Langsung ke konten utama

Fleuro - Dead End Music Video: Amarah-Amarah Itu. Apakah Semuanya Benar-Benar Nyata?


    Di bawah jembatan. Disiram lampu kuning. Ada waria sedang menari. Tariannya buruk. Seadanya. Memang ia tidak bisa menari. Di ruang yang lain, di antah berantah, pengap. Ada laki-laki sedang mengumpati kebosanan, mungkin dirinya sendiri. Di ruang yang lain lagi. Terhimpit gedung-gedung muram warna abu-abu tua yang ditertawakan kota. Ada darah berceceran, dan ada perempuan hamil membawa palu sedang meniti langkah terengah-engah. 4 menit berlalu. Apakah semuanya benar-benar nyata?

    Fleuro. Grup musik shoegaze berisik Surabaya ini baru kemarin merilis video klip single perdananya yang bertajuk Dead End. Cul-de-sac, kalau kata Thom Yorke. Digarap sejak Desember tahun lalu oleh sutradara bajingan, Bernardus Raka, bersama kru-kru piawai andalannya. Terhitung singkat proses mereka memvisualisasikan lagu apik mood indie rock 90-an dengan distorsi dan gebukan chinese terus-terusan komplit beserta lirik nelongso yang dinyanyikan merdu mbenging-mbenging oleh vokalisnya itu.

I'm always further than you

keep this memory with you

cause i'm going home

too soon

***

    Saya teringat seorang anak. Umurnya kurang lebih 11 tahun. Tubuhnya kecil. Lemah. Geraknya lambat. Tidak jago main bola. Tidak jago main sembunyi-sembunyian. Jelas ia jadi pupuk bawang di antara teman-teman sekompleknya. Jadi kalah-kalahan. Jadi pecundang.

    Pada suatu sore yang tak terlupakan, anak-anak komplek memarkir sepedanya di lapangan dan berkumpul. "Hei, sini!", beberapa dari mereka memanggil bocah 6 tahun yang sedang main pedang-pedangan pakai batang daun pepaya. Dion namanya. Nakal. Percaya diri. Bagian atas bibirnya basah karena ingusnya mengalir tidak berhenti-berhenti. "Kamu berani memukul Juno?". Mereka menunjuk si pupuk bawang. Dion mengangguk dan langsung mendatangi Juno, kemudian memukul hidungnya. Anak-anak tertawa. Juno ikut tertawa.

    Petang Juno pulang. Sambil mengayuh sepeda ia mengumpat sendiri. Marah. Menggemeretakkan gigi. Membayangkan kesempatan memukul balik Dion. Membayangkan kesempatan meludahi anak-anak komplek. Membayangkan banyak hal. Ia mengumpat lagi. Matanya berkaca-kaca.

***

    Saya juga memikirkan banyak hal awal tahu konsep cerita lalu nonton offlinenya. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, rasanya tidak perlu/tidak penting lagi untuk menganggap video klip ini punya maksud cari gara-gara dengan khalayak di sekitar kita yang mendewasa dengan batasan-batasan moralnya. Atau membikin sensasi ngeri-berdaya ganggu kala para muda sedang haus-hausnya mencari hiburan/kesenangan di tengah pandemi sialan. Rasanya memang tidak sepermukaan itu.

Dok. @jonathansu_

    "Kemarahanku memang tidak atau belum merubah apapun, tapi paling tidak aku sudah marah, aku sudah melakukannya dan aku lega. Dead End semacam jalan buntu yang aku cari, dan aku akan terus berada di situ, sampai suaraku habis dan hanya bikin dinding kebuntuan itu bergetar tanpa bisa merobohkannya", tulis sang sutradara di akun media sosialnya. Ya. Konsep bajingan satu ini mengingatkanku tentang Juno. Tentang amarah. Tentang bagaimana menyalurkannya. Tentang bagaimana memuaskannya. Meredakannya. Membayang-bayangkan sesuatu yang sama sekali tidak sesuai dengan kenyataannya. Membayang-bayangkan laku yang belum tentu mampu dipraktekkannya. Tapi ruang sia-sia itulah yang berhasil membuat lega meski sesaat saja.

