![]() |
| Dok. Pribadi Sidewalk |
Pada waktu yang sama, Sidewalk, Hardcore Punk aktif kreatif (ya bund) yang satu-dua personilnya saya kenal sejak lama dan punya banyak kenangan bersama -aduh, saya terharu. Mohon jangan dianggap ngaku-ngaku-, makaryo lagi pasca sukses album Between Belief and Hopefulness Inconvenience tahun lalu. EP yang tampak jeru. Tampak serius. Tampak ogah lima sekawan ini melambatkan denyut produktif kala handai tolan angkatannya termasuk saya memilih rebahan sebab kepegelen pulang kerja, mandeg makaryo, akeh ngersulo, senang sebentar kalau sempat mengenang-ngenang. Brengsek.
Sudah, sudah. Mari memutar Stigma. Sambil rebahan.
Sedikit banyak saya kenal Apri, frontman
yang hobi kesurupan di atas panggung itu. Tahun-tahun sebelum Sidewalk
dibentuk. Teman-teman jelas ingat, ia pengacau di barisan moshpit paling depan. Tidak pernah absen. Gigs-gigs kecil tahun
baru atau semacamnya. Kakinya naik satu di sound monitor panggung. Headbang dan
melantunkan lagu-lagu kita. Sesekali melihat satu persatu wajah personil,
mengangguk-angguk sambil mengepalkan tangan, mengangkatnya ke atas. Sial.
Menulis ini bikin merinding. Kehadiran Apri tidak pernah tidak membangkitkan
energi. Teman-teman juga jelas tahu, kini ia telah menjelma pengacau di atas
panggung bersama mikrofonnya.
Benar saja. Nomor pertama singkat menghajar
dan tiga nomor berikutnya tidak memberikan kesempatan kuping beristirahat,
kurang ajar. Nihil dalam kamus Apri terkait menurunkan tensi. Teriakannya tidak
berhenti-berhenti. Sementara raung distorsi sempurna menyuguhkan riff-riff
sarat emosi, genap dengan kombinasi dentuman Irwan dan Kiki. Yeah. Masih mengingatkan saya dengan
Comeback Kid. Gagah bak As I Lay Dying. Sedikit Killswitch di sini, sedikit
BFMV disana. Penuh perasaan (nelongso)
macam Saosin. Eaaa... Halah!
When your hatred shortchanged
Are you gonna do exactly the
same way in circles?
Blind yourself in angst
Walk your day in fear
Woke up wet from the worst
sleeps
You were high on your bedroom
The unfinished war
Learned from being broke,
from high castles window in the air down to sewer where everybody's spit
Why would you care. Let me do
on my own and chase that dream that i was pointing on. Change your mind or
anybody doesn’t deserves you.
Empat nomor berkesinambungan, di dalamnya
puisi yang lebih personal, intim -dibanding album sebelumnya dengan nomor unggulan
Buktikan yang video liriknya dieyel
jadi macam Feast itu-. Sosok aku dan kau, me
and you, barangkali dalam satu tubuh yang sama. Satu tubuh yang bisa jadi
siapapun, jadi diri kita, atau jadi seseorang di dekat kita yang kelihatannya
sedang baik-baik saja. Ruang gelap adalah nyata dan tubuh-tubuh ini/itu sudah
sangat cukup pengalaman untuk berpura-pura. Ketidaksehatan mental, depresi,
hingga tendensi bunuh diri adalah nyata dan kita masih saja gagal
menerjemahkannya. Ya. Stigma
meluncur tepat waktu dan tepat guna. Saya hampir menyesal sebab waktu itu tidak
nggoogle liriknya dan terburu-buru
menulis ini bersama anggapan musik ekstrim lokal masih sekedar pencilakan. Mengumpati
pendengar non-ekstrim dan musisi genjrengan. Epok-epok bermuatan politis. Merayakan hal-hal yang membosankan.
Hmm, hidup sudah terlalu singkat untuk disia-siakan. Saya pikir lewat EP ini
jadi harap mereka terhadap siapapun untuk dapat mengenal dirinya sendiri. Untuk
dapat menyayangi. Untuk dapat memahami sesama dan untuk dapat saling menyelamatkan.
Hardcore melodius jadi kendaraan mereka menyampaikan isu penting terkait
kesehatan mental, menggenapi gencarnya wacana-kampanye serupa beberapa waktu
belakangan. Apabila dirasa muluk-muluk untuk dapat sampai ke kuping masyarakat,
setidaknya sungguh bermanfaat bagi lingkaran terdekat.
Akhir kata, selamat. Geliat kreativitas,
penciptaan dan konsistensi, torehan sejarah musik keras Jember beberapa tahun
ke belakang sedang kembut-kembut tapi haram menyebutnya senjakala, Sidewalk dan
EP-nya (dan kerjasama ngoyo
kawan-kawan lain, tentunya) jadi penyelamat. Kita dan kota menua, mendewasa.
Para muda satu persatu menyerah, yang lain menolak untuk mengalah. Genre ngebut
surut pendengar. Warung-warung 24 jam bosan dengar nggedabrus masa depan skena. Rasan-rasan yang rabi. Menyayangkan
situasi. Menuntut aksi. Nir-solusi. Apabila benar sederhananya yang harus
dilakukan adalah makaryo dan
pengarsipan, dan integrasi kuat keduanya, Sidewalk telah/sedang
mengupayakannya. Rekap Irama Rekam telah/sedang mengupayakannya. Pihak-pihak
terkait (studio rekaman, desainer, ilustrator, penulis, clothing-line, hingga penyedia ruang penyelenggaraan gigs)
telah/sedang mengupayakannya. Beruntunglah kita! Beruntunglah kita!
Beruntunglah kita!
Brengsek. Saya merindu. Masa-masa itu. Hampir
setiap hari nonton download-an video
klip The Concept Stays. Mengulang-ulang Symptoms + Cures. Melihat Sidewalk menjadi
satu-satunya (semoga tidak salah) di Jember yang mengusung musik seemosional
grup Kanada tersebut kala hardcore-hardcore chord
garang menjamur. Dan kini mereka masih seperti itu. Lebih matang, jelasnya. Well, kalau merindu arena gelap bau
keringat tempat kita dulu jatuh bangun dan bersorak sorai dengan kostum embuh itu, Sidewalk selalu pantas jadi soundtracknya. Jajal sendiri. Sambil rebahan. Semangat mereka masih seperti itu.
Lebih berapi-api, jelasnya. Aduh. Sampai kapan pandemi? Mustahil rasanya
mendengar musik sing-along Sidewalk tanpa
membayangkan atmosfer gedung dan aksi mereka di atas panggung. Aksi yang
barangkali juga menjadi upaya mereka mengenali, memaafkan, dan menyayangi
dirinya sendiri. Lekas bertemu, mabuk, moshing,
dan mencoba saling mengerti.
Catatan:
Buat
Irwan (Sidewalk, Bass) yang tidak pernah main-main dengan harap, tujuan, dan
mimpi-mimpinya. Teman satu band sejak SMP. Kadang pemarah. Kadang sumringah. Masih
ingat video saya naik sepeda di turunan curam dekat rumahmu dan berakhir
menabrak batu hingga sadel sepedanya menghantam ndog-ndogan ini? Apa kabar gitar Zacky Vengeance-mu? Sehat selalu untukmu
dan keluarga. Semoga dapat segera bertemu.
***
Surabaya, 25 Februari 2021
Dengarkan Stigma (EP) disini:
https://open.spotify.com/album/73DD7qBWBoiBLHc9TGnIqN?si=aGfm6FqjR72zaKQBX-v4gg

Komentar
Posting Komentar