Langsung ke konten utama

TAK TERSAMPAIKAN

Cerpen pertama saya. hehehe capek juga bikin cerpen.

-----------------------------------------------------------------------

Jam menunjukkan pukul 3 pagi

"Assalamualaikum..."
"PLAAKKKK!!!"
salam dibalas tamparan dari ayah Sugeng. Pipi Sugeng memerah marah. Menahan.
"Semakin dewasa semakin liar ! Setiap malam kau pulang jam segini.. Mau jadi apa ?
Apa kau tak malu dengan ayahmu ini ?
Apa yang kau lakukan setiap malam, anak bodoh ?!!"

Sugeng tak menjawab. Kini matanya yang memerah marah. Nafas dari mulutnya tersengal-sengal menyebar aroma alkohol kuat, alkohol yang baru saja ditenggaknya sebelum pulang.

"PLAKKK !!"
tamparan kedua ayah Sugeng setelah mencium bau alkohol
"Bagaimana orang tuamu ini !
Bagaimana kelanjutan kuliahmu ?! Masa depanmu ?!
kau terus-terusan menyusahkanku !
Ayah yakin kau sudah hidup bersama obat-obatan !
Kau memalukanku Sugeng !
Bodoh !!"

Sugeng kembali tak menjawab. Ia berjalan gontai menuju kamarnya yang hitam, seperti hatinya. Ayahnya menahan amarah, sedikit rasa bersalah setelah menampar anaknya.

"ah, lelahnya.."
Gumam sugeng membaringkan badannya di kasur lusuh dan bau pipis kucing. Ditatapnya langit-langit kamarnya, sedikit disilaukan neon redup. 1 menit, 3 menit, 5 menit, hingga 30 menit sugeng terdiam menatap atas. Tak terasa, air mata itu mengalir ke pipi Sugeng. Hangat. Segera diusapnya air mata itu dengan lengannya yang penuh tattoo tidak jelas.

"kenapa aku harus menangis..."

Sugeng tertidur, ditemani lagu-lagu dari Marduk yang silih berganti keluar dari sound bobrok Sugeng. Vokal kasar khas black metal Marduk tak mempengaruhi Sugeng yang sudah mengantuk.

***

Kejadian seperti itu tak hanya terjadi malam tadi. Setiap hari seperti itu. Pukulan dan tamparan ia terima tiap ia berbuat kesalahan.
Sugeng adalah remaja yang tumbuh dengan latar belakang keras. Ibunya telah tiada saat ia berumur 2 tahun, dan ia dididik oleh ayahnya yang berwatak keras. Sugeng juga terlahir di keluarga ekonomi menengah ke bawah. Pekerjaan ayahnya hanyalah penjual VCD bajakan di emperan toko. Seringkali ayahnya kesulitan memberi makan Sugeng.
Semua itu membuata Sugeng berbeda dari remaja lain.

" Ini tempatku. Teater dan underground adalah tempatku. Rumah keduaku. Keluarga keduaku.
Disinilah aku harus meraih cita-cita.
Aku benci pelajaran. Aku benci angka. Semua itu pemaksaan. Semua itu hanya budaya tidak jelas. Percayalah padaku ayah !
Aku yakin itu benar !!"

Kata-kata sugeng itu terus terngiang-ngiang di kuping ayah Sugeng. Ciri khas remaja labil. Beliau khawatir tentang masa depan Sugeng. Seni jelas tidak menjanjikan kesejahteraan manusia. Apalagi Underground. Bagi orang awam, Underground sangat dekat dengan kekerasan dan banyak unsur negatif. jelas.

Ayahnya merasa, setiap hari ia dibuat frustasi oleh kelakuan Sugeng. Sia-sia ia menyekolahkan Sugeng kalau hasilnya seperti ini. Hanya ada kalimat putus asa. Sugeng tak akan bisa jadi penerusnya, menurutnya. Ayah Sugeng sangat menyayangi Sugeng, karena Sugeng anak tunggal. Tapi semua ini membuat ayahnya amat frustasi, hingga pernah ayah Sugeng berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Apa guna hidupnya jika tak dapat mendidik anak.

