Langsung ke konten utama

Patriot dalam Kesendirian yang Tiada Batas

Naskah ini dibuat oleh teman saya, vokalis band (ROCK IT NOW) dan juga mencintai seni, AGGA DYWIKA ROBBIANTAMA. Tulisannya sangat lugas dan bagus menurut saya. Silahkan membaca.

***

Saat itu bulan purnama datang...
menyinari alam desaku yang kucintai...
tiba-tiba...
Suara komandan berteriak lantang menggema menembus dinginnya alam....
dan diapun berteriak dengan lantang....."KITA HARUS MENGUSIR PARA ANTEK-ANTEK BELANDA"
akupun hanya bisa membisu terdiam mendengarkan perintah yang tak bisa kutolak...
perang batinpun terjadi dalam hatiku...
hanya ada 2 kemungkinan untuk perintah ini...
hidup sebagai seorang patriot atau hidup sebagai seorang pecundang...

Setelah mendengarkan perintah itu,,kubawa diriku tuk berlari menuju sebuah gubuk reot di pinggir desa...
nafasku masih terengah-terngah,kuberanikan diri tuk mengetok pintu kecil yang ada di depan mataku...
sebelum aku mengetok pintu itu..tiba2 pintu itu terbuka dengan sendirinya..dan kulihat sebuah paras ayu nan elok menyapaku dengan senyum khasnya...

"Kang mas sudah pulang, bagaimana hasil rapat dengan komandan?"
pertanyaan itu bagaikan sebilah golok yang dihujamkan langsung ke jantungku...
harus ku jawab apa...keningku berkeringat dengan derasnya...kuberanikan diri tuk menjawab..
"Tidak ada apa2 ni mas, kang mas hanya kecapekan saja...Ni mas mungkin bsog kang mas akan pergi untuk...untuk...untuk berperang" sulit rasanya mulut ini sperti terkerangkeng dalam jeruji untuk mengucapkan kata berperang...
"Begitu ya..ni mas hanya bisa berdoa untuk keselamatan kang mas...dan kang mas mampu mengusir penjajah itu dari bumi pertiwi ini" ucapan itu serasa memberikanku suntikan smangat dan lega rasanya saat istriku yang baru kunikahi ini memberikan jalan untuk suaminya sebagai seorang patriot bangsa dalam menjalankan kewajibannya.....

Keeseokan harinya....

Pagi hari datang dengan cepatnya, suara ayam berkokok laiaknya terompet peperangan yang telah berbunyi peringatan bagi kami para patriot bangsa...
Kulihat bidadariku masih terbaring dengan nyenyak, kuambil selaras senapanku, tak lupa sebilah bambu runcing menemani punggungku dengan setia...
Pada hari itu kami berangkat menuju medan pertempuran...
tepat saat dhuhur telah tiba...saat saat diamana kelelahan melanda para penjajah...
kamipun segera keluar dari sarang persembunyiann kami...dan...

Perang pun terjadi....

Suara desingan peluru berlalu lalang di telingaku....
suara meriam memborbardir semua keadaan disekitarku...
yang kupikirkan hanyalah berjuang dan selamat pulang sampai kerumah...
korbanpun tak dapat dihindari...
darah seakan membentuk suatu kolam kecil....
mayat mayat seakan membuat suatu jalan...
tak tega rasanya hati ini harus melihat, merasakan, apa yang terjadi.....
tapi perang tetaplah perang....
dan....KEMENANGAN TELAH BERPIHAK PADA KAMI....
Akupun berteriak "TERIMA KASIH YA ALLAH..!!!!!"
kamipun segera pulang ke desa kami tercinta...
saat kami telah sampai...

Keadaan telah berubah...

Abu hitam diamana mana....
mayat-mayat telah tertidur dengan tatapan mata yang kosong....
bercak darah...tak bisa dielakkan lagi....
anak-anak..menangis ketakutkan ..menjerit tak karuan...
siapa yang melakukan perbuatan keji ini.....pikiranku langusng membuatku untuk segera berlari ke gubuk kecilku....
dan saat kubuka pintu itu....

barang-barangku telah hancur dimana mana.....
darah mengalir tak beraturan....
aku langusng berlari menuju kamar kecil di depan mataku...
dan kulihat.....

Kekasihku....bajunya telah tersobek sana sini....
rambutnya sudah berantakan....
banyak luka memar disekujur tubuhnya....
dia...dia...dia sudah diperkosa........
"BAJINGAN MANA YANG TELAH MEMBUAT ISTRIKU SEPERTI INI!!!!!!"
Kuangkat tubuhnya, kutatap kedua bola matanya....dan akupun berkata..
"ni mas,,,ini kang mas...bangun ni mas...??"
suara pelan mendesah menjawab panggilannku...
"kang mas...kang mas selamat....kang mas menang khan...uhuk uhuk...??kulihat batuk darah telah keluar dari mulutnya...
"ni mas...siapa yang melakukan ini...katakan ni mas...?" kebencian,kekesalan,kesedihan semua bercampur aduk..saat aku harus menantap kedua bola matanya yang menggambarkan betapa ia disiksa dengan kejamnya....
"kang mas,,sudah lah..uhuk..mungkin ini sudah takdir ni mas...uhuk uhuk..ni mas tidak bisa lebih lama lagi dari ini...uhuk..ni mas hanya ingin mengucapakn,, NI MAS SYANG ....uhuk DAN.... CINTA ....KANG MAS SAMPAI KAPANPUN uhuk,,Ni mas akan selalu ada untuk kang ma.ss.ss.ss.........."tatapan matanya telah kosong....kuraba denyut nadinya..dan...tidak ada denyut nadi yang berdegup di dalam kulit halusnya....
saat itu aku hanya bisa berteriak..........berteriak kepada tuhan.....

