Langsung ke konten utama

Air Mata, Bahagia

cerpen singkat lagi.. hanya mengarang. maaf jelek. bikinnya kesusu. hehe

 **************


"kita gak pernah sejalan..
met malem"

putra menangis lagi. berkali-kali ia menangis saat malam
tak peduli lagi bahwa ia dilahirkan sebagai lelaki
badannya kurus, tapi mumpuni
lengan penuh tattoo
tapi hatinya yang lemah
perasaannya yang lemah mengalahkan semua itu
ia ingin dimengerti
pemikirannya ingin dimengerti
tapi apa yang ia pikirkan, tidak pernah sejalan dengan apa yang dipikirkan kekasihnya, tami.

gambar, buang
gambar, buang
gambar, buang
untuk melukiskan wajah kekasihnya pun ia tak bisa
wajar kalau orang biasa
tapi putra berbeda
putra lebih "seniman" dibandingkan teman-temannya
jika begini ?
kesulitan melukiskan wajah kekasihnya yang 4 tahun dia pandang
air mata
ia menangis
ia menangis karena ia tahu,
ia lebih mudah melukiskan air mata di wajah kekasihnya yang 4 tahun ia pandang
teknik melukis air mata yang sangat putra kuasai
rasa sesal
bingung
apa yang harus ia lakukan

***

"yank, kamu lagi ngapain ?"
"lg belajar di kamar. sulit banget.."

balas putra di antara teman-teman senimannya di PKM tempat kuliahnya, ditemani kepul rokok.
putra bukan pembohong. Putra menjaga perasaan Tami.
Putra tak ingin Tami khawatir akan keadaannya.
Ia tetap merasa bersalah

kata kekasihnya
"jujur didepan, sakit hati.
berbohong di belakang, sakit hati. semua sakit hati."

Dari sudut Putra ? sudut lelaki ?
pernahkah sudut itu dipandang ?
kegalauan tiap malam dan ketakutan akan perasaan serba salah ?
Pernahkah itu dipikirkan wanita ?

***

"Tam, ikut aku k PKM yuk. ngambil lampu"
Ifah, sahabat Tami, anak teater.
"ayok, aku boring dirumah. pacarku belajar terus. katanya sih banyak tugas"
"ntar lagi aku jemput"

beberapa menit bulan yang malu-malu tapi tak mau mengalah dengan awan mendung malam,
sampai Tami dan Ifah tiba di PKM.
"Tam, aku kok pernah liat sepeda itu?"
"mana fah?"
"megapro merah.. pojok sendiri"

"deg"
jantung Tami berhenti sesaat
lalu kembali berfungsi cepat
lalu memompa deras
memompa deras darah
memompa deras air mata menuju indra penglihatannya
itu sepeda Putra

mata Tami berkaca-kaca. Bukan pertama ia di beginikan. mungkin sudah ke seribu kalinya.
"kenapa aku selalu disakiti.. untuk mengerti aku saja ia sulit.. aku terus belajar memahaminya.. kenapa ia tak pernah mau memahamiku.."

"kenapa Tam?"
"itu sepeda Putra."
"Loh katanya putra di rumah? mungkin temennya pinjem Tam. Jangan nangis Tam. kamu kenapa?"
"Putra gak suka minjemin barang. Apalagi sepeda. Gak papa kok. Udah yuk, pulang."

***

Lagi-lagi air mata
air mata
air mata
air mata kini
membasahi bantal yang menutup muka Tami
"aku dari PKM sama Ifah. Kamu jahat. Apa sih maksudnya? kenapa sih kalau gak berbohong?"
SMS Tami ke kirim ke Putra

"aku gak pengen kamu khawatir. maafin aku. kamu pasti marah kalau aku ke PKM. Kamu liat teman2ku yang seperti itu,
kamu takut aku terpengaruh
kamu takut aku lebih suka sama temen
kamu takut aku gak menghiraukan kamu
kamu pasti marah kalau aku sama temen
kamu pasti capek
karena ini udah berkali-kali.."

sebenarnya itu yang ingin putra balas
tapi, Putra ingat janjinya
untuk lebih memahami Tami yang tidak tahu alasan putra seperti itu

"aku gak pengen kamu khawatir. maafin aku. maaf ya. moga kamu ngerti"
hanya itu balasan Putra.

"gak akan bisa ngerti. ini udah berkali-kali. kerjaanmu tiap hari ke PKM, sms jarang. kapan kamu nemenin aku? ada untuk aku ? 4 tahun kamu jarang ada untuk aku. aku udah usaha ngerti kamu. Kamu pasti lupa sama janji-janjimu!"