Sekarang Sugeng. Sebenarnya sugeng anak baik. Pemikirannya amat dewasa, dan mungkin sedikit tak dapat mengendalikannya. Tujuan hidupnya benar-benar ingin membahagiakan ayahnya dan ibunya, seperti remaja lain. Tapi semua itu dikalahkan oleh budaya. Budaya eksak yang selalu menguasai perjalan hidup seseorang, eksak yang memenjarakan bakat setiap orang, eksak yang menentukan kesejahteraan orang di masa depan. Sugeng tak terima dengan itu. Sugeng tetap dalam jalur yang ia cintai, terus berontak melawan "fakta" yang ada. Semua yang Sugeng lakukan hanya bertujuan 1, menyenangkan orang tuanya. Namun tidak pernah terealisasi sampai sekarang.

***

Hari ini hari ulang tahun ayah Sugeng. Sugeng selalu ingat, dan hari ini Sugeng ingin memberi kado untuk ayahnya. Pagi hari, Sugeng sengaja tidak mengucapkan selamat ulang tahun karena ingin memberikan Surprise pada ayahnya.

"Yah, aku berangkat kuliah."
"Ya"

Jawab ayahnya singkat, pusing dengan kehidupannya yang memuakkan ini.

Sugeng berjalan dengan semangat, namun tidak ke arah kampusnya, melainkan menuju ke toko kue. Jaraknya kurang lebih 8 kilometer, sugeng tempuh dengan berjalan.

"Mbak, pesan kue tart yang ukuran tanggung mbak."
Kata Sugeng pada seorang karyawan yang masih menyapu latar toko kue. Mukanya agak takut melihat Sugeng, yang penuh tattoo di tangannya, dan mukanya agak garang.

"sebentar ya mas"

10 menit berlalu.
"Mau pesan apa mas tadi ?"
"pesan kue tart yang ukuran tanggung mbak."
"hmm, 6 jam mas jadinya. adonan sudah jadi, tapi diovennya agak lama. Belum menghiasnya mas."
"gak papa mbak, saya tunggu. Sampai kapanpun saya tunggu mbak."
"Baik, tunggu ya mas, mas bisa keamana dulu gitu mas. Lama lho."

Sugeng menunggu di latar toko. menikmati panas pagi. Lagu-lagu cadas ia putar dari HPnya, agak mengganggu orang yang lewat toko itu.

***

Telepon ayah Sugeng berdering.

"Halo ?"
"Apa benar ini bapak Hartono, ayah Sugeng Dwi Satria?"
"Benar, pak. Ini dengan siapa ?"

Hati ayah Sugeng berdegup. Ada apa dengan anaknya? baru kali ini ada telepon yang menanyakan sesuatu berhubungan dengan Sugeng.

"Begini Pak, langsung saja ya. Anak anda sudah 2 bulan tidak masuk kuliah. Pihak kami sudah memberikan peringatan pada Sugeng lewat surat tertulis, namun tak pernah ada respon. Apa yang dilakukan Sugeng pak? Bagaiman kerja anda sebagai orang tuanya? kami tidak pernah bermaksud menyinggung pak."

"Anak saya selalu pamit kuliah pada saya pak!"

"apapun alasannya pak. Universitas kami universitas yang amat disiplin. Kalau memang anak anda tetap tidak ada perkembangan, pihak kami tidak akan memberi kesempatan lagi. Anak anda kami Drop Out. Kami tidak membutuhkan mahasiswa seperti anak anda."

Ayah Sugeng langsung mematikan Hpnya. Terdiam, Matanya berlinang. Hatinya  terus berdegup. Pikirannya berkecamuk. Marah, Sedih, menyesal, bercampur menjadi satu. Semuanya memuncak, bak gunung yang bergetar dan memuntahkan lava panas.

Apa yang dilakukan anakku.. Kenapa seperti ini..
gagalkah aku menjadi ayah yang baik ?
bencikah ia padaku ?
kenapa ia terus berbohong padaku ?
kenapa anak itu selalu menyusahkanku ?
salah siapa ini ?
salahku kah ?

Ayah Sugeng pulang. Pekerjaan hari ini ditinggalkannya.

***

"mas, kuenya sudah jadi. Mas.. mas !"

Sugeng yang tertidur tersentak dan kaget.