BUAT APA KEMENANGAN....
BUAT APA PERJUANGAN....
BUAT APA PERTEMPURAN...
JIKA DARAH YANG TELAH KUTUMPAHKAN....
HARUS DIBALAS DENGAN TUMPAHAN DARAH ORANG YANG AKU CINTAI....

BUAT APA KESENANGAN...
BUAT APA KESENDIRIAN...
BUAT APA KESEDIHAN....
JIKA KAU HARUS MEREBUT,MENGAMBIL,MERAMPAS, ORANG YANG PALING AKU SAYANG...
KENAPA KAU TIDAK MENGAMBIL NYAWAKU...
NYAWA YANG TELAH MEMBUNUH RATUSAN ORANG....
DENGAN TANGANKU YANG KOTOR INI....

cinta ni mas tak akan pernah tergntikan dalam hatiku....
saat ini aku memang seorang patriot, tapi aku...adalah...

"Patriot dalam Kesendirian yang Tiada Batas"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan: Ibu dan Perempuan-Perempuan Lainnya

     Kabar dari ibu sungguh merusak pagi. Pekerjaan bapak adalah dokter gigi, dan sudah dua bulan jarang datang ke poli karena pandemi. Aktivitasnya hanya menangani keadaan-keadaan darurat, seperti halnya subuh tadi ia tergopoh-gopoh berangkat untuk menjalankan operasi. "Rumah sakit menghubungi. Salah seorang mahasiswi yang diampu bapak masuk UGD. Ia dihajar pacarnya sampai patah tulang rahang. Barangkali remuk".      Aku menggigil seketika. Mikrofon ponsel kujejali sumpah serapah, pada satu kesempatan marah-marah sebab mengetahui sekali lagi praktik kekerasan dalam sebuah hubungan. "Kira-kira terjadi masalah apa, sampai laki-lakinya kesetanan menghajar begitu?", tanya ibu. Tidak! Tidak tentang permasalahan yang sedang mereka berdua alami, tidak pula tentang ikut campur setan dalam kejadian ini! Sungguh identitas gender membuat bangsat itu merasa berhak mendominasi, punya kontrol atas pasangannya, berujung kekerasan pada akhirnya. Sungguh rapuh dan memalu...

Rumah yang Muram

"Nanang masih seperti itu, Dik Narno?", kataku berbisik-bisik, khawatir terdengar dari kamar. "Sudah lebih baik Mas Har. Sudah banyak makan dan banyak bicara padaku di saat tertentu. Tapi kalau tidak ada siapa-siapa yang ngajak bicara ya dia tetap memilih di kamar."  " Woh , pernah mbahas nikah?" "Ya ndak pernah. Dia ya berusaha melupakan dan goblok juga kalau aku mengungkit lagi. Masak aku tanya 'sudah melupakan belum?', kan ya ndak mungkin. Kalau sudah marah bahaya." "Ya jelas, kan nurun Dik Narno." Tawa kita berdua meledak mengisi sepi sebentar. Minggu siang ini, langit kota Blora sedang mendung. Tak banyak kendaraan sliwar-sliwer memang karakter hari Minggu. Aku berkunjung ke rumah saudara jauh, Narno, setelah mendapat laporan dari mbak ku. Katanya kemarin Narno tidak bisa dihubungi sampai malam hari dan saat di telepon rumah, anaknya mengatakan Narno pergi tanpa bilang apa-apa.  Rumahnya tidak begi...

Klakson

     Dugaanmu cerita singkat ini mendeskripsikan penderitaan hidup di kota dan berakhir begitu-begitu saja. Tunggu. Kau harus baca. Aku akan memulainya dengan antrian panjang kendaraan para pekerja yang ingin segera pulang di lampu merah. Lampu merah yang beberapa waktu setelahnya berubah menjadi hijau tapi antrian tidak bergerak sebab dihentikan polisi dan mobil pejabat yang akan segera lewat dari jalan lainnya. Itu-itu saja? Ya, itu-itu saja. Aku berulang mengalaminya dan merasa kesal tidak dapat melakukan apa-apa. Rasa kesal yang kemudian menjadi berlipat-lipat mengetahui orang-orang juga tidak dapat melakukan apa-apa, atau malah terkesan tidak ingin sebab ekspresi mereka menunjukkan seakan tidak sedang terjadi apa-apa.      Tapi tidak, petang itu. Dari jalan Ciliwung, lampu merah berubah jadi hijau. Antrian kendaraan tidak bergerak, tapi mesinnya menderu-deru. Tiga polisi menghentikannya, mengayun-ayunkan stick berlampu. Jelas mobil pejabat akan lewat. ...