Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2021

Klakson

     Dugaanmu cerita singkat ini mendeskripsikan penderitaan hidup di kota dan berakhir begitu-begitu saja. Tunggu. Kau harus baca. Aku akan memulainya dengan antrian panjang kendaraan para pekerja yang ingin segera pulang di lampu merah. Lampu merah yang beberapa waktu setelahnya berubah menjadi hijau tapi antrian tidak bergerak sebab dihentikan polisi dan mobil pejabat yang akan segera lewat dari jalan lainnya. Itu-itu saja? Ya, itu-itu saja. Aku berulang mengalaminya dan merasa kesal tidak dapat melakukan apa-apa. Rasa kesal yang kemudian menjadi berlipat-lipat mengetahui orang-orang juga tidak dapat melakukan apa-apa, atau malah terkesan tidak ingin sebab ekspresi mereka menunjukkan seakan tidak sedang terjadi apa-apa.      Tapi tidak, petang itu. Dari jalan Ciliwung, lampu merah berubah jadi hijau. Antrian kendaraan tidak bergerak, tapi mesinnya menderu-deru. Tiga polisi menghentikannya, mengayun-ayunkan stick berlampu. Jelas mobil pejabat akan lewat. ...

Jadi, Siapa Yang Sedang Berduka Hari Ini?

     Dulu saya pikir, petang menjadi terasa mencekam ketika seseorang sedang berduka. Saya sedang berduka sejak dua minggu lalu. Dan ya, benar terasa seperti itu.      Maka petang kali ini, sepulang bekerja, saya tidak ingin langsung pulang ke rumah menghampiri sepi. Di seberang pasar burung dekat pemakaman Kembang Kuning, ada warung bakso dan bubur kacang hijau yang lampunya terang sekali. Saya mampir. Ramai. Kendaraan parkir berjajar. Pengunjung antri berdiri. Saya memarkir motor dekat gerobak botol bensin yang berjarak beberapa meter di sebelah warung. Penjaganya nenek tua yang duduk diam dan tidak berekspresi apa-apa. Di warung, penjualnya sibuk membungkus kuah bakso. Belasan. Cekatan. Ia meladeni pembeli sambil bercanda dengan rekannya yang membuatkan bubur kacang hijau. Senyum-senyum, bicara lagi, senyum-senyum lagi. Tangannya tidak berhenti bekerja. Wajahnya kelihatan bahagia. Ah, siapa tahu. Barangkali ia sedang berduka. Sama seperti saya. Orang-ora...

Sidewalk - Stigma (EP): Soundtrack Merindu Yang Memuat Isu Penting Terkait Kesehatan Mental

Dok. Pribadi Sidewalk      Brengsek. Saya merindu. Awal bulan kemarin, Jan Basaj mengirim pesan lewat direct message Instagram. Memberi kabar bahwa dirinya dan rekan-rekan seperjuangan tengah membangun media informasi-pengarsipan independen bertajuk RIR.ABADI (Rekap Irama Rekam-Arsip Basis Digital). Sebagai upaya konkrit melestarikan, menghargai, dan memusatkan distribusi karya musik lokal (Jember) di periodik tertentu, tulisnya. Singkat bla bla bla , beliau meminta saya mengirimkan data album 'Monolog' (album gak nggenah band metal-metalan saya yang diproduksi enam tahun lalu) untuk turut diarsipkan. Otomatis saya mbongkari folder-folder dalam harddisk sambil merindu, mengenang-ngenang. Foto band pakai kemeja kebesaran dan ekspresi wajah dimetal-metalkan, proses rekam dengan tempo guide tidak karu-karuan, berkesempatan main di panggung-panggung hebat yang dipernah diselenggarakan teman-teman hebat. Metal Fest, Rock United, Jember Kickin Ass, Fatal Blasting, Jember Rott...

Fleuro - Dead End Music Video: Amarah-Amarah Itu. Apakah Semuanya Benar-Benar Nyata?

     Di bawah jembatan. Disiram lampu kuning. Ada waria sedang menari. Tariannya buruk. Seadanya. Memang ia tidak bisa menari. Di ruang yang lain, di antah berantah, pengap. Ada laki-laki sedang mengumpati kebosanan, mungkin dirinya sendiri. Di ruang yang lain lagi. Terhimpit gedung-gedung muram warna abu-abu tua yang ditertawakan kota. Ada darah berceceran, dan ada perempuan hamil membawa palu sedang meniti langkah terengah-engah. 4 menit berlalu. Apakah semuanya benar-benar nyata?      Fleuro. Grup musik shoegaze berisik Surabaya ini baru kemarin merilis video klip single perdananya yang bertajuk Dead End. Cul-de-sac , kalau kata Thom Yorke. Digarap sejak Desember tahun lalu oleh sutradara bajingan, Bernardus Raka, bersama kru-kru piawai andalannya. Terhitung singkat proses mereka memvisualisasikan lagu apik mood indie rock 90-an dengan distorsi dan gebukan chinese terus-terusan komplit beserta lirik nelongso yang dinyanyikan merdu mbenging-mbenging ol...

Aplikasi

       Orang-orang menginginkan mengetahui, bagaimana mereka yang laki-laki menjadi perempuan, bagaimana mereka yang perempuan menjadi laki-laki. Tidak. Bukan membayangkan terlahir dan tumbuh menjadi perempuan, terlahir dan tumbuh menjadi laki-laki. Mereka sekedar menikmati "perempuan" dan "laki-laki" di wajah mereka lewat aplikasi. Tidak payudara, tidak kelaminnya, tidak pengalamannya. Tidak menstruasinya, tidak melahirkannya, tidak olok-olok di depan kelas semasa sekolahnya. "Perempuan" dan "laki-laki" itu hanya kumis, janggut, bulu mata, panjang rambut, warna kulit, hingga rona bibir. Begini. bentuk mata, hidung, telinga, dagu, pipi, tidak berubah. Sama sekali, barangkali. Mereka tetap mengenali wajahnya sendiri. Dan kelaminnya sendiri. Dan pengalamannya sendiri. Yang laki-laki tetap sebagai laki-laki meski menjadi perempuan. Yang perempuan tetap sebagai perempuan meski menjadi laki-laki.      Orang-orang sudah berubah setelah terburu-buru mem...

Boneka Lebah di Pusat Perbelanjaan

Saya sedang berjalan terburu-buru menuju kamar mandi sambil menahan kencing ketika seseorang di dalam kostum boneka lebah itu melambaikan tangan. Saya balas lambaiannya dengan senyum dan sedikit anggukan kemudian pertanyaan-pertanyaan panjang ini datang. Jelas saya bukan anak-anak. Umur saya seperempat abad dengan kumis yang tidak tipis dan ekspresi wajah yang tidak lucu. Dan itu kelihatan. Jadi, apakah ia memang ditugaskan untuk melambaikan tangan pada siapapun, termasuk orang dewasa, tidak melulu hanya pada anak-anak? Atau sebenarnya ia tahu saya orang dewasa, tetapi wajah saya dinilainya sedang murung, dianggapnya layak masuk dalam kategori orang dewasa yang sedang tidak bahagia atau spesifiknya sedang mengalami quarter-life crisis , sehingga ia merasa bertanggung jawab membuat saya tersenyum sebentar saja lewat lambaian tangan tersebut? Bahkan pada detik itu, diabaikannya bocah-bocah pencolotan yang mengelilingi kakinya minta perhatian. Ah, saya tidak murung. Saya menahan kencin...