"oh.. iya mbak. maaf ketiduran. Sudah jadi mbak ? berapa semuanya ?"
"Totalnya 160.000 mas."
"Waduh mbak, uang saya hanya 50.000. Waduh.."
"waduh gimana mas?"
"Gini aja mbak. HP saya mbak bawa. Ambil saja sudah mbak. untuk melunasi semua."
"hmmm, gimana ya mas, yasudah deh. Tidak apa-apa.

berkorban sekali mas? hahaha. Untuk pacarnya ya mas? pasti senang pacarnya mas."

Sugeng tersenyum.

"untuk ayahku mbak. Hari ini beliau ulang tahun. Sekali-kali aku ingin menyenangkannya. tidak menyusahkannya terus mbak. Ayah sangat sayang padaku. Sangat lembut mbak. Aku ingin membalasnya."
"Wah, mas ini. Tattooan tapi sayang orang tua. Bagus deh mas. Salam ke Ayahnya ya mas."

" Ya mbak. Jangan lupa dibungkus yang baik mbak. Aku ingin semuanya berkesan."

Sugeng berjalan cepat. Tidak biasanya ia sesemangat ini. Ia merasa sangat bahagia, angan-angannya terbang tinggi, membayangkan apa yang akan terhadi nanti. Apakah ayahnya akan mencium keningnya, ataukah tersenyum lebar dan mengajaknya makan malam ?



Hari sudah sore. Rumah Sugeng sepi saat Sugeng datang, dan pagar tidak terkunci.

"mungkin ayah sudah pulang.. Surpriseku akan semakin cepat. Yess!"

Sugeng Tersenyum lebar dan segera masuk pintu rumah.

"Assalamualaikum.."

Tak ada jawaban. Tapi Tas dan sandal ayah Sugeng tergeletak diruang tamu. Berarti beliau sudah pulang.

"ayah ? Ayah ?"

kembali tidak ada jawaban.

Sugeng mencari diseluruh rumah. Tapi tak menemukan ayahnya. Lalu ia mendatangi kamar ayahnya. Terkunci.

"ayah ? ayah di dalam ? Yah? Ayah?"

Tidak ada suara. Apa mungkin ayah tidur? Panggilan Sugeng semakin keras, di tangannya memegang kardus kue tart yang sudah dihias indah. Tetap tidak ada jawaban.
Hati sugeng mulai gelisah. dimana ayahnya. Tas dan sandal ada, namun orangnya tidak ada. dimana ayah?

Setengah jam Sugeng menunggu. Tidak ada perubahan.

Pintu kamar ayahnya terkunci. Apa ayah di dalam ? Semakin gelisah saja sugeng. Tapi ia tetap positif thinking. Mungkin ayah tertidur pulas, karena kecapekan.
Karena tidak sabar, akhirnya Sugeng mendobrak pintu ayahnya.

"Brakkk !!!!". Pintu bobrok kamar ayahnya terbuka.

"AYYAAAAAAHHHH !!! AYAAAH !!! AYAH !!!"

Kue tartnya terjatuh sia-sia. Kue tart yang dihias sepenuh hati untuk kebahagiaan sang ayah, rusak begitu saja. Rasa kaget yang luar biasa, dan kesedihan yang tak dapat tergambarkan. Sugeng mendapati ayahnya tak bernafas lagi, perutnya penuh darah, dan di tangan kanannya masih menggenggam pisau dapur. Ayahnya bunuh diri.

"AYAHH ! BANGUN AYAH !"

Sugeng memeluk ayahnya tak percaya ayahnya mati. Rasa Sedih sesal yang sangat mendalam tak terkira.
Ini adalah ulang tahun ayahnya. Semua angannya hilang, yang ingin dikecup keningnya oleh ayah, ingin makan malam bersama ayah. semua hilang. hilang dalam hitungan detik. Air mata terus berlinang dari mata Sugeng, hangat menetes ke muka sang ayah. Kini Sugeng sendiri.

"Ayaaahhh.." Sugeng terus menjerit marah, sedih, berkecamuk. Sesalnya membungkus aura sore itu. Sampai tetangganya mendengar dan akhirnya memanggil ambulans.

