Langsung ke konten utama

Postingan

Rumah yang Muram

"Nanang masih seperti itu, Dik Narno?", kataku berbisik-bisik, khawatir terdengar dari kamar. "Sudah lebih baik Mas Har. Sudah banyak makan dan banyak bicara padaku di saat tertentu. Tapi kalau tidak ada siapa-siapa yang ngajak bicara ya dia tetap memilih di kamar."  " Woh , pernah mbahas nikah?" "Ya ndak pernah. Dia ya berusaha melupakan dan goblok juga kalau aku mengungkit lagi. Masak aku tanya 'sudah melupakan belum?', kan ya ndak mungkin. Kalau sudah marah bahaya." "Ya jelas, kan nurun Dik Narno." Tawa kita berdua meledak mengisi sepi sebentar. Minggu siang ini, langit kota Blora sedang mendung. Tak banyak kendaraan sliwar-sliwer memang karakter hari Minggu. Aku berkunjung ke rumah saudara jauh, Narno, setelah mendapat laporan dari mbak ku. Katanya kemarin Narno tidak bisa dihubungi sampai malam hari dan saat di telepon rumah, anaknya mengatakan Narno pergi tanpa bilang apa-apa.  Rumahnya tidak begi...

Ramadhan Masih Seperti Biasanya

Mohon maaf aku masih sering bangun kesiangan karena malam sebelumnya onani masih tertawa-tawa menghina diri sendiri masih tenggelam dalam maya, tidur kehabisan tenaga dalam nyata menghafalkan buku pelajaran dan lagu cinta mencari jati diri lewat layar kecil 14 inci di rumah-rumah semi permanen kolong jalan tol mereka masih tetap tersenyum bahagia, penuh harap, dan memupuk doa menyaksikan iklan sirup dan teh hangat matahari naik besok, mereka puasa dan digusur petugas yang membentak-bentak itu sama miskinnya sementara di atas gedung pahala dan keuangan mengalir sama derasnya

Pertemuan Malam Tadi

dalam mimpiku malam lalu kau yang kusayang memeluk dan membelai-belai rambut ini aku sedang lelah termenung di pintu kaca

Bulan Wisuda

bulan-bulan yang mendung pekerja-pekerja pabrik pulang petang membawa sepuluh tusuk sate dan pentol seharga lima ribu berlari kecil dinanti-nantikan putra-putrinya yang kelaparan anak-anak itu, mereka sama sekali tidak bisa berkonsentrasi belajar matematika dan ilmu pengetahuan sosial mereka sama sekali kesulitan menghafal teks skenario sejarah di buku-buku sekolah dan mereka amat ketakutan karena besok ada ulangan bulan-bulan yang mendung dan sering angin kencang baliho-baliho besar wakil rakyat yang rangkanya bambu hampir ambruk tapi gambar wajah, seragam dan slogannya masih jelas dilihat pengendara yang terpaksa berhenti karena lampu lalu lintas masih merah mereka memandanginya hanya satu sampai tiga detik karena tidak kenal malahan anak mereka di jok depan yang tertarik belajar mengeja karena tulisannya besar-besar terkadang lucu mendengar pengendara membunyi-bunyikan klakson yang suaranya seperti kentut terlalu mahal beli aki baru, apalagi motor baru

Tanahku Sedang Berduka

Tanahku sedang berduka mata air dan lahan-lahan penghidupan diratakan traktor-traktor berlabelkan pabrik maupun perusahaan mengatasnamakan kebutuhan masyarakat dan pembangunan kelak menjadi selokan-selokan kering negeri kaya raya yang subur tanahnya menangis karena dedaunan layu, abu-abu dan berdebu kehidupan dan penghidupan mengeras, kemudian tergantikan menyisakan luka kemanusiaan, terus membekas sampai hari depan

Minggu, Hari yang Panjang

laki-laki muda duduk di depan teras rumahnya makan perlahan nasi lauk telur di piring sambil menimbang-nimbang tawaran pekerjaan syukur digempur gelisah ketika waktu dan jerih payah harus berlawanan dengan kemerdekaan ketika uang dan kesejahteraan kadang bertolakbelakang dengan hak-hak dan kemanusiaan konsep mereka tentang saling membutuhkan telah menyingkirkan hubungan manusia, etika dan kesan-kesan Ya Tuhan meski tak ada seorangpun yang mempersalahkan

Tulisan Untuk Kawan

kawan, cerita yang membosankan tentang kehilangan mana ada orang yang tidak pernah? jarak adalah bagian dari perjalanan perpisahan adalah bagian dari kehidupan hari-hari lalu, kawan kasih sayang, keputusasaan, pengakuan, ketulusan, kejujuran, dan keberanian tak kurang tapi tak pernah cukup kita mainkan, mengitari tempat dan waktu dalam panggung-panggung kehidupan tiap mimik dan percakapannya berjanji tak akan pernah jauh dari permasalahan jangan dikhianati buku-buku dan kenyataan-kenyataan selalu menanti untuk dipelajari

Baik-Baik Saja

malam di musim hujan ini deras sekali di luar jendela suaranya begitu nyaring menutup suara tangismu dimana banyak orang berkata saat-saat paling sepi adalah saat bangun dan sebelum tidur derai-derainya melawan sepi itu dengan berani

Kota Besar

liburan kenaikan kelas lima sama seperti sebelum-sebelumnya setahun sekali naik mobil jalan-jalan ke rumah Pakde Nono di kota besar perjalanan yang melelahkan dan bikin masuk angin karena empat jam lebih jendelanya terbuka lalu pandangku teralihkan dengan megahnya baliho-baliho raksasa yang tidak pernah ada di kotaku bergambar 2 orang kaya pakai baju rapi sedang berjabat tangan ditambah tulisan bahasa inggris berbelit-belit yang tidak kumengerti artinya baliho lain bergambar mobil sedan mengkilap yang tidak pernah kulihat langsung kutebak harganya mahal sekali baliho lainnya lagi, ada yang bergambar makanan enak dengan piring besar ada yang bergambar rumah mewah dan keluarganya sedang bergandengan ada yang bertulisan angka-angka yang rumit dan nama-nama bank ada yang bergambar film-film barat yang perempuannya pakai baju seksi ada yang bergambar mahasiswa-mahasiswa ganteng dan cantik sedang belajar dan aku tidak bosan memandanginya kutebak juga, nantinya mahasiswa pa...

Mata

Hei, Aku mencinta pada hal-hal sederhana Melihatmu menyelipkan rambut di belakang telinga karena khawatir tampak tidak cukup rapi Ah, akupun juga khawatir tulisan ini sama sekali tidak membawa arti Aku mencinta pada hal-hal sederhana Melihatmu berkenalan dengan anak kucing sambil mengomel tentang mahasiswa-mahasiswa yang begitu mencintai dirinya sendiri