Langsung ke konten utama

Sidewalk - Stigma (EP): Soundtrack Merindu Yang Memuat Isu Penting Terkait Kesehatan Mental

Dok. Pribadi Sidewalk
    
Brengsek. Saya merindu. Awal bulan kemarin, Jan Basaj mengirim pesan lewat direct message Instagram. Memberi kabar bahwa dirinya dan rekan-rekan seperjuangan tengah membangun media informasi-pengarsipan independen bertajuk RIR.ABADI (Rekap Irama Rekam-Arsip Basis Digital). Sebagai upaya konkrit melestarikan, menghargai, dan memusatkan distribusi karya musik lokal (Jember) di periodik tertentu, tulisnya. Singkat bla bla bla, beliau meminta saya mengirimkan data album 'Monolog' (album gak nggenah band metal-metalan saya yang diproduksi enam tahun lalu) untuk turut diarsipkan. Otomatis saya mbongkari folder-folder dalam harddisk sambil merindu, mengenang-ngenang. Foto band pakai kemeja kebesaran dan ekspresi wajah dimetal-metalkan, proses rekam dengan tempo guide tidak karu-karuan, berkesempatan main di panggung-panggung hebat yang dipernah diselenggarakan teman-teman hebat. Metal Fest, Rock United, Jember Kickin Ass, Fatal Blasting, Jember Rotten Ground, Jemfest, Sound of Pandalungan, hingga panggung kecil Heavy New Year. Basaj dkk juga jelas punya kenangan panjang-epik semenjak bergelut di dunia musik yang jadi bahan bakarnya tiada lelah menggagas ide penyelamatan.

Pada waktu yang sama, Sidewalk, Hardcore Punk aktif kreatif (ya bund) yang satu-dua personilnya saya kenal sejak lama dan punya banyak kenangan bersama -aduh, saya terharu. Mohon jangan dianggap ngaku-ngaku-, makaryo lagi pasca sukses album Between Belief and Hopefulness Inconvenience tahun lalu. EP yang tampak jeru. Tampak serius. Tampak ogah lima sekawan ini melambatkan denyut produktif kala handai tolan angkatannya termasuk saya memilih rebahan sebab kepegelen pulang kerja, mandeg makaryo, akeh ngersulo, senang sebentar kalau sempat mengenang-ngenang. Brengsek.

Sudah, sudah. Mari memutar Stigma. Sambil rebahan.

Sedikit banyak saya kenal Apri, frontman yang hobi kesurupan di atas panggung itu. Tahun-tahun sebelum Sidewalk dibentuk. Teman-teman jelas ingat, ia pengacau di barisan moshpit paling depan. Tidak pernah absen. Gigs-gigs kecil tahun baru atau semacamnya. Kakinya naik satu di sound monitor panggung. Headbang dan melantunkan lagu-lagu kita. Sesekali melihat satu persatu wajah personil, mengangguk-angguk sambil mengepalkan tangan, mengangkatnya ke atas. Sial. Menulis ini bikin merinding. Kehadiran Apri tidak pernah tidak membangkitkan energi. Teman-teman juga jelas tahu, kini ia telah menjelma pengacau di atas panggung bersama mikrofonnya.

Benar saja. Nomor pertama singkat menghajar dan tiga nomor berikutnya tidak memberikan kesempatan kuping beristirahat, kurang ajar. Nihil dalam kamus Apri terkait menurunkan tensi. Teriakannya tidak berhenti-berhenti. Sementara raung distorsi sempurna menyuguhkan riff-riff sarat emosi, genap dengan kombinasi dentuman Irwan dan Kiki. Yeah. Masih mengingatkan saya dengan Comeback Kid. Gagah bak As I Lay Dying. Sedikit Killswitch di sini, sedikit BFMV disana. Penuh perasaan (nelongso) macam Saosin. Eaaa... Halah!

When your hatred shortchanged
Are you gonna do exactly the same way in circles?
Blind yourself in angst
Walk your day in fear
Woke up wet from the worst sleeps
You were high on your bedroom
The unfinished war
Learned from being broke, from high castles window in the air down to sewer where everybody's spit
Why would you care. Let me do on my own and chase that dream that i was pointing on. Change your mind or anybody doesn’t deserves you.