"Ayaaah. Aku sayang ayaaah !!!" jeritan terakhir Sugeng saat jasad ayahnya dibawa petugas.

***

2 minggu setelah pemakaman ayahnya, Sugeng terus mengurung diri di rumah. Sugeng tak pernah bicara sepatah katapun. Sugeng makan hanya dari kiriman tetangga yang prihatin. Mungkin hanya 1x sehari. Tidak ada acara mengirim Do'a dan lain-lain.
Malam yang dingin, tak sengaja Sugeng membuka buku catatannya, yang lama ia isi dengan lirik-lirik kasar band metalnya. Sugeng menangis lagi. Tak tertahan saat ia membaca sedikit tulisan yang ia goreskan dulu.

"Ayah..
maafkan aku..
ingin rasanya, ayah mengerti aku..
maafkan aku..

ingin rasanya,
aku pulang ke rumah,
tidak membawa rasa amarah dan kekhawatiran..

ingin,
aku pulang,
dengan bangga, membawa suatu penghargaan..
bukan uang..
Suatu penghargaan
yang bisa dipajang diatas TV..
yang bisa dilihat arwah ibu tersayang..
Yang bisa dilihat ayah setiap hari..
yang bisa membuat ayah tersenyum..
yang bisa membuat ayah bangga, memiliki aku sebagai anak..
yang bisa membuat ayah mengerti
apa yang aku lakukan, tidak hanya membuat rusuh..
tapi juga berbuah hasil..

Mungkin sampai sekarang semua belum terjadi..
tapi, selama ayah masih hidup, aku akan berusaha..
Tunggu aku ya ayah..
Tunggu penghargaan itu..
Tunggu..

Aku janji ayah..
Aku janji..
Janji.."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Klakson

     Dugaanmu cerita singkat ini mendeskripsikan penderitaan hidup di kota dan berakhir begitu-begitu saja. Tunggu. Kau harus baca. Aku akan memulainya dengan antrian panjang kendaraan para pekerja yang ingin segera pulang di lampu merah. Lampu merah yang beberapa waktu setelahnya berubah menjadi hijau tapi antrian tidak bergerak sebab dihentikan polisi dan mobil pejabat yang akan segera lewat dari jalan lainnya. Itu-itu saja? Ya, itu-itu saja. Aku berulang mengalaminya dan merasa kesal tidak dapat melakukan apa-apa. Rasa kesal yang kemudian menjadi berlipat-lipat mengetahui orang-orang juga tidak dapat melakukan apa-apa, atau malah terkesan tidak ingin sebab ekspresi mereka menunjukkan seakan tidak sedang terjadi apa-apa.      Tapi tidak, petang itu. Dari jalan Ciliwung, lampu merah berubah jadi hijau. Antrian kendaraan tidak bergerak, tapi mesinnya menderu-deru. Tiga polisi menghentikannya, mengayun-ayunkan stick berlampu. Jelas mobil pejabat akan lewat. ...

Buku: Kukila - M Aan Mansyur

"Brengsek!", kataku usai membaca 'Aku Selalu Bangun Lebih Pagi'. Aku berhadapan lagi dengan karangan Aan, yang memang seringkali membuatku mengumpat. Gejolak masa muda, ciuman, perselingkuhan, pulang kampung saat lebaran, dan kisah sederhana-rumit-dewasa lain ada dalam kumcer Kukila. Begitu harmonis perpaduan antara; tema aktual yang diusung, unsur kedaerahan Aan, cerita yang pilu (atau lucu, atau brengsek, atau mengejutkan), dan jalinan kata mind-blowing khas Aan. Tidak jarang pula ceritanya memaksaku merenung atau berdiskusi dengan diri sendiri, menghasilkan kesadaran dan upaya memahami, menghindari penilaian-penilaian. Menjadi sorotan utama kumcer ini, cerpen Kukila itu sendiri. Memakan puluhan halaman di awal, jauh lebih panjang dari 15 cerpen lainnya. Cerita cinta penuh misteri dan kejutan, alurnya mengalir nikmat, mengantarku pada kenyataan, pelajaran tentang kemanusiaan. Aku selalu mengagumi bagaimana Aan membaca kejadian/momen dengan begitu detail, dan ke...