    Di antah berantah. Di dalam kendaraan mewah. Laki-laki yang mengumpati kebosanan tadi sudah sekarat. Lalu mati. Kehabisan nafas. Dua orang embuh datang waktu langit sudah petang. Di kamar terang, waria tadi sedang hohohihe dengan lekongnya yang sudah punya istri. Di kamar terang! Di dunia siang! Di dunia moral! Sementara si hamil sudah menang. Rahang dua laki-laki yang kaosnya seragam itu ambrol. Ambrol tenan. Tidak ada gunanya pistol di tangan. Apakah semuanya benar-benar nyata? Juru ceritanya Seno Gumira Ajidarma menjawab, "Oh, itu sama sekali tidak penting Alina. Itu sama sekali tidak penting".

I'm trying to forget you

We will never be never be

I'm tied here forever

You will never see never see

***

Surabaya, 18 Februari 2021

Tonton video klip Dead End disini:




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kota Besar

liburan kenaikan kelas lima sama seperti sebelum-sebelumnya setahun sekali naik mobil jalan-jalan ke rumah Pakde Nono di kota besar perjalanan yang melelahkan dan bikin masuk angin karena empat jam lebih jendelanya terbuka lalu pandangku teralihkan dengan megahnya baliho-baliho raksasa yang tidak pernah ada di kotaku bergambar 2 orang kaya pakai baju rapi sedang berjabat tangan ditambah tulisan bahasa inggris berbelit-belit yang tidak kumengerti artinya baliho lain bergambar mobil sedan mengkilap yang tidak pernah kulihat langsung kutebak harganya mahal sekali baliho lainnya lagi, ada yang bergambar makanan enak dengan piring besar ada yang bergambar rumah mewah dan keluarganya sedang bergandengan ada yang bertulisan angka-angka yang rumit dan nama-nama bank ada yang bergambar film-film barat yang perempuannya pakai baju seksi ada yang bergambar mahasiswa-mahasiswa ganteng dan cantik sedang belajar dan aku tidak bosan memandanginya kutebak juga, nantinya mahasiswa pa...

Catatan: Ibu dan Perempuan-Perempuan Lainnya

     Kabar dari ibu sungguh merusak pagi. Pekerjaan bapak adalah dokter gigi, dan sudah dua bulan jarang datang ke poli karena pandemi. Aktivitasnya hanya menangani keadaan-keadaan darurat, seperti halnya subuh tadi ia tergopoh-gopoh berangkat untuk menjalankan operasi. "Rumah sakit menghubungi. Salah seorang mahasiswi yang diampu bapak masuk UGD. Ia dihajar pacarnya sampai patah tulang rahang. Barangkali remuk".      Aku menggigil seketika. Mikrofon ponsel kujejali sumpah serapah, pada satu kesempatan marah-marah sebab mengetahui sekali lagi praktik kekerasan dalam sebuah hubungan. "Kira-kira terjadi masalah apa, sampai laki-lakinya kesetanan menghajar begitu?", tanya ibu. Tidak! Tidak tentang permasalahan yang sedang mereka berdua alami, tidak pula tentang ikut campur setan dalam kejadian ini! Sungguh identitas gender membuat bangsat itu merasa berhak mendominasi, punya kontrol atas pasangannya, berujung kekerasan pada akhirnya. Sungguh rapuh dan memalu...

Air Mata, Bahagia

cerpen singkat lagi.. hanya mengarang. maaf jelek. bikinnya kesusu. hehe  ************** "kita gak pernah sejalan.. met malem" putra menangis lagi. berkali-kali ia menangis saat malam tak peduli lagi bahwa ia dilahirkan sebagai lelaki badannya kurus, tapi mumpuni lengan penuh tattoo tapi hatinya yang lemah perasaannya yang lemah mengalahkan semua itu ia ingin dimengerti pemikirannya ingin dimengerti tapi apa yang ia pikirkan, tidak pernah sejalan dengan apa yang dipikirkan kekasihnya, tami. gambar, buang gambar, buang gambar, buang untuk melukiskan wajah kekasihnya pun ia tak bisa wajar kalau orang biasa tapi putra berbeda putra lebih "seniman" dibandingkan teman-temannya jika begini ? kesulitan melukiskan wajah kekasihnya yang 4 tahun dia pandang air mata ia menangis ia menangis karena ia tahu, ia lebih mudah melukiskan air mata di wajah kekasihnya yang 4 tahun ia pandang teknik melukis air mata yang sangat putra kuasai rasa sesal ...