Empat nomor berkesinambungan, di dalamnya puisi yang lebih personal, intim -dibanding album sebelumnya dengan nomor unggulan Buktikan yang video liriknya dieyel jadi macam Feast itu-. Sosok aku dan kau, me and you, barangkali dalam satu tubuh yang sama. Satu tubuh yang bisa jadi siapapun, jadi diri kita, atau jadi seseorang di dekat kita yang kelihatannya sedang baik-baik saja. Ruang gelap adalah nyata dan tubuh-tubuh ini/itu sudah sangat cukup pengalaman untuk berpura-pura. Ketidaksehatan mental, depresi, hingga tendensi bunuh diri adalah nyata dan kita masih saja gagal menerjemahkannya. Ya. Stigma meluncur tepat waktu dan tepat guna. Saya hampir menyesal sebab waktu itu tidak nggoogle liriknya dan terburu-buru menulis ini bersama anggapan musik ekstrim lokal masih sekedar pencilakan. Mengumpati pendengar non-ekstrim dan musisi genjrengan. Epok-epok bermuatan politis. Merayakan hal-hal yang membosankan. Hmm, hidup sudah terlalu singkat untuk disia-siakan. Saya pikir lewat EP ini jadi harap mereka terhadap siapapun untuk dapat mengenal dirinya sendiri. Untuk dapat menyayangi. Untuk dapat memahami sesama dan untuk dapat saling menyelamatkan. Hardcore melodius jadi kendaraan mereka menyampaikan isu penting terkait kesehatan mental, menggenapi gencarnya wacana-kampanye serupa beberapa waktu belakangan. Apabila dirasa muluk-muluk untuk dapat sampai ke kuping masyarakat, setidaknya sungguh bermanfaat bagi lingkaran terdekat.

Akhir kata, selamat. Geliat kreativitas, penciptaan dan konsistensi, torehan sejarah musik keras Jember beberapa tahun ke belakang sedang kembut-kembut tapi haram menyebutnya senjakala, Sidewalk dan EP-nya (dan kerjasama ngoyo kawan-kawan lain, tentunya) jadi penyelamat. Kita dan kota menua, mendewasa. Para muda satu persatu menyerah, yang lain menolak untuk mengalah. Genre ngebut surut pendengar. Warung-warung 24 jam bosan dengar nggedabrus masa depan skena. Rasan-rasan yang rabi. Menyayangkan situasi. Menuntut aksi. Nir-solusi. Apabila benar sederhananya yang harus dilakukan adalah makaryo dan pengarsipan, dan integrasi kuat keduanya, Sidewalk telah/sedang mengupayakannya. Rekap Irama Rekam telah/sedang mengupayakannya. Pihak-pihak terkait (studio rekaman, desainer, ilustrator, penulis, clothing-line, hingga penyedia ruang penyelenggaraan gigs) telah/sedang mengupayakannya. Beruntunglah kita! Beruntunglah kita! Beruntunglah kita!

Brengsek. Saya merindu. Masa-masa itu. Hampir setiap hari nonton download-an video klip The Concept Stays. Mengulang-ulang Symptoms + Cures. Melihat Sidewalk menjadi satu-satunya (semoga tidak salah) di Jember yang mengusung musik seemosional grup Kanada tersebut kala hardcore-hardcore chord garang menjamur. Dan kini mereka masih seperti itu. Lebih matang, jelasnya. Well, kalau merindu arena gelap bau keringat tempat kita dulu jatuh bangun dan bersorak sorai dengan kostum embuh itu, Sidewalk selalu pantas jadi soundtracknya. Jajal sendiri. Sambil rebahan. Semangat mereka masih seperti itu. Lebih berapi-api, jelasnya. Aduh. Sampai kapan pandemi? Mustahil rasanya mendengar musik sing-along Sidewalk tanpa membayangkan atmosfer gedung dan aksi mereka di atas panggung. Aksi yang barangkali juga menjadi upaya mereka mengenali, memaafkan, dan menyayangi dirinya sendiri. Lekas bertemu, mabuk, moshing, dan mencoba saling mengerti.

