagaimana ekonomi kapitalis bekerja dan mengakhiri ceritanya dengan tragis.

Ya. Selain 'Corat-Coret di Toilet' dan 'Rayuan Dusta Untuk Marietje' yang provokatif, hampir seluruh cerpen berakhir tragis.
Kejutan demi kejutan jadi tidak mengejutkan-mengejutkan amat, sebab hawa kemurungan sudah terbangun duluan. Seakan penulis sampaikan, "kehidupan, ya memang begini adanya", sewaktu menyelipkan humor pada rangkaian cerita menyedihkan, yang mana cukup berhasil bikin meringis.

Melalui scene-scene realitas masyarakat, barangkali aku merasakan semangat realisme sosialis dari cerpen-cerpen Eka. Menimbulkan empati yang mendalam, menyalakan api kecil keberanian dalam hati tiap pembacanya. Memicu nalar kritis, mencari benang merah antara masalah 'sederhana' dengan karut-marut lembaga tertinggi masyarakat yang bernama negara. Membangunkan kegelisahan. Maka, sebelum tua dan gairah perlawanan tak lagi menggelora, sempatkan waktu kita membaca Corat-Coret di Toilet!

Corat-Coret di Toilet
Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Klakson

     Dugaanmu cerita singkat ini mendeskripsikan penderitaan hidup di kota dan berakhir begitu-begitu saja. Tunggu. Kau harus baca. Aku akan memulainya dengan antrian panjang kendaraan para pekerja yang ingin segera pulang di lampu merah. Lampu merah yang beberapa waktu setelahnya berubah menjadi hijau tapi antrian tidak bergerak sebab dihentikan polisi dan mobil pejabat yang akan segera lewat dari jalan lainnya. Itu-itu saja? Ya, itu-itu saja. Aku berulang mengalaminya dan merasa kesal tidak dapat melakukan apa-apa. Rasa kesal yang kemudian menjadi berlipat-lipat mengetahui orang-orang juga tidak dapat melakukan apa-apa, atau malah terkesan tidak ingin sebab ekspresi mereka menunjukkan seakan tidak sedang terjadi apa-apa.      Tapi tidak, petang itu. Dari jalan Ciliwung, lampu merah berubah jadi hijau. Antrian kendaraan tidak bergerak, tapi mesinnya menderu-deru. Tiga polisi menghentikannya, mengayun-ayunkan stick berlampu. Jelas mobil pejabat akan lewat. ...

Buku: Kukila - M Aan Mansyur

"Brengsek!", kataku usai membaca 'Aku Selalu Bangun Lebih Pagi'. Aku berhadapan lagi dengan karangan Aan, yang memang seringkali membuatku mengumpat. Gejolak masa muda, ciuman, perselingkuhan, pulang kampung saat lebaran, dan kisah sederhana-rumit-dewasa lain ada dalam kumcer Kukila. Begitu harmonis perpaduan antara; tema aktual yang diusung, unsur kedaerahan Aan, cerita yang pilu (atau lucu, atau brengsek, atau mengejutkan), dan jalinan kata mind-blowing khas Aan. Tidak jarang pula ceritanya memaksaku merenung atau berdiskusi dengan diri sendiri, menghasilkan kesadaran dan upaya memahami, menghindari penilaian-penilaian. Menjadi sorotan utama kumcer ini, cerpen Kukila itu sendiri. Memakan puluhan halaman di awal, jauh lebih panjang dari 15 cerpen lainnya. Cerita cinta penuh misteri dan kejutan, alurnya mengalir nikmat, mengantarku pada kenyataan, pelajaran tentang kemanusiaan. Aku selalu mengagumi bagaimana Aan membaca kejadian/momen dengan begitu detail, dan ke...