Langsung ke konten utama

Boneka Lebah di Pusat Perbelanjaan

Saya sedang berjalan terburu-buru menuju kamar mandi sambil menahan kencing ketika seseorang di dalam kostum boneka lebah itu melambaikan tangan. Saya balas lambaiannya dengan senyum dan sedikit anggukan kemudian pertanyaan-pertanyaan panjang ini datang.

Jelas saya bukan anak-anak. Umur saya seperempat abad dengan kumis yang tidak tipis dan ekspresi wajah yang tidak lucu. Dan itu kelihatan. Jadi, apakah ia memang ditugaskan untuk melambaikan tangan pada siapapun, termasuk orang dewasa, tidak melulu hanya pada anak-anak? Atau sebenarnya ia tahu saya orang dewasa, tetapi wajah saya dinilainya sedang murung, dianggapnya layak masuk dalam kategori orang dewasa yang sedang tidak bahagia atau spesifiknya sedang mengalami quarter-life crisis, sehingga ia merasa bertanggung jawab membuat saya tersenyum sebentar saja lewat lambaian tangan tersebut? Bahkan pada detik itu, diabaikannya bocah-bocah pencolotan yang mengelilingi kakinya minta perhatian. Ah, saya tidak murung. Saya menahan kencing, dan itu saja.

Sebentar. Apakah ia adalah seorang tua kelelahan seperti yang banyak diceritakan di media sosial atau grup whatsapp keluarga? Tapi ini pusat perbelanjaan. Tidak seperti pada perempatan-perempatan besar di tengah kota, sebelumnya saya sudah sering lihat Optimus Prime, Bumblebee, dan Megatron yang berdiri-berpose-menari berjam-jam di atrium mall dan tidak pernah berkesempatan melihat mereka ndhodhok beristirahat di satu tempat, menaruh kepala robot di sebelah kakinya, makan nasi bungkus atau gimana-gimana yang sesuai dengan syarat dan ketentuan potret-unggah beserta caption mengundang belas kasihan.

Ehm, barangkali benar ia seorang tua dan ternyata saya mirip putranya yang dulu pamit pergi ke kota kemudian tidak pernah terdengar kabarnya lagi, sehingga ia berupaya menyusul dan kecemplung pekerjaan tersebut, lalu speechless-mak tratap sebab tidak sengaja bertemu di tengah keramaian saat itu. Dilambaikanlah tangannya sebelum membeku. Hmm, jangan-jangan putranya sudah meninggal. Ia hanya teringat kembali setelah melihat wajah saya kemudian bermelankoli?

Oh! Apakah lambaian tangan itu dapat dimaknai bahwa ia meminta pertolongan sebab sedang dalam bahaya atau ancaman namun berada di bawah pengawasan kamera? Berlebihan, ya? Bisa jadi, ia seorang laki-laki atau perempuan seusia yang jatuh cinta dengan saya pada pandangan pertama, dan sebab privilege-nya bersembunyi di dalam boneka sehingga berani melambaikan tangan. Kita semua paham perihal aturan-aturan serba rumit terkait mengutarakan sesuatu dan saya sendiri mual kalau mengingat-ingat sudah terlalu banyak materi yang tertelan kembali. By the way, bagaimana ekspresinya saat itu? Mesem? Tersenyum lebar sampai kelihatan giginya? Melongo? Menggigit bibir? Mengedipkan mata?

Hey...

***

 Jogjakarta-Jember, 3 Januari 2021 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kota Besar

liburan kenaikan kelas lima sama seperti sebelum-sebelumnya setahun sekali naik mobil jalan-jalan ke rumah Pakde Nono di kota besar perjalanan yang melelahkan dan bikin masuk angin karena empat jam lebih jendelanya terbuka lalu pandangku teralihkan dengan megahnya baliho-baliho raksasa yang tidak pernah ada di kotaku bergambar 2 orang kaya pakai baju rapi sedang berjabat tangan ditambah tulisan bahasa inggris berbelit-belit yang tidak kumengerti artinya baliho lain bergambar mobil sedan mengkilap yang tidak pernah kulihat langsung kutebak harganya mahal sekali baliho lainnya lagi, ada yang bergambar makanan enak dengan piring besar ada yang bergambar rumah mewah dan keluarganya sedang bergandengan ada yang bertulisan angka-angka yang rumit dan nama-nama bank ada yang bergambar film-film barat yang perempuannya pakai baju seksi ada yang bergambar mahasiswa-mahasiswa ganteng dan cantik sedang belajar dan aku tidak bosan memandanginya kutebak juga, nantinya mahasiswa pa...

Air Mata, Bahagia

cerpen singkat lagi.. hanya mengarang. maaf jelek. bikinnya kesusu. hehe  ************** "kita gak pernah sejalan.. met malem" putra menangis lagi. berkali-kali ia menangis saat malam tak peduli lagi bahwa ia dilahirkan sebagai lelaki badannya kurus, tapi mumpuni lengan penuh tattoo tapi hatinya yang lemah perasaannya yang lemah mengalahkan semua itu ia ingin dimengerti pemikirannya ingin dimengerti tapi apa yang ia pikirkan, tidak pernah sejalan dengan apa yang dipikirkan kekasihnya, tami. gambar, buang gambar, buang gambar, buang untuk melukiskan wajah kekasihnya pun ia tak bisa wajar kalau orang biasa tapi putra berbeda putra lebih "seniman" dibandingkan teman-temannya jika begini ? kesulitan melukiskan wajah kekasihnya yang 4 tahun dia pandang air mata ia menangis ia menangis karena ia tahu, ia lebih mudah melukiskan air mata di wajah kekasihnya yang 4 tahun ia pandang teknik melukis air mata yang sangat putra kuasai rasa sesal ...

Catatan: Ibu dan Perempuan-Perempuan Lainnya

     Kabar dari ibu sungguh merusak pagi. Pekerjaan bapak adalah dokter gigi, dan sudah dua bulan jarang datang ke poli karena pandemi. Aktivitasnya hanya menangani keadaan-keadaan darurat, seperti halnya subuh tadi ia tergopoh-gopoh berangkat untuk menjalankan operasi. "Rumah sakit menghubungi. Salah seorang mahasiswi yang diampu bapak masuk UGD. Ia dihajar pacarnya sampai patah tulang rahang. Barangkali remuk".      Aku menggigil seketika. Mikrofon ponsel kujejali sumpah serapah, pada satu kesempatan marah-marah sebab mengetahui sekali lagi praktik kekerasan dalam sebuah hubungan. "Kira-kira terjadi masalah apa, sampai laki-lakinya kesetanan menghajar begitu?", tanya ibu. Tidak! Tidak tentang permasalahan yang sedang mereka berdua alami, tidak pula tentang ikut campur setan dalam kejadian ini! Sungguh identitas gender membuat bangsat itu merasa berhak mendominasi, punya kontrol atas pasangannya, berujung kekerasan pada akhirnya. Sungguh rapuh dan memalu...