Langsung ke konten utama

Tulisan Untuk Kawan

kawan,
cerita yang membosankan tentang kehilangan
mana ada orang yang tidak pernah?
jarak adalah bagian dari perjalanan
perpisahan adalah bagian dari kehidupan

hari-hari lalu, kawan
kasih sayang, keputusasaan, pengakuan, ketulusan, kejujuran, dan keberanian
tak kurang tapi tak pernah cukup kita mainkan, mengitari tempat dan waktu dalam panggung-panggung kehidupan
tiap mimik dan percakapannya berjanji tak akan pernah jauh dari permasalahan
jangan dikhianati
buku-buku dan kenyataan-kenyataan selalu menanti untuk dipelajari


perjuangan kita belum ada artinya, kawan
kemarin waktu kita habis untuk menolak sepi
suara dari tenggorokan habis untuk berkecap isi hati
keringat mengalir untuk pembuktian dan jati diri
masih mencoba mengerti, menerka arti dari guru terbaik, alam raya
kawan, belum terlambat
jangan pernah berhenti
mereka yang kau sayangi sedang menanti

kita pernah duduk di suatu malam
bergantian bicara sebatas isi kepala
menafsir-nafsirkan kehidupan
tapi siapa yang tidak tahu bahwa semuanya tentang pencarian dan persoalan?
ya, yang harus kau janjikan dalam tiap keputusanmu adalah
kebahagiaan

berjuang untuk diri sendiri
memenuhi dan mensyukuri kebutuhan-kebutuhan
sampai akhirnya jadi orang yang dibutuhkan
sampai akhirnya tangan ini bisa selalu memberi
jangan pernah lupa tanggung jawab menjadi manusia

besok hari Jumat
dimana kita sering bersama ke tempat ibadah
tempat orang menyerahkan diri pada Tuhan atau mencari ketenangan
doaku mengiringi dan melengkapi
kau telah memulai sebuah perjalanan
untuk membangun keteduhan
bagi anak-anakmu dan generasi depan

***

Pramoedya Ananta Toer menulis dalam Rumah Kaca,
"Orang bilang ada kekuatan-kekuatan dahsyat yang tak terduga yang bisa timbul pada samudera, pada gunung berapi dan pada pribadi yang tahu benar akan tujuan hidupnya"

Untuk adik-adikku Teater Rumpad
Jember, 16 Februari 2017

Komentar

  1. kawan, belum terlambat
    jangan pernah berhenti
    mereka yang kau sayangi sedang menanti

    suka pol bagian ini kak, semacam mengingatkan aku buat nda males kuliah, buat orgtua. Hehehe
    terima kasih kak.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Klakson

     Dugaanmu cerita singkat ini mendeskripsikan penderitaan hidup di kota dan berakhir begitu-begitu saja. Tunggu. Kau harus baca. Aku akan memulainya dengan antrian panjang kendaraan para pekerja yang ingin segera pulang di lampu merah. Lampu merah yang beberapa waktu setelahnya berubah menjadi hijau tapi antrian tidak bergerak sebab dihentikan polisi dan mobil pejabat yang akan segera lewat dari jalan lainnya. Itu-itu saja? Ya, itu-itu saja. Aku berulang mengalaminya dan merasa kesal tidak dapat melakukan apa-apa. Rasa kesal yang kemudian menjadi berlipat-lipat mengetahui orang-orang juga tidak dapat melakukan apa-apa, atau malah terkesan tidak ingin sebab ekspresi mereka menunjukkan seakan tidak sedang terjadi apa-apa.      Tapi tidak, petang itu. Dari jalan Ciliwung, lampu merah berubah jadi hijau. Antrian kendaraan tidak bergerak, tapi mesinnya menderu-deru. Tiga polisi menghentikannya, mengayun-ayunkan stick berlampu. Jelas mobil pejabat akan lewat. ...

Sejenak Menjadi Orang Paling Bahagia

sirene ambulans tanpa pasien meraung-raung mobil-mobil plat merah dan hijau mau tidak mau harus merendahkan harga dirinya beberapa kali aku merasa seperti pahlawan setelah terpaksa kuhentikan kendaraanku dan kupersilakan kendaraan lain lewat pertanyaan kulontarkan sebelum menguap bersama umpatan dan bising klakson mengapa di jalanan orang-orang mempertontonkan kuasa dan kebebasannya meyakini keputusan-keputusannya memperjuangkan hak-haknya tapi sepulangnya kembali menangis pasrah menerima nasib? kecemasan dan penderitaan kegagalan kehidupan hasrat yang sia-sia sejenak aku menjadi orang paling bahagia di tengah kemacetan jalan raya tak ada yang harus diharapkan sampai aku tak ingat untuk melihat jam tangan dan mungkin, aku punya lebih banyak waktu untuk memahami mereka *** Surabaya, 30 November 2017 Untuk adik-adikku Teater Rumpun Padi

Naik Pangkat

Ibu menyuruhku untuk belajar sehabis maghrib lalu tidur pukul sembilan Ibu akan memukul bokongku dengan penebah kalau aku terlambat pulang setelah bermain atau kalau nilai rapotku jelek atau kalau malam-malam mencuri waktu untuk menonton tv  Ibu sering menangis dan berkata padaku untuk jangan pernah menangis Ibu mengajarkanku tentang kehormatan cara memandang, bicara, berjalan dan berlaku sehormat-hormatnya Ibu sedikit bicara dan mengajarkanku tentang keyakinan memberikan pemahaman agar aku patuh dan tidak banyak bertanya Ibu membela sepenuh hati saat aku dihajar anak tetangga Berdiri dengan kekuatanku sendiri, takkan kuterima apa-apa yang mengancam keutuhan bangsa Ibu pernah menamparku saat aku berbohong telah kuhajar pula, ketika mereka memaki dan berteriak gila mengakui apa yang bukan haknya Ibu adalah orang yang ikhlas aku tidak begitu simpati pada mereka yang tersedu-sedu berpisah dengan anggota keluarganya Ibu pernah mengajarkan aku untuk tegar air mat...