"kan marah kan. Aku ngambil semen ukiran."
"sepenting itu semen ukiran daripada aku ?!"
"itu gak perlu aku jelaskan. tolong ngerti.  maaf"

Tami tak tahan. Amarahnya tak dimengerti putra. Air matanya semakin deras melihat jawaban SMS putra yang secuek

itu, se takmengerti itu.
Ia membanting HPnya dan tidur tanpa ketenangan.

***

"sayang, maafin aku yang tadi malem"
"gak perlu dibahas sayang. jujur aku udah capek. aku gak tau apa maumu"
"maafin aku sayang. aku juga gak tau. kenapa tiap kali aku berpikir selalu berbeda dengan pemikiranmu."
"udah gak usah dibahas. gak papa. lupakan."

"sayang"
"apa ?"
"boleh aku tinggal seharian ?"
"lagi ? :("
"aku ada tugas kesenian sayang. maaf"
"Y"
"sayang maaaaaf"
"y"

permintaan maaf putra barusan hanya sebentar memperbaiki suasana. beberapa detik, lagi-lagi.
Ya Allah, putra ingin dimengerti Tami. Putra juga ingin menyenangkan Tami. Putra sudah berusaha sebisa mungkin

untuk menuruti apa mau Tami, tapi , ya seperti ini hasilnya.

tiap hari putra tak ada waktu untuk Tami. untuk apa? tak ada kejelasan apa yang putra lakukan.
sms pun jarang.

cocok tidak cocok, kedekatan fisik membuat semuanya tidak bisa menjauh.
Tami, muak dengan semua ini. Janji-janji putra yang tak pernah ia tepati.

***

PUTUS. Ya, putus.
Tami terus memupuk keyakinan bahwa hubungan dengan Putra tak perlu di lanjutkan.
besok Tami ulang Tahun,tapi ia lupa. entah, atau tak peduli.

malam ini putra sedang di rumah Tami. tujuannya ya satu, terus berusaha menyenangkan Tami. walaupun banyak

perbedaan sifat.

Tami membuka pembicaraan
"aku sayang sama kamu.."
putra tersenyum. tangannya terus memetik gitar, alunan yang indah.
mulutnya menyanyikan nada merdu, lagu kesukaan Tami.
Tami terus memandang mata putra, menahan tangis.
biasanya ia luluh saat putra seperti ini.
biasanya Tami merasakan ketulusan cinta Putra disaat berpandangan seperti ini
tapi tami meneguhkan perasaannya. Tami tak mau sakit hati terus-terusan.
mata Tami semakin berkaca kaca, memandang mata putra yang begitu tulus
menyanyikan lagu itu.

"kalau nanti kita putus, kita tetep temenan ya.."

Tami memutar haluan kata-kata yang sebelumnya ia susun. Tami tak kuat memandang ketulusan putra.
di sisi lain Tami juga tak kuat mempertahankan hatinya.
Tami menangis deras.

"sayang, kamu kenapa ? aku salah lagi ya? maaf.."

"sayang, maafin aku sebelumnya
aku gak tau harus gimana
aku gak mau nyalahin kamu
aku anggap ini jalan Tuhan
kita gak pernah sejalan"

Putra sudah menangkap apa mau Tami. Putra tetap diam, juga menahan tangis.

"kita udah gak sepemikiran
aku egois
aku selalu minta kamu jadi apa yang aku mau
tapi inilah aku
kita emang berbeda
sayang,
aku butuh perhatianmu
bukan barang2 mahal
apa lah, apa lah
semua kucoba kuterima
tapi ini akhir
aku sudah tak kuat menahannya
pacaran menggantung denganmu
tanpa perhatianmu
maaf
aku gak nyalahin kamu
sekali lagi kita beda sifat
dan kita kesulitan menyatukannya
sayang, kita temenan aja ya. aku masih sayang sama kamu.
kita temenan aja ya.. kita.. maaf."
Tami tak bisa meneruskan. air matanya deras. makin deras saat mata Putra juga dialiri air mata.

Putra.
sebuah penyesalan.
apa yang ia lakukan selama ini. usahanya sia-sia. Tami tak pernah merasakan ketulusan, usahanya..
sebuah penyesalan.
Putra.
tak mau melawan.
menuruti apa mau Tami, termasuk membahagiakannya. iya kan ?
Putra.
mau tak mau menerima semua ini. dengan sakit hati sessal yang luar biasa.

"jangan hubungi aku selama 1 minggu. aku mau obati kesedihanku ini put"
"Tami, besok kamu ulang tahun. meskipun udah putus, kamu mau keluar sama aku? untuk sekali ini. tolong Tam.."

"udah put. jangan ngrepotin diri kamu sendiri. pulanglah. istirahatlah. besok aku ada acara sama teman temanku.

udah put. jangan hubungi aku lagi untuk sementara ini.
Oiya, kita tetep temenan lagi lo. setelah 1 minggu.."
"tolong lah. sekali ini aja."
"udah lah put. Pulanglah ! gak bisa !"

