Langsung ke konten utama

AKU MASMU (Poetry)

Ditemani kopi panas dan lelah punggung karena kursi warung yang tak ada sandarannya, sendiri.

***

lalu lalang lampu motor
sedikit pusing
memandang tajam api rokok menyala
lalat-lalat di makanan kemproh
menikmati ketidakadilan dan kepul magic jar
rindu

meneguhkan
menegakkan
menghambat muara dan tak ingin lagi
sedikit pusing
merah yang belum sepenuhnya mengalir
harapan dan kebebasan
seratus delapan puluh derajat
tersenyum
ingin ia mencari cita-cita

terkekeh-kekeh di sebelahnya
batuk tua penuh pengalaman
adalah arti sebuah cinta
satu meter berhadapan pagar kawat
tajam dan sulit

dindaku sayang
biar aku jadi masmu
do'amu hangat tiap malam
mencuat
sebuah dorongannya
menggoreskan lupa dalam bolpoin
luka senyuman
tumpahan kopi

aku merindukanmu
do'akan aku dalam penerimaan
keikhlasan dan kepercayaan
saat jagung menua dan dipanen
Bismillahirrohmanirrohim

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Klakson

     Dugaanmu cerita singkat ini mendeskripsikan penderitaan hidup di kota dan berakhir begitu-begitu saja. Tunggu. Kau harus baca. Aku akan memulainya dengan antrian panjang kendaraan para pekerja yang ingin segera pulang di lampu merah. Lampu merah yang beberapa waktu setelahnya berubah menjadi hijau tapi antrian tidak bergerak sebab dihentikan polisi dan mobil pejabat yang akan segera lewat dari jalan lainnya. Itu-itu saja? Ya, itu-itu saja. Aku berulang mengalaminya dan merasa kesal tidak dapat melakukan apa-apa. Rasa kesal yang kemudian menjadi berlipat-lipat mengetahui orang-orang juga tidak dapat melakukan apa-apa, atau malah terkesan tidak ingin sebab ekspresi mereka menunjukkan seakan tidak sedang terjadi apa-apa.      Tapi tidak, petang itu. Dari jalan Ciliwung, lampu merah berubah jadi hijau. Antrian kendaraan tidak bergerak, tapi mesinnya menderu-deru. Tiga polisi menghentikannya, mengayun-ayunkan stick berlampu. Jelas mobil pejabat akan lewat. ...

Buku: Kukila - M Aan Mansyur

"Brengsek!", kataku usai membaca 'Aku Selalu Bangun Lebih Pagi'. Aku berhadapan lagi dengan karangan Aan, yang memang seringkali membuatku mengumpat. Gejolak masa muda, ciuman, perselingkuhan, pulang kampung saat lebaran, dan kisah sederhana-rumit-dewasa lain ada dalam kumcer Kukila. Begitu harmonis perpaduan antara; tema aktual yang diusung, unsur kedaerahan Aan, cerita yang pilu (atau lucu, atau brengsek, atau mengejutkan), dan jalinan kata mind-blowing khas Aan. Tidak jarang pula ceritanya memaksaku merenung atau berdiskusi dengan diri sendiri, menghasilkan kesadaran dan upaya memahami, menghindari penilaian-penilaian. Menjadi sorotan utama kumcer ini, cerpen Kukila itu sendiri. Memakan puluhan halaman di awal, jauh lebih panjang dari 15 cerpen lainnya. Cerita cinta penuh misteri dan kejutan, alurnya mengalir nikmat, mengantarku pada kenyataan, pelajaran tentang kemanusiaan. Aku selalu mengagumi bagaimana Aan membaca kejadian/momen dengan begitu detail, dan ke...