Catatan:

Buat Irwan (Sidewalk, Bass) yang tidak pernah main-main dengan harap, tujuan, dan mimpi-mimpinya. Teman satu band sejak SMP. Kadang pemarah. Kadang sumringah. Masih ingat video saya naik sepeda di turunan curam dekat rumahmu dan berakhir menabrak batu hingga sadel sepedanya menghantam ndog-ndogan ini? Apa kabar gitar Zacky Vengeance-mu? Sehat selalu untukmu dan keluarga. Semoga dapat segera bertemu.

***

Surabaya, 25 Februari 2021

Dengarkan Stigma (EP) disini:
https://open.spotify.com/album/73DD7qBWBoiBLHc9TGnIqN?si=aGfm6FqjR72zaKQBX-v4gg

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kota Besar

liburan kenaikan kelas lima sama seperti sebelum-sebelumnya setahun sekali naik mobil jalan-jalan ke rumah Pakde Nono di kota besar perjalanan yang melelahkan dan bikin masuk angin karena empat jam lebih jendelanya terbuka lalu pandangku teralihkan dengan megahnya baliho-baliho raksasa yang tidak pernah ada di kotaku bergambar 2 orang kaya pakai baju rapi sedang berjabat tangan ditambah tulisan bahasa inggris berbelit-belit yang tidak kumengerti artinya baliho lain bergambar mobil sedan mengkilap yang tidak pernah kulihat langsung kutebak harganya mahal sekali baliho lainnya lagi, ada yang bergambar makanan enak dengan piring besar ada yang bergambar rumah mewah dan keluarganya sedang bergandengan ada yang bertulisan angka-angka yang rumit dan nama-nama bank ada yang bergambar film-film barat yang perempuannya pakai baju seksi ada yang bergambar mahasiswa-mahasiswa ganteng dan cantik sedang belajar dan aku tidak bosan memandanginya kutebak juga, nantinya mahasiswa pa...

Catatan: Ibu dan Perempuan-Perempuan Lainnya

     Kabar dari ibu sungguh merusak pagi. Pekerjaan bapak adalah dokter gigi, dan sudah dua bulan jarang datang ke poli karena pandemi. Aktivitasnya hanya menangani keadaan-keadaan darurat, seperti halnya subuh tadi ia tergopoh-gopoh berangkat untuk menjalankan operasi. "Rumah sakit menghubungi. Salah seorang mahasiswi yang diampu bapak masuk UGD. Ia dihajar pacarnya sampai patah tulang rahang. Barangkali remuk".      Aku menggigil seketika. Mikrofon ponsel kujejali sumpah serapah, pada satu kesempatan marah-marah sebab mengetahui sekali lagi praktik kekerasan dalam sebuah hubungan. "Kira-kira terjadi masalah apa, sampai laki-lakinya kesetanan menghajar begitu?", tanya ibu. Tidak! Tidak tentang permasalahan yang sedang mereka berdua alami, tidak pula tentang ikut campur setan dalam kejadian ini! Sungguh identitas gender membuat bangsat itu merasa berhak mendominasi, punya kontrol atas pasangannya, berujung kekerasan pada akhirnya. Sungguh rapuh dan memalu...

Air Mata, Bahagia

cerpen singkat lagi.. hanya mengarang. maaf jelek. bikinnya kesusu. hehe  ************** "kita gak pernah sejalan.. met malem" putra menangis lagi. berkali-kali ia menangis saat malam tak peduli lagi bahwa ia dilahirkan sebagai lelaki badannya kurus, tapi mumpuni lengan penuh tattoo tapi hatinya yang lemah perasaannya yang lemah mengalahkan semua itu ia ingin dimengerti pemikirannya ingin dimengerti tapi apa yang ia pikirkan, tidak pernah sejalan dengan apa yang dipikirkan kekasihnya, tami. gambar, buang gambar, buang gambar, buang untuk melukiskan wajah kekasihnya pun ia tak bisa wajar kalau orang biasa tapi putra berbeda putra lebih "seniman" dibandingkan teman-temannya jika begini ? kesulitan melukiskan wajah kekasihnya yang 4 tahun dia pandang air mata ia menangis ia menangis karena ia tahu, ia lebih mudah melukiskan air mata di wajah kekasihnya yang 4 tahun ia pandang teknik melukis air mata yang sangat putra kuasai rasa sesal ...