***

SELAMAAAT.. ULANG TAHUUN.. AKU UCAPKAN..
SELAMAAT PANJANG UMUR.. AKU KAN DOAKAN..
SELAMAT SEJAHTERA SEHAT SENTOSA..
SELAMAT PANJANG UMUR, DAN BAHAGIAA..

Tamiii.. selamat ulang tahun ya. tambah cantik deh. hehe semoga kamu sukses.. dapet tempat kuliah yang bagus.
tetep punya mimpi untuk nyenengin ortumu. semoga tambah berguna untuk orang lain, untuk orang tua.
jangan lupa ibadahnya ya.. dan jangan lupain aku. hehe

Tami, ini kue tar buat kamu. gedhe kan, hehe
hehe tami senyum terus.. suka ya ? jangan di liat terus kue tarnya. di maem..
di tiup dulu dong lilinnya..

YEEEE.. MAKE A WISH DULUU..

Selamat ulang Tahun ya.. Tamii, aku sayaaang kamuu..


Air mata terus membanjiri pipi putra, mengiringi mulutnya yang terus berbicara. Putra berbicara sendiri, memegang

kue tar. meniup lilin itu sendiri. Putra sendiri, berdiri. terus berusaha tersenyum.

Di depannya, setinggi sama seperti dia, patung seorang wanita.
Tami. Itu patung Tami yang sedang tersenyum.
matanya detail, rambutnya terurai kaku.

patung yang putra buat, dengan ukiran yang sangat rapi dan sepenuh hati.
patung yang putra buat, sampai memakan waktu lama dan waktu seharusnya putra menemani Tami.
Patung yang putra buat, sebagai bukti, putra menyayangi Tami sepenuh hati
patung yang putra buat, sebagai bukti putra mengerti Tami, bukti putra berusaha keras untuk membahagiakan Tami.
walau Tami tak mengerti ini, usaha keras putra yang belum tersampaikan.

Patung yang putra buat, untuk surprise ulang tahun Tami hari ini.


END

Komentar

  1. keren mas broooo...... :D
    blogwalking balik mas BRO,.

    http://cilpacastra.blogspot.com/

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Klakson

     Dugaanmu cerita singkat ini mendeskripsikan penderitaan hidup di kota dan berakhir begitu-begitu saja. Tunggu. Kau harus baca. Aku akan memulainya dengan antrian panjang kendaraan para pekerja yang ingin segera pulang di lampu merah. Lampu merah yang beberapa waktu setelahnya berubah menjadi hijau tapi antrian tidak bergerak sebab dihentikan polisi dan mobil pejabat yang akan segera lewat dari jalan lainnya. Itu-itu saja? Ya, itu-itu saja. Aku berulang mengalaminya dan merasa kesal tidak dapat melakukan apa-apa. Rasa kesal yang kemudian menjadi berlipat-lipat mengetahui orang-orang juga tidak dapat melakukan apa-apa, atau malah terkesan tidak ingin sebab ekspresi mereka menunjukkan seakan tidak sedang terjadi apa-apa.      Tapi tidak, petang itu. Dari jalan Ciliwung, lampu merah berubah jadi hijau. Antrian kendaraan tidak bergerak, tapi mesinnya menderu-deru. Tiga polisi menghentikannya, mengayun-ayunkan stick berlampu. Jelas mobil pejabat akan lewat. ...

Buku: Kukila - M Aan Mansyur

"Brengsek!", kataku usai membaca 'Aku Selalu Bangun Lebih Pagi'. Aku berhadapan lagi dengan karangan Aan, yang memang seringkali membuatku mengumpat. Gejolak masa muda, ciuman, perselingkuhan, pulang kampung saat lebaran, dan kisah sederhana-rumit-dewasa lain ada dalam kumcer Kukila. Begitu harmonis perpaduan antara; tema aktual yang diusung, unsur kedaerahan Aan, cerita yang pilu (atau lucu, atau brengsek, atau mengejutkan), dan jalinan kata mind-blowing khas Aan. Tidak jarang pula ceritanya memaksaku merenung atau berdiskusi dengan diri sendiri, menghasilkan kesadaran dan upaya memahami, menghindari penilaian-penilaian. Menjadi sorotan utama kumcer ini, cerpen Kukila itu sendiri. Memakan puluhan halaman di awal, jauh lebih panjang dari 15 cerpen lainnya. Cerita cinta penuh misteri dan kejutan, alurnya mengalir nikmat, mengantarku pada kenyataan, pelajaran tentang kemanusiaan. Aku selalu mengagumi bagaimana Aan membaca kejadian/momen dengan begitu detail, dan ke...