Langsung ke konten utama

TEATER SINKRON - Happening Art 2

2 April 2011, tepatnya di SMADA HALL, sebuah tempat yang lumayan sempit (harapanku ada gedung yang lebih besar untuk teater, tapi mau bagaimana lagi) TEATER SINKRON mengadakan Happening Art yang sudah kesekian kalinya, setiap tahun SINKRON mengadakan ini . Namun ,happening art kali ini adalah teater pertamaku, karena aku baru diajak oleh SINKRON untuk bermain. Terima kasih banyak ya SINKRON .
Kali ini kita memainkan lakon abima, dan ceritanya SINKRON buat sendiri ..
Semoga gambar-gambar dibawah ini dapat mewakilkan saya dalam menceritakan kisah abima .
DIAWALI OLEH PUISI dari senior SINKRON , MAKTUM
 raja kura
 ABIMA penuh dendam, karena dibuang dawa saat kecil, hingga masuk kura


 Saat abima telah menjadi panglima perang kura, dia kembali bertemu aruna dan bertengkar


 SAAT ABIMA BERPERANG dengan ARUNA



detik detik pembunuhan abima






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Klakson

     Dugaanmu cerita singkat ini mendeskripsikan penderitaan hidup di kota dan berakhir begitu-begitu saja. Tunggu. Kau harus baca. Aku akan memulainya dengan antrian panjang kendaraan para pekerja yang ingin segera pulang di lampu merah. Lampu merah yang beberapa waktu setelahnya berubah menjadi hijau tapi antrian tidak bergerak sebab dihentikan polisi dan mobil pejabat yang akan segera lewat dari jalan lainnya. Itu-itu saja? Ya, itu-itu saja. Aku berulang mengalaminya dan merasa kesal tidak dapat melakukan apa-apa. Rasa kesal yang kemudian menjadi berlipat-lipat mengetahui orang-orang juga tidak dapat melakukan apa-apa, atau malah terkesan tidak ingin sebab ekspresi mereka menunjukkan seakan tidak sedang terjadi apa-apa.      Tapi tidak, petang itu. Dari jalan Ciliwung, lampu merah berubah jadi hijau. Antrian kendaraan tidak bergerak, tapi mesinnya menderu-deru. Tiga polisi menghentikannya, mengayun-ayunkan stick berlampu. Jelas mobil pejabat akan lewat. ...

Buku: Kukila - M Aan Mansyur

"Brengsek!", kataku usai membaca 'Aku Selalu Bangun Lebih Pagi'. Aku berhadapan lagi dengan karangan Aan, yang memang seringkali membuatku mengumpat. Gejolak masa muda, ciuman, perselingkuhan, pulang kampung saat lebaran, dan kisah sederhana-rumit-dewasa lain ada dalam kumcer Kukila. Begitu harmonis perpaduan antara; tema aktual yang diusung, unsur kedaerahan Aan, cerita yang pilu (atau lucu, atau brengsek, atau mengejutkan), dan jalinan kata mind-blowing khas Aan. Tidak jarang pula ceritanya memaksaku merenung atau berdiskusi dengan diri sendiri, menghasilkan kesadaran dan upaya memahami, menghindari penilaian-penilaian. Menjadi sorotan utama kumcer ini, cerpen Kukila itu sendiri. Memakan puluhan halaman di awal, jauh lebih panjang dari 15 cerpen lainnya. Cerita cinta penuh misteri dan kejutan, alurnya mengalir nikmat, mengantarku pada kenyataan, pelajaran tentang kemanusiaan. Aku selalu mengagumi bagaimana Aan membaca kejadian/momen dengan begitu detail